
Malam berikutnya, ada suara dengkuran yang begitu keras, aku kaget karna biasanya bapak tidak mendengkur, saat aku berinisiatif untuk mengecek keadaan bapak, ternyata aku di kagetkan ada sesosok besar sedang berdiri di dada bapak dan terlihat bapak kesusahan dalam mengatur napasnya menjadi berat dan bersuara. Aku kaget dan berteriak sekencang-kencangnya.
Saat pipiku ditepuk-tepuk dan aku terbangun, ternyata itu hanya mimpi, mimpi yang buruk sangat buruk, aku berkeringat dan merasa sangat panas, tapi anehnya tak ada siapun di kamarku yang membangunkanku. Aku merasa ganjil dan semakin takut lalu lari keluar kamar, ku lihat ada bapak dan Ana sedang ngobrol di teras rumah.
"Kok ada Ana? " tanyaku.
"Bangun tidur ca? iya ini hari minggu jadi bangun siang yak? " tanyanya.
"Jam berapa emang? " tanyaku lagi.
"Jam 10 ini, kita kan ada janji. " Jawab Ana sambil menunjukkan jam tangan nya.
"Astaga, aku lupa! " seru ku langsung ke kamar mandi.
Aku lupa kalau hari minggu ada acara di rumah pak Widyo, sekalian untuk menanyakan perihal keluarga Broto. Gara-gara kecapekan kemarin jadi mimpi aneh-aneh deh. Sangat kesal sekaligus lelah dengan semua ini, semoga saja pak Widyo bisa membantu kami.
Saat aku sudah siap, sebelum berangkat bapak berpesan untuk hati-hati dan segera menutup kisah kelam harus segera membuka lembaran baru atau bahkan buku baru. Support dari bapak membuatku semangat untuk pasti bisa keterikatan yang tak sengaja terjalin ini bisa lepas selepas-lepasnya.
"Ca.. . aku belum makan nih, kita cari makan dulu yaaa.. " Ucap Ana.
"Sama." Jawabku singkat.
"Makan dimana ya? " tanya Ana.
"Eh tapi Toby dimana? uda kabarin belum?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah, emang kamu ga kabarin? " tanya nya.
"Aku lagi males pegang hp. " Jawabku, karna terbiasa hidup tanpa hp di masa lalu.
Kami berdua janjian dengan Toby di suatu warung makan, kami datang lebih dulu dan makan lebih dulu sampai akhirnya Toby datang dengan muka kesal karna merasa di tinggal. Entah mengapa dia sangat manja sekali dan ngeselin. Di saat makan aku menceritakan mimpiku dan khawatir ada apa-apa dengan bapak, ketika bangun juga berasa ada yang bangunin, ternyata tak ada siapapun. Mereka berpikir aku terlalu over thinking, khawatir dan juga lelah, jadi terbawa sampai mimpi, atau bisa jadi karna ada maksud tertentu sebagai peringatan di mimpi tersebut.
Setelah makan, kami mampir ke toko roti sebagai buah tangan, karna kek gaenak kalau bertamu tak membawa apapun. Acara di rumah pak Widyo juga sebenarnya gatau acara apa, kami hanya di undang berkunjung dan bilangnya ada acara, jadi kami putuskan untuk jalan bertiga saja sekalian mendapatkan nasihat tentang masalah keluarga itu yang tak kunjung selesai.
Sesampainya kami di rumah pak Widyo, kami di sambut hangat dan masuk kedalam rumahnya, ternyata ada acara syukuran pernikahan anak pak Widyo yang setelah melewati gonjang-ganjing dalam berumah tangga dan memutuskan untuk survive mulai dari 0 lagi. Kami makan lagi dan ngobrol tentang keadaan kompleks ini, sampai akhirnya menjurus ke rumah pak Broto. Kata pak Widyo rumah tersebut seakan masih di selimuti kegelapan, seakan masih sama saja, bedanya hanya rumah itu di tinggali oleh keluarga asli. Entah bagaimana cara keluarga inti untuk bisa memperbaiki sesuatu yang mereka sendiri juga tak sejutu dengan para pendahulu mereka.
