
Melihat dari kejauhan Aca ngobrol sama mama dan papa rasanya ngeri kali, antara gak bisa tenang dan takut mereka bikin Aca gak nyaman, entah apa yang mereka bicarakan yang terlihat serius itu dan ekspresi Aca yang berubah-ubah sudah jelas ini kenapa-kenapa, mau tanya tapi Aca pergi ke kamar mandi, saat aku cek HP ku ternyata Ana sudah membalas kalau ada seseorang memang dibelakang kakekku, tapi Ana nggak bisa tau intensitas apa itu, hanya saja memang ada energi yang tak terlalu kuat, jadi katanya tak perlu khawatir, dan saat aku balas kalau kata Aca itu adalah Amini, Ana langsung kaget dan segera menelpon Aca, mungkin saat ini mereka sedang ngobrol.
Mama langsung duduk disebelahku dan menanyakan kabar anaknya yang sudah cukup lama tidak dijumpai dan ditanyakan kabarnya, aku yang malas jawab harus bersabar karna beliau ini adalah ibuku yang sangat semangat dan bekerja keras entah untuk siapa, atau memang mau membangun kekuatan agar kekayaan cukup untuk 7 turunan sama seperti pak Broto atau entahlah, jadi wanita karir memang susah, antara keluarga dan karirnya, tapi papa sabar dan santai aja bahkan mendukung tapi juga memberikan nasihat yang jarang didengar. Aku hanya mendengarkan dan menjawab pertanyaan mama seadanya saja, sepupuku juga heboh karna dia mau menikah dan ngomporin dan menanyakan hubunganku dengan Aca yang tak ada kaitannya apapun, aku dengan Aca hanya sebatas teman lama yang bertahan sampai sekarang.
Meski dulu aku kenal Aca aku langsung tertarik dengan kepribadiannya, tapi lama kelamaan rasa nyaman itu tak bisa menjadi pasangan kekasih karna akan merusak hubunganku dengannya, dia teman curhatku dan teman yang selalu ada, aku gonta-ganti pacar sedangkan dia hanya mungkin satu pacar saja, jarak antara putus dan menjalin hubungan baru dia selalu lama, beda denganku yang gampang sekali nyantol dengan hati lain, karna aku cukup humble dan santai dia tak suka denganku, makanya sebelum tumbuh rasa lebih lagi aku memilih untuk diam aja dan langsung membabat habis rasa yang tumbuh.
Dari kecil aku dirawat oleh budeku, yaitu kakaknya papa, karna papa dan mamaku sangat sibuk sekali sedangkan budeku adalah ibu rumah tangga jadi aku sering dititipkan dirumahnya, aku sangat sayang sekali dengan keluarga budeku yang amat sederhana tapi berkecukupan, pakdeku melarang bude bekerja karna memang beliau ingin anak-anaknya mendapatkan full kasih sayang tak seperti dia dulu, tapi beda dengan papaku yang sangat mendukung mama tetap bekerja meskipun punya anak, alhasil aku adalah anak satu-satunya yang tak punya saudara dan sering main dengan sepupu-sepupuku yaitu anaknya bude yang sangat bahagia karna memang benar-benar nampak sekali bagaimana tumbuh dengan kasih sayang dan jarang diberi kasih sayang.
Rumahku saat ini hanya salah satu dari rumah mereka saat mereka ada dinas di kota ini, sedangkan aku sudah nyaman di kota ini akhirnya rumah itu langsung dibalikkan nama atas namaku, bude dan pakdeku ada di kota sebelah sedangkan kakekku yang ada di kota ini dan mengumpulkan anak-anaknya disini, kakek hidup dengan nenek tiriku dan mereka berdua sangat bahagia menikmati masa tuanya, aku jarang sekali mengunjungi kakek karna memang aku tak dekat dengan nenek tiri, karna dia sangat kaku dan benar-benar penuh dengan peraturan, makanya anak cucunya jarang sekali mengunjungi beliau, sedangkan saat ini berkumpul untuk makan karna merayakan ulang tahun nenek tiri yang sudah semakin tua tapi tetap narsis.
