
Semenjak kejadian ciuman itu aku jarang untuk bisa menatap mata Aca karna entah mengapa terasa sangat canggung dan kami pun memulai hari-hari seperti biasa hanya saja memang canggung dan yang peka adalah Ana, dia sampai menanyakan kepadaku apakah aku dan Aca sedang berantem, atau adakah sesuatu yang terjadi. Aku bingung harus menjawabnya bagaimana, tapi aku hanya jawab kalau sedang sibuk masing-masing aja jadi gaada berantem, biar Aca ngerasain rindu denganku, karna selama ini hanya aku yang mengejarnya, menanyainya dan dia hanya menerima, entah mengapa aku pengen sekali dibalas karna dia sama sekali tak pernah bilang kalau dia juga menyukaiku.
Ana hanya geleng-geleng kepala gara-gara aku ingin dirindukan Aca, dia menyuruhku untuk ngomong lah jangan begini nanti Acanya malah salah paham dan makin rumit hanya karna kangen aja.
“Kalian ini ya bener-bener, dah gede juga.” Ujar Ana.
“Ya gimana lagi pengen banget ngerasain dia peka dan kangen aku karna tak ada aku di lingkupnya.” Jawabku.
“Mungkin ini juga jadi alasanku untuk tidak menjalin hubungan dulu.” Jawab Ana.
“Kenapa na? Kau kan cakep banyak loh laki-laki yang suka.” Ujarku.
“Gatau, males aja punya suatu ikatan itu memusingkan, ribet,” jawabnya kesal.
“Ya jangan liat hubunganku, lihatlah Kris yang happy itu, hubunganku emang awalnya belum berjalan mulus tapi kelak pasti happy ending.” Jawabku sambil meyakinkan diri.
“Ya tau, aku ngeliat kondisi keluargaku sendiri aja, hubungan suami istri orang tuaku yang gak baik, gimana ibuku yang struggle sendiri untuk mempertahankan rumah tangga sedangkan ayahku yang asik dengan dunianya sendiri, egois dan pecundang.” Jawabnya kesal berbicara sambil matanya berkaca-kaca.
“Sekarang ayahmu ada dimana ?” tanyaku.
“Tuh balik ke kampungnya entah apa yang diurusnya disana, ber gembala kambing dia disana.” Jawabnya ketus.
“Kau gak pernah tanya kabarnya atau menghubunginya?” tanyaku.
__ADS_1
“Buat apa? Orang egois kek gitu, gak pernah mikirin perasaan ibuku dari dulu, cheating dengan orang lain seenaknya, gak pulang kerumah karna sudah tak cinta dengan ibuku. Lantas dengan kek gitu berarti dia juga membuang anaknya.” Jawab Ana dengan nada marah dan bergetar.
“Ibumu gimana ? apa beliau masih berhubungan ?” tanyaku.
“Ibuku hanya dianggap orang gila sama dia, hanya karna memang keluarga ibu kebanyakan bisa melihat makhluk lain, dan ayah yang tak percaya dengan itu semua, gak ada tuh namanya rindu, kakakku juga udah pernah ngomong ke ayah untuk pulang saja karna sudah tua, disini kan enak ada anak cucunya. Eh malah aneh, ah entahlah mungkin dia disana punya istri muda.” Jawab Ana sangat menahan emosinya.
“Dan hal itu bikin kau gak mau punya hubungan ? tapi kakakmu juga baru melahirkan kan?” tanyaku.
“Kakakku berusaha keras untuk memaafkan dan melupakan segala trauma, karna dia kan yang paling tau sebenarnya gimana anggota keluarga ini, dengan ayah dan ibu yang tak ada hangat-hangatnya, ayah yang sangat keras dengan ibu yang juga sama kerasnya.” Jawab Ana.
“Semoga suami kakakmu bisa mengobati trauma nya.” Ujarku.
“Mereka sama-sama punya trauma, dan mereka saling mengobati, makanya lahirlah keponakanku yang menggemaskan, lihat nih wallpaperku, cantik kan ponakanku.” Jawabnya sambil memperlihatkan HP nya.
