
"Aaaaaaaaaaa." Teriak ku kaget langsung jatuh dari kasur.
Seketika Toby membuka pintu dan dengan cepat menolongku yang ada di lantai. Kepalaku sedikit sakit karna kejedot, dan lagi muka Toby khawatir dan kebingungan.
"Kenapa bisa sampai jatuh? " Tanya nya sambil mengendongku kembali ke kasur.
Aku yang menolak di gendong tak bisa berkutik lagi karna Toby marah. Dia langsung sigap mengoleskan minyak ke dahiku dan tetap mengoceh khawatir, aku hanya diam saja sambil berpikir, kenapa bisa aku melihat Asmirah dalam wujud yang menyeramkan, sangat menyeramkan sampai aku tak bisa mendeskripsikan nya. Apakah aku harus cerita ke Toby dan Ana ataukah aku diam saja dan melihat cerita dunia nyata lebih dulu selama aku tinggal ke dunia lalu.
"Kamu mimpi apa? " Tanya Toby.
"Aku gatau mimpi apa, kepalaku pusing saja." Jawabku bingung.
"Saja? baku banget nih tumben. " Ucap Toby meledek.
"Dahlah.. lupain, aku mau bersiap kerja. " Kataku sambil bangun.
"Stop. Diam di rumah istirahat baik-baik. " Ucapnya dengan lantang.
Antara kesal dan males komen, dia langsung pergi bersiap kerja, sedangkan aku masih baring karna males ngelakuin apapun. Tiba-tiba Ana telfon menanyakan kabar karna aku hanya membaca chatnya. Aku meminta maaf dan meminta dia datang kerumah tanpa perlu teman yang lain tahu. Tak lama Ana datang dan memintaku bercerita dengan cepat karna dia hanya pamit ke anak kantor sebentar.
Aku menceritakan semuanya kalau aku merasa berbulan-bulan ada di masa lalu dan aku masuk ke tubuh Amini, menjadi Amini berbulan-bulan dan ternyata ketika kembali aku hanya pingsan bukan koma. Ana kaget dengan ceritaku yang begitu detail, aku menceritakan sedetail mungkin apapun yang aku alami di masa lalu. Respon Ana antara takut dan bingung, terlebih dia bersyukur karna aku bisa kembali ke tubuh asliku, Ana masih belum bisa memastikan apa yang terjadi padaku, dan untuk sementara dia melarangku untuk cerita ke yang lain nya, menghindari panik dan kecemasan karna kita lagi di masa tenang, dimana keadaan yang mencekam sudah berlalu.
"Oke ca.. untuk sementara istirahat aja, kerjaanmu kerjain dirumah aja, Toby udah kasih tau anak-anak juga, jangan lupa cek email karna mungkin dah ada yang masuk kerjaanmu. Jangan kosong pikiran dan jika masih terlihat Asmirah atau siapapun itu lebih baik cuekin aja, nanti dia akan jera sendiri, dan.... aku akan mencari tahu apakah kasus pembunuhan itu sudah diketahui oleh keluarganya apa belum, harusnya berdampak sesuatu dong kalau kamu pergi ke masa lalu. " Ucap Ana dengan muka serius.
"Iya.. harusnya ada sesuatu yang berubah. " Jawabku sambil berpikir.
"Eh.. gimana itu kakek moyang Roy? kamu ga ngerubah dia jadi suami Amini kan? " Tanya Ana.
"Gak lah, kasian Roy entar. Aku membiarkan sesuai kisah aslinya. " Jawabku.
"Oke, nice... aku balik kantor dulu yaaa, " ucap Ana sambil berlalu pergi.
Kira-kira Ana akan mencari tahu ke siapa yaa, dan aku juga tak ingin membuat yang lain khawatir, tapi membiarkan Ana mencari tahu sendiri juga kasihan. Ah aku harus bekerja agar tak kosong, aku harus bekerja pokoknya bekerja. Aku bekerja sampai lupa kalau aku belum makan dan berjalan ke dapur ternyata Toby sudah menyiapkan bubur ayam, pasti dia pergi membelinya pagi-pagi, karna kalau siang sedikit sudah habis. Aku menyantap makanan dengan lahap dan kaget karna layar laptop ku seperti ada bayangan orang di belakang, saat aku menengok ke belakang ternyata bapak.
__ADS_1
"Ah .. bikin kaget aja si bapak? " Ucap ku kesal.