Aku keluar untuk merokok dan ternyata papa juga sedang diluar dengan kopi dan rokoknya, mau gak mau aku terpaksa bergabung.
“Gimana kerjaan mu nak?” tanyanya, yang harus nya bertanya kesehatanku keadaanku atau apalah, malah pekerjaan.
“Baik aja pa, sudah makin dikenal dan banyak juga sekarang clientnya,” jawabku sambil mencari korek lalu dikasih korek papa.
“Baguslah kalau begitu, berapa keuntungannya dan adakah yang bisa papa bantu?” tanyanya.
__ADS_1
“Cukup kok, keuntungannya tak sebesar papa tentunya, tapi aku dah seneng bisa stabil, papa cukup bantu promosi aja biar makin dikenal dan makin banyak client,” jawabku.
“Keren kamu nak, papa bangga sama kamu, masalah promosi pasti papa bantu, nanti kirimin aja data-datanya,” jawab papa santai.
“Thanks pa,” jawabku sambil ngerokok.
“Kamu sama Aca emang bener gak ada hubungan apa-apa?” tanyanya tiba-tiba.
“Iyalah pa, orang Aca udah tunangan.” jawabku.
“Kamu gak cemburu?” tanyanya.
“Lalu Kris gimana?” tanya papa yang tau aku dekat dengan Kris dulunya karna dia partner kerja yang sejalan, beda kalau sama yang lain pasti otaknya beda.
“Dia kan partner aku pa, dia juga mau nikah,” jawabku.
“Jadi ini posisinya kamu gak punya pacar?” tanyanya.
__ADS_1
“Iya,” jawabku singkat lalu tiba-tiba ada mama yang ikut nimbrung.
“Masa anak mama seganteng ini gak ada pacar? Kenapa gak sama Aca aja yang udah ada didepan mata,” ujarnya tiba-tiba.
“Jadi mama tadi ngobrol sama Aca tentang ini? Mama maksa Aca buat sama aku? Tega bener sih mama bikin Aca gak nyaman!” jawabku marah.
“Bukan gitu nak, tapi dari pada mama lihat kamu sama yang lain yang belum tentu bener, mama udah cocok sama Aca,” jawabnya dengan santai.
“Gak semua harus sesuai keinginan mama ya!” jawabku kesal.
“Jangan galak-galak dong sama mamanya nak,” jawab papa sambil menepuk bahuku.
“Ya habis punya mama satu tapi gak pernah ada buat anaknya dari kecil, aku merasa lebih dekat dengan bude yang udah aku anggap ibuku sendiri, beda dengan mama yang otaknya hanya kerjaan, mana sosok keibuan nya?” tanyaku yang udah darah tinggi.
“Roy!! Jangan keras sama mamamu.” ujar papa dengan nada agar aku berhenti ngatain mamaku sendiri.
Aku langsung pergi mencari Aca dan langsung pamit ke kakek dan semuanya karna bilang aja ada rapat di kantor karna ini memang hari kerja, memang semuanya adalah bos makanya bisa seenaknya aja nentuin waktu. Aku yang emosi di motor, Aca hanya diam aja sambil menepuk-nepuk perutku dan sampai akhirnya aku berhenti di sebuah taman yang di dalamnya menjual ice cream yang enak. Aca hanya diam dan memesan ice cream nya, sudah sangat sering kami kemari entah untuk jajan atau hanya untuk lihat anak-anak main sketchboard karna aku dulu juga suka main dan Aca pun juga aku ajarin sampai bisa.
__ADS_1
Kami berdua hanya diam dan menikmati suasa, Aca juga tak bertanya aku kenapa, dia selalu menunggu aku yang cerita, sampai akhirnya aku ceritakan suasana tegang tadi dan mau nginap dirumah Aca aja karna gak mau pulang kerumah dan bertemu mereka lagi.