
Yang paling aku ingat kata Toby semalam adalah jangan resah dan jangan berpikiran negatif, jangan khawatir dan percaya aja sama dia, karna dia di sana juga bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bukannya aku juga bersemangat dan bahagia dengan pilihan karirnya yang keren menurutku, dia juga bilang akan tetap menjaga hatinya hanya untukku saja, jadi jangan resah karna dia hanya milikku seorang, walaupun gemerlap ibu kota yang ramai dan berbagai macam manusia dengan sifat-sifatnya, gak akan ada perselingkuhan kalau lelakinya imannya kuat dan bener, sedangkan Toby sendiri juga trauma dengan perselingkuhan jadi dia gak akan mengikuti jejak papanya. Aku disini hanya perlu percaya dan tetap ada di samping Toby apapun yang terjadi, karna aku juga sudah terikat dengannya jadi harus kuat dengan segala ujian dihadapi berdua.
Pagi ini membuatku sendu, karna aku hampir lupa kalau Toby memang yang cinta aku lebih dulu, dan aku hanya perlu merawat cintanya itu dan mengembangkan rasa cintaku, jangan sampai ada setan yang mengganggu, aku jadi ingat pesan Ana juga, dan pesan bapak yang menyuruhku jangan terlalu kasar dan emosian, jangan egois karna lelaki sedang berusaha membuatku hidup yang nyaman dan berkecukupan. Padahal bapak juga selalu membuatku cukup, bapakku gak pernah membiarkan aku sendirian dan selalu ada disisiku meski akupun juga sedikit nakal karna gak nurut dengan orang tua yang ingin anaknya sekolah lagi di luar negeri dan bekerja disana, mana tega aku ninggalin bapak jauh, lagian aku bekerja untuk perusahaanku sendiri juga bapak sudah bangga karna aku menjalani kehidupan sesuai yang aku inginkan tanpa ada tekanan dari orang lain dan hidup seperti yang aku mau, jadi aku bersyukur memiliki bapak yang begitu mengerti dengan kemauanku yang menjadi bos untuk diriku sendiri.
“Kenapa kamu nduk?” tanya bapak.
“Gak papa pak, aku cuma ngerasa sedikit sedih,” jawabku.
“Kenapa, ada masalah apa?” tanya bapak khawatir.
“Gak tau pak, gak jelas juga, tiba-tiba sendu,” jawabku.
“Ya mungkin perubahan suasana, jadinya kamu ngerasa ada yang kosong,” jawab bapak.
“Iya juga sih pak,” jawabku lesu sambil goreng telor ceplok.
“Yaudah, kamu pasti perlahan terbiasa, Sunny dari pagi ngeong-ngeong mulu, pas bapak lihat ternyata makannya habis, keknya dia kelaparan,” ujar bapak.
“Astaga pak, aku semalam lupa gak kasih makan,” jawabku sambil lihat Sunny yang lagi tidur.
“Jangan lupa lagi, kasihan, bapak juga semalam sibuk, jadinya gak merhatiin juga,” jawab bapak.
“Iya pak, duh kasian si Sunny, astaga bisanya aku lupa,” omelku mengomeli diri sendiri.
Hari ini aku dijemput Ana lagi, entah mengapa dia jadi jemput aku begini, apa dia khawatir atau memang ada apa, aku juga gak paham, ternyata dia bilang kalau ibunya pengen aku pegang pipa rokoknya pak Broto, dan aku pun bersedia tapi nunggu aku agak normal karna aku lagi sedikit sendu, dan Ana pun senang dan akan menungguku sampai aku siap, karna bu Wulan juga entah mengapa gak tembus dan gak bisa lihat ada apa dibalik pipa rokok itu, aku pun mengiyakan dan jangan bilang Toby takut dia khawatir. Aku juga cerita sama Ana kalau aku bulan depan mau main ke tempat Toby karna Toby yang suruh, Ana senang sekali ingin ikut karna dia gak pernah bepergian jauh, tapi dia sadar kalau ongkosnya lumayan dan dia juga tau diri. Dia juga happy banget aku udah baikan sama Toby gak emosian lagi, aku pun jadi ikutan happy karna ada orang lain yang senang dengan hubungan kami yang cukup horor ini kalau dipikir-pikir.
