Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
159. Ana [1]


__ADS_3

Hari ini aku berangkat lebih pagi karna ada kontrak yang harus aku selesaikan perihal kesepakatan sama client dan aku kemarin belum sempat edit yang kurang-kurang, kebetulan rumah Roy yang sekarang menjadi kantor sudah di rubah menjadi kunci pintu digital. Padahal aslinya Roy males aja kalau ada yang datang lebih pagi dari jam kantor dan dia belum bangun. Datang dengan semangat dan sekarang ruang TV Roy udah berubah total, meja-meja sudah diatur sedemikian rupa hingga memang mirip dengan kantor. Ruang tamu tetap menjadi ruang tamu, kamar tamu menjadi studio, kamar bawah satu lagi dibuat untuk tempat meeting. Suasananya si Aca udah berhasil benar-benar membuat nyaman seperti kantor, TV dipindah ke dapur biar kalau makan siang bisa sambil nonton. Pokoknya benar-benar nyaman dan membuat senang aja bawaannya, memang beda kalau kantor lama vibesnya memang benar-benar kantor, kali ini kan memang rumah. Meja ditata menjadi barisan persegi panjang dan Roy juga ada di ruang ini cuma dia yang menghadap ke kami sedangkan kami saling berhadapan, karna tidak cukup kalau semua dibuat memanjang, akhirnya ada yang menghadap ke tembok yang tidak memakai PC dan itu diisi anak-anak magang, dan kebetulan di depanku adalah mejanya Aca dan disampingku adalah Ambar, bisa kebayangkan gimana suasananya nanti.


Seperti biasa aku menyalakan Pc dan tiba-tiba kaget karna ada bel berbunyi pagi-pagi sedangkan masa iya Roy punya tamu di pagi hari, akhirnya aku keluar dan terkaget kalau Toby datang kesini, berani-beraninya dia masih punya muka untuk datang kesini. Dia datang dengan muka yang campur aduk seperti kurang tidur dan dia menyapaku dengan muka yang masam, dia langsung masuk dan lihat sekitar dan dia memegang kepalanya seakan tidak percaya bahwa kantornya dulu sudah pindah kesini dan ditata sangat nyaman berkat Aca, dan berkat Aca juga yang dekorasi ulang, mengecat dan lain-lain semua Aca yang urus. Dia datang seolah-olah kunjungan kerja saja, tanpa basa-basi langsung eksplorasi, rasanya pengen aku timpuk dia pake sapu.


“Ngapain kau kesini? Berlagak bos kau ya lihat-lihat kantor orang?” tanyaku dengan nada tinggi.


“Kenapa sih na? Kenapa kamu juga jadi begini?” tanyanya dengan muka yang menyedihkan.


“What? Pake tanya kenapa? Kau udah kubilang jangan sampe nyakitin sahabatku, iya-iya nyatanya taik kau!!” jawabku emosi.

__ADS_1


“Maaf na, ngertiin posisiku dong.” jawabnya dengan nada yang rendah seakan ingin dimengerti.


“Apaan? Mau minta belas kasihan dengan memelas gitu? Minta dingertiin tapi gamau ngertiin tuh apa? Hah? Apa kau? Lakik kau? Laki macam apa kau yang sok-sok an bakal bahagiain sahabatku nyatanya kau buat remuk?” ujarku dengan nada tinggi sekali karna geregetan, sampai akhirnya Roy terbangun dan kaget kalau Toby ada disini.


“Ngapain kau ke rumahku?” tanya Roy.


“Ya boleh dong, kita kan kawan, aku cuma silaturahmi,” jawabnya sok tenang.


“Keluar kau dari sini!!!” imbuh Roy.

__ADS_1


“Tenang-tenang, kenapa kalian begini, mari kita selesaikan dengan kepala dingin, aku gak pengen karna hubunganku udah berakhir dengan Aca dan kalian juga ikut mengakhiri hubungan denganku, kita kan teman.” jawab Toby.