“Namanya Kirana, ah kau gak dateng sih waktu ni bocil lahir, cuma Aca sama Ambar aja yang kerumah.” Ujar Ana yang kesal karna aku tak kerumahnya.
“Ya maaf, dulu kenapa ya gak dateng, lupa aku.” Jawabku.
“Kalau gak salah kerja keknya, terus anak-anak yang lain gak tau kemana, padahal rumahku itu paling dekat dari kantor tapi jarang sekali kalian nongkrong di rumahku.” Jawab Ana.
“Karna deket dan karna rumahmu kan selalu ramai, karna ibumu buka catering kan, jadi kek ga mau ngerepotin aja.” Jawabku membela diri, tapi emang kalau kita kumpul di sana jadi makan terus kan jadi gak enak, sungkan gitu.
Setelah ngobrol dengan Ana di ruang rapat ini, karna sebenarnya aku sedang membicarakan client tapi lama-lama pembahasan jadi kemana-kemana. Setelah itu ada Aca yang masuk ruangan dan ingin ngobrol denganku berdua aja, akhirnya Ana keluar dan Aca yang masuk dan duduk berhadapan denganku, sedangkan aku masih belum mau untuk menatapnya.
__ADS_1
“Kamu kenapa bi? Beberapa hari ini sering sekali menghindariku.” Tanya Aca yang aku rasa tatapannya mengintimidasi.
“Gak kenapa-kenapa kok, perasaanmu aja itu.” Jawabku sambil main HP, entah buka aplikasi apa aja aku karna bingung.
“Bisa gak kalau ngobrol tatap mataku,” ucapnya dengan nada kesal.
“Dah ya, aku sibuk.” Jawabku dan berdiri mau keluar tapi ditahan oleh Aca.
“Duduk dulu bi,” ujarnya dan malah pindah duduk di sebelahku.
“Kenapa lagi ca?” tanyaku.
“Kamu sakit?” tanyanya sambil memegang dahiku untuk mengecek aku panas atau tidak dan mengangkat daguku agar aku melihat ke arahnya.
“Apa caa?” tanyaku yang kagok dan menatap kearah mana aja.
“Yasudah kalau gak mau menatapku, tapi benerin itu dulu PC ku blue screen.” Jawabnya yang emosi lalu pergi dari ruangan rapat.
Ah aku nampak tidak gentle dan terkesal sangat-sangat belagu sekali tapi aku gak bisa mengungkapkan perasaanku ke Aca, karna dia juga susah untuk menceritakan perasaannya, akhirnya aku keluar dan memperbaiki PC nya, padahal ada Robi kenapa dia gak minta tolong sama dia sih, kenapa harus semakin membuatku malu.
Setelah itu aku meninggalkan meja Aca karna meja kami sudah tidak bersebelahan lagi, jadi ditata sesuai dengan divisi, ternyata dia sedang membuat kopi di pantry dan aku juga merasa malu, kenapa dia bisa biasa saja padahal habis berciuman, apakah dia sudah terbiasa untuk berciuman, ini membuatku overthinking dan makin bingung, waktu berlalu saatnya pulang tapi aku harus mengecek rumah sebelah sudah sampai mana, karna aku juga harus menabung untuk furniture nya, biaya bangun rumah aja sudah sangat mahal apalagi isinya dan printilan-printilan lain, melihat isi tabungan yang benar-benar berkurang drastis membuatku takut kalau tak ada uang yang masuk. Karna cukup lama aku menabung dan menghabiskannya bisa secepat kilat itu, aku memang mementingkan bangunan kantor dulu yang penting karna kan kantor yang dipakai setiap harinya, sedangkan rumah benar-benar pelan-pelan dan mencekik gara-gara pengen rumah yang benar-benar kuat.
Aku juga berkomunikasi dengan bapaknya Aca mengenai rumah dan lain-lainnya, bapaknya Aca juga membantu bahkan mau direpotin banget dan aku sangat-sangat bersyukur karna dibantu memilih bahan dan lain-lainnya agar tidak terlalu membuang uang untuk hal yang tidak perlu. Aca tidak tau kalau aku sering menghubungi bapaknya karna memang aku inginnya Aca tau beres aja. Ini bagian dari pemberianku saat akad nanti yang berupa rumah.
__ADS_1