"Gimana ya pak? mereka mati saja masih mau mengurusi yang masih hidup? kenapa mereka tak tenang dalam kematian? " tanyaku.
"Sulit sekali memang bagi orang yang berambisi mengatur segalanya, terutama harus sesuai dengan apa yang di mau. " Jawab pak Widyo.
"Lantas bagaimana ya pak? adakah jalan keluar? " tanya Toby.
"Mungkin, nak Ana bisa meminjamkan tubuhnya sebagai sarana komunikasi? " tanya pak Widyo.
"Bisa saja pak, asal segera selesai masalahnya. " Jawab Ana.
"Tapi kalian harus ijin dulu pada keturunan asli, " ucap pak Widyo.
"Kemaren kami sudah banyak berdiskusi, hanya saja mbak Laras menyarankan tunggu waktu yang tepat. " Jawabku.
"Baiklah, bapak juga akan mencari tahu dari orang lain yang barang kali bisa mendapatkan titik terang. " Ucap pak Widyo.
__ADS_1
"Mbah Darso bagaimana pak? " tanya Toby.
"Bapak saya baik-baik saja sehat, nanti juga saya akan minta saran beliau. " Jawabnya.
"Baik pak, terimakasih banyak sudah membantu. " Ucap Toby.
"Gapapa nak, saya senang bisa membantu, sementara kalian tenang dan tunggu waktu saja. " Jawab pak Widyo.
"Kalau begitu kami pamit dulu. " Ucapku.
"Tunggu, nak Aca sama nak Toby beneran mau nikah? " tanya pak Widyo.
"Iya pak. " Jawab Toby cepat.
"Sudah hitung-hitungan hari? " Tanya pak Darso.
"Belum pak, orang Toby aja belum melamar, jadi menikah juga masih lama. Saya ingin menyelesaikan kehorroran ini dulu. " Jawabku tegas.
Pak Widyo pun tertawa melihatku yang jutek sedangkan Toby yang bersemangat. Ana pun juga menceritakan kalau kami berdua bak kucing dan anjing yang susah akur sebenarnya, satunya ngotot nikah, satunya sangat santai.
Lalu pak Widyo berpesan, kalau menikah itu harus yakin seyakin-yakin nya, menyatukan dua kepala itu susah, hanya butuh rasa kasih dan komunikasi yang baik, maka semua akan bisa berimbang. Menikah di moment ada makhluk yang bisa mengancam manusia pun akan tidak baik jadinya, kalau bisa selesaikan saja dulu masalah ini, jangan sampai dalam pernikahan ada sosok yang berniat jahat dan merusak segalanya, percaya tak percaya itu bisa terjadi. Jadi lebih baik waspada dan hati-hati karna kalau sudah kejadian akan sulit diatasi.
Kami pun pamit dan sedikit merasa lega karna kami harus yakin bisa menenangkan makhluk yang sudah mati, membuat tenang pun akan susah, jadi sembari menunggu ada baiknya kami pun juga menyiapkan strategi apa yang akan kami lakukan dalam bernegosiasi dengan sosok lain. Melawan keluarga besar yang tak dapat dilihat oleh mata manusia pun sudah aneh, ini malah mau bernegosiasi, membayangkan nya saja sudah seram sekali.
Di perjalanan pulang Toby ngajak untuk makan ice cream karna dia merasa banyak sekali tenaga yang hilang, Ana pun juga sama, mungkin karna sama-sama indigo jadi tenaga gampang habis. Terlebih mereka seakan melihat sesuatu yang aneh, karna mereka terlihat pucat. Sedangkan aku yang tak melihat apa-apa hanya bingung saja.
__ADS_1
Hanya bisa berharap bernegosiasinya kelak akan lancar tanpa hambatan, akan benar-benar pergi dan tenang ke alam selanjutnya. Akan ada awan cerah penghilang kegelapan.
Semoga saja.