"Bapak hanya ingin memberi surprise. " Jawab bapak sambil memberi brownies kesukaanku.
"Thankyou pak, " ucap ku sambil membuka brownies nya.
"Kamu gimana badan nya nduk? " Tanya bapak.
"Dah mendingan kok, bapak kenapa baik aja kan? " Tanyaku.
"Baik, di makan browniesnya, bapak mau mandi terus tidur, ngantuk banget. " Ucap bapak.
"Bapak gak makan dulu? " Tanyaku.
"Bapak dah makan, " jawab bapak.
Begitulah bapakku, karna bekerja di suatu perusahaan arsitektur sebagai principal architect, sangat sibuk dan semua itu bisa di pahami, makanya bapak juga mengerti pekerjaanku dan sebaliknya, jarang ada larangan di larang keluar malam, di larang ini itu, bapak memang cukup bebas dan gaul banget, makanya temen-temen sama bapakku sudah berasa menjadi sahabat.
Aku melanjutkan pekerjaanku dengan tenang dan damai, zoom meeting, menulis, menggambar, mendesain, sampai lupa waktu, ternyata hari sudah gelap.
"Maaf pak, aku lupa waktu, lagi asyik dengan deadline. " Jawabku sambil duduk di meja makan.
"Kerja sih kerja, tapi gak gitu juga dong... " Ucap bapak meledek.
"Alah... bapak juga samaa donggg... " Jawabku sambil tertawa.
Lalu Toby datang.
"Malam om, maaf langsung masuk. " Ucap Toby yang kaget karna bapak sudah pulang.
"Gapapa, ayo ikut makan. " Jawab bapak.
"Iya om. " Balas Toby.
__ADS_1
"Kamu gimana kerja nya? " tanya bapak.
"Baik om, aman dan cukup tabungan untuk menikah. " Jawab Toby sambil malu-malu.
"Loh! kamu jadi nikahin anakku? " Tanya bapak sok serius.
"Iya om tentu saja. " Jawab Toby tegas.
Lalu bapak dan aku tertawa ngakak melihat respon Toby dan dia tidak tahu kalau lagi dikerjain.
"Bapak dengar, kamu membangun rumah sekaligus kantor atas nama Aca? " Tanya bapak.
"Iya om. " Jawab Toby.
"Kenapa ? " Tanya bapak lagi.
"Untuk mas kawin om, karna Aca suka lembur dan memimpikan kantor yang bisa dijadikan basecamp maka saya membuat rumah dan kantor berdampingan. " Jawab Toby lancar.
"Gentleman sekali kamu, lalu saya tinggal sendirian dong disini? " Tanya bapak.
"Tidak om, jika berkenan om juga pulang saja kerumah kami. " Jawab Toby.
"Tapi bapak tidak suka rumah yang bising dan lebih menyukai ketenangan, rumah sekaligus kantor pasti rame. " Ucap bapak.
"Tidak om, dipastikan desain nya sangat aman, kantor ya kantor tetapi rumah tetap private. " Jawab Toby.
"Hmmm.. kamu yakin? kamu lupa bapak kerjanya ngapain? " Tanya bapak.
"Hmm.. astaga, om kan kepala arsitek, mampus aku " ucap Toby pelan.
Dan lagi, aku dan bapak tertawa terbahak-bahak, bisa aja bapak bikin Toby panik sendiri, padahal desain juga dia ambil dari sketch book ku, dia juga tidak tahu antara bapak serius atau becanda, jadinya muka panik deh.
Ternyata, hal paling penting dan nyaman adalah rumah, entah rumah pribadi ataupun sewa, pokoknya adalah tempat dimana kita bisa pulang, tempat nyaman untuk berkeluh, tempat nyaman untuk berbagi kasih. Hangat rumah adalah segalanya, hangat seorang bapak yang bekerja dengan lelah dan kembali pulang kekeluarga nya tercinta. Sama sepertiku rumah dan bapak adalah rumahku pulang, mungkin Toby juga menganggapku rumahnya, mangkanya dia selalu ada di manapun aku berada.
__ADS_1
Mungkin juga bagi pak Broto rumah beliau adalah keluarga, berkumpul dengan keluarganya di rumah yang susah payah beliau bangun, mangkanya dia ingin semua keluarganya saat berpulang tetap berada di rumah. Atau pak Broto ingin mengikat tali kekeluargaan secara kuat sampai maut memisahkan tapi saat perpisahan itu datang, beliau tak ingin berpisah tapi tetap bersama dalam kematian.