
Aduh.
Bagaikan ketindihan, aku tertidur dan ada sesuatu yang berat, bayangan hitam seakan berdiri di dada ku. Susah sekali untuk bangun, berusaha menggerakkan badan tetapi tak bisa. Sampai ada suara wanita membangun kan ku, di pukul-pukulnya kaki ku seakan menggerakkan badan ku agar aku bangun.
Ketika aku membuka mata, aku kaget dengan yang ku lihat di depan mataku adalah bu Asmirah.
"Amini, kenapa nak, kenapa berteriak dalam tidur". Ucap nya sambil menatap ku.
Sedangkan aku masih terbelalak kaget dan shock, ini dimana kenapa dia memanggilku Amini.
"Nak, bangun sudah. Ini ni kalau anak perawan bangun nya siang jadi mimpi buruk". Tambah nya lagi, sambil berjalan keluar kamar.
Aku masih terdiam dan melihat sekeliling, ini kan basecamp kenapa aku kembali lagi kesini.
Ku lihat tanggan ku yang seperti bukan jemari tanggan ku, lalu aku berdiri mencari kaca. Ku dapati sosok gadis remaja yang cantik, memakai piyama dengan mata yang tajam dan rambut yang lembut dan itu adalah aku.
Aku kenapa bisa masuk ke dalam tubuh Amini remaja. Kenapa ini bagaimana aku bisa kembali ke masa depan. Kenapa aku bisa terjebak dalam dunia aneh ini.
"Kak... di suruh ibu makan". Teriak Batara yang tampan dan sedikit berisi, dia bocah yang lucu sekali, aku langsung terpesona melihay Batara kecil.
Aku harus pura-pura menjadi Amini agar aku aman untuk sementara sambil mencari jalan keluar.
__ADS_1
"Iya". Jawab ku singkat sambil keluar kamar, dan ternyata kamar Amini adalah kamar ku dan Kris posisi nya.
aku turun dan mencium aroma bunga yang sangat harum seperti aroma terapi ternyata bu Asmirah sedang menata nya di vas bunga dan di letakkan di tengah meja makan. Aku lihat saat ini tepat jam 7 pagi, ada pak Broto dengan koran dan hisapan tembakau, ada bu Asmirah yang baru aku sadari sedang hamil besar, dan Batara si tampan. Ada pembantu yang menyiapkan makanan, sudah berumur mungkin 50 tahunan, ada tukang kebun yang seusia pembantu ini tadi. Aku mempelajari situasi dan berupaya menjadi Amini yang aku tahu.
Saat ini mungkin Amini berumur 14 tahun, orang jaman dulu sangat flawless dan cantik sekali dengan ke naturalan nya. Bu Asmirah pun sangat cantik tapi apakah dia menyembunyikan pembunuhan itu. Aku harus mencari tahu dari koran atau apapun.
"Kalian berdua di rumah baik-baik yaaa, Bapak dan Ibu ada pekerjaan di luar kota, karna sangat jauh perjalan nya bisa berhari-hari. Kalian akan di temani pak Yono dan mbok Darmi". Ucap bu Asmirah dengan manis dan kalem.
"Batara mau oleh-oleh mainan yang banyak". Kata Batara meminta.
"Iya tenang saja, doakan bapak berhasil ya nak". Ucap pak Broto sambil menyantap makanan.
"Emm... Amini mau asesoris yang cantik-cantik". Jawab ku sambil memikirkan apa yang di sukai Amini.
"Kamu itu selalu itu saja, padahal perhiasan dan asesoris sudah banyak". Jawab bu Asmirah.
"Tapi aku ingin mengkoleksi yang banyak bu, kalau gitu aku ingin sepatu yang terbaru". Jawab ku ketika teringat di kamar banyak sekali sepatu.
"Iyaaa... iya baiklah, asal kalian belajar dengan rajin yaa, pintar-pintar mencari teman, jangan sembarangan bergaul". Jawab bu Asmirah sambil menyuruh kami menghabiskan makanan.
Setelah itu bu Asmirah dan pak Broto berangkat untuk bekerja di luar kota. Aku dan Batara bersiap menuju tempat pembelajaran, guru nya orang asing dan mempelajari banyak bahasa dan sains kala itu. Aku melihat-lihat ini aku sedang berada di tahun berapa, apakah tahun saat ini Indonesia belum merdeka atau bagaimana. Untuk ukuran tahun yang susah di sejarah Indonesia, pak Broto termasuk sukses dan kaya di masa ini.
__ADS_1
Teman-teman di tempat pembelajaran ini pun wajahnya campuran serta tampan dan cantik, banyak sekali anak kecil yang tak memakai baju dan berjualan di jalan tanpa alas kaki. Sungguh berbanding terbalik dengan kehidupan Amini. Ku lihat Batara bermain dengan anak yang berjualan tadi, sepertinya Batara memberikan mainan nya kepada anak itu serta melepas sepatu nya dan di berikan pada anak tadi.
Batara sangat baik.
"Bar, ku bilang ibu ya, kalau kamu kasih barang mu ke anak rendahan tadi". Aku memancing Batara agar tahu karakternya.
"Kenapa kamu selalu menganggu ku? jangan bilang ibu, kamu mau pantat ku di pukul lagi gara-gara ulah mu yang ngadu aku bermain dengan Toni". Jawab nya dengan kesal.
Ternyata benar, karakter Amini sangat jahil dan Batara baik dengan diam nya dia. Bu Asmirah adalah ibu yang cukup keras dalam mendidik sedangkan pak Broto tipikal bapak yang santai.
"Maaf ya Bar, Kakak cuma iseng. Tidak tahh kalau ibu akan semarah itu". Jawab ku sambil mengulurkan tanggan.
"Baiklah, berjanji lah tak akan seperti itu lagi, kamu kan tahu, ibu orang yang mudah marah dan mudah baik". Jawab nya seakan bu Asmirah adalah sosok yang berubah-ubah sikap nya.
Aku kembali kerumah, dan bermain di bawah pohon mangga, karna mbok Darmi sedang mengupaskan nya, Batara memanjat pohon dan aku bermain kemah-kemahan di bawah nya. Aku harus bersikap selayak nya Amini.
Malam pun tiba, aku punya waktu untuk mencari sesuatu di kamar Amini, sesuatu yang membuat ku tahu kondisi keluarga ini.
Lalu aku menemukan buku harian di laci meja belajar nya, dengan tulisan Indonesia yang sangat kuno sekali, aku larut dalam tiap curhatan nya lewat buku harian ini.
Buku harian ini berisi....
__ADS_1