“Teman anjing?” jawab Roy.


“Gedek banget bi liat mukamu yang gak tau diri itu, ngapain juga temenan sama orang yang nyakitin sahabatku, kami bertiga udah temenan dari dulu, sedangkan kau cuma orang baru dihidup kami.” jawabku.


Kemudian Aca datang dan langsung duduk di mejanya tanpa menghiraukan kami yang sedang bertengkar, dia langsung menyalakan PC nya dan memasang headphones seakan menandakan dia gak peduli lagi dan gak mau tau. Sedangkan aku menyeret Toby untuk masuk ke ruang rapat dan bicara menyelesaikan amarahku yang tak terbendung lagi, sedangkan Roy ke dapur dan membuat kopi buat Aca, memang harus ada pembagian seperti ini dan ini kami lakukan tanpa aba-aba karna kita sudah lama terikat pertemanan jadi seakan sudah tau apa yang harus kami lakukan.


Aku berbicara empat mata dengan Toby, sampai Toby terpuruk dan menangis dan aku percaya dia tak akan memperlihatkan sisi ini ke Aca, semakin dia sedih dan menangis semakin memuncak amarahku, karna nasi sudah menjadi bubur dan rasanya sangat busuk sekali, apa-apa yang dilakukan Toby jaman dulu itu seakan tidak berarti dengan perilakunya sesudah pindah dari sini, aku gak akan menyalahkan pergaulan karna yang salah adalah dirinya sendiri gimana dia bisa memelihara dirinya sendiri, tetapi aku percaya bahwa ini adalah jawaban dari maksud Tuhan membiarkan mereka berjauhan agar tau bagaimana mereka dikala mendapatkan ujian ini, ternyata Toby tidak mampu memelihara kepercayaan dan bagaimana dia bisa membawa diri dilingkungan asing dan aku tetap tidak terima dengan alasan yang sangat khayal itu dan aku menyuruhnya untuk pulang aja, setidaknya dengan pulangnya membuat Aca tidak terluka lagi, lalu Toby pulang dan aku kembali ke mejaku dan menyelesaikan apa yang belum sempat aku kerjakan tadi, kebetulan anak-anak lain juga lagi dinas diluar jadi aman kantor cuma ada kita bertiga, rupanya Roy bikin sarapan pagi untuk dirinya dan aku melihat Aca dia sedang berusaha konsen dengan pekerjaanya, aku juga gak akan menggangu Aca, Roy pun sama dia hanya diam aja, kalau Aca gak tegur kami juga ga ngomong karna kami gak mau menggangu moodnya yang udah mulai membaik, sedangkan moodku hancur dan pusing jadinya gak bisa konsentrasi.

__ADS_1


Lama-lama anak-anak sudah mulai berdatangan dan aku juga harus melihat perkembangan anak didikku ini hahaha, aku harus tetap tertawa dan bahagia serta havefun karna kalau aku jutek banget semua bakal kebawa, sedangkan Aca tadi siang pamit keluar karna dia mau ke studio animasi jadinya dia buru-buru karna udah janjian, sedangkan Roy rapat kecil dengan anak didiknya Aca karna Aca menyerahkannya pada Roy, sedangkan selama ini apapun yang Aca kerjakan itu hak paten dia, dan sekarang dia membiarkan orang lain untuk menyetujui rangkaian dari anak didiknya, biasanya ya Aca sendiri yang ACC. hari ini makan siang datang dan menu kali ini adalah sate padang, karna ibuku sedang ada pesanan bikin sate padang jadi menunya itu, kami makan bersama di dapur sambil nonton Tv dan berbincang yang lucu-lucu, sedangkan Kris juga menceritakan kejadian lucu di rumah pacarnya yang menurutku itu horor bukannya lucu, tapi aku gak mau tanya-tanya ke arah horor takut ada apa-apa juga, mengingat dia juga sedikit lemah dan rawan kerasukan kalau dia lagi lemah.


__ADS_2