Aku langsung mengerjakan desain-desain yang banyak revisinya ini, kadang aku juga backing kerjaan Tiar karna dia juga kewalahan dan masih pusing dengan banyaknya revisi karna dia kurang bisa ganti style kecuali style yang dia suka. Tak hanya itu Adam juga heboh telepon-telepon Toby karna ada yang belum diajarin sama Toby, kantor hari ini cukup ramai, karna ada tamu juga yang lagi ngobrol diruang tamu sama Ana dan Ambar, sedangkan Roy ngajak semua intern untuk keliling menemui tim lain diluar sana agar mereka kenal dengan para tukang lain. Riuhnya disini terasa karna memang pada sibuk sendiri-sendiri. Aku juga lihat Adam lucu juga yang heboh sendiri, Kris pun juga heboh karna dia juga keteteran dengan pekerjaannya karna dia sibuk dengan nikahannya juga jadi ya wajar aja, aku mau bantu gak bisa juga karna aku udah cukup full kerjaan.
Jam makan siang, Ana dan Ambar mengajak tamu makan diluar, disini hanya menyisakan aku, Adam dan Kris yang makan nasi kotak catering bu Wulan yang enak tak tertandingi. Menu hari ini adalah ikan dan sayuran tak lupa sambal harus selalu ada, apalagi hari ini sambal cumi kesukaanku, kami makan sambil nonton TV melihat ada gosip apa hari ini kesukaan Kris, aku sama Adam ngikut aja, Adam juga VC istrinya karna anaknya nangis, gemes juga sama anaknya Adam yang gemoy banget. Tiba-tiba saja kepalaku pusing keknya ini gara-gara aku terlalu bekerja dengan keras agar bisa melupakan keresahan yang gak jelas ini. Sudah waktu jam pulangpun anak-anak belum pada datang dan aku memutuskan untuk pulang lebih dulu mau mampir kerumah mamanya Toby dan membawakan mereka mie aceh kesukaanku dan Toby.
Sampai di rumahnya kami bertiga makan dan berdiskusi tentang Toby yang ingin aku melihat kesana, dan memang keluarga ini sangat setuju karna takut aku selalu berprasangka buruk, jadi harus melihat dengan jelas dari kaca mata Toby, aku pun merasa gak enak karna selalu berantem dengan anaknya tapi mereka juga menyadari kalau memang sulit di awal-awal karna selalu terbiasa bersama, jadinya mereka menginginkanku untuk memiliki hati yang lapang dan ekstra kesabaran, mbah putri juga menyuruhku selalu menjaga hati dan tempat Toby tetap di hatiku, aku merasa terkesan karna keluarga ini sangat menyayangiku juga. Setelah selesai aku langsung pamit pulang karna sudah malam. Dirumah aku langsung kasih makan Sunny dan bermain dengannya, aku juga memberikan vitamin agar dia sehat dan bulunya halus. Bapak juga belum pulang rasanya aku biasanya ditemani Toby kini jadi merasa ada yang hilang.
Lalu Ana telepon,
“Halo ca, kamu udah balik?” tanyanya.
“Udah, aku habis dari rumahnya mamanya Toby,” jawabku.
__ADS_1
“Kenapa gak tungguin aku sih,” jawabnya.
“Ya kamu pulang malam jelas, dan aku males pengen cepet-cepet pulang.” jawabku.
“Kami mau makan makanan korea, mau ikut gak?” tanyanya.
“Gak deh, aku udah makan bareng mamanya Toby sama mbah putri, udah kenyang, jadi kalian aja.” jawabku.
“Yaudah kalau gitu,” jawab Ana lalu menutup telepon.
Sedangkan aku bersantai sambil nonton TV sama Sunny dan juga buka laptop mempelajari keuangan perusahaan yang sangat rapi digarap Ambar, sangat-sangat rapi, dari pemasukan pengeluaran dan semuanya, serta banyak sekali berkas-berkas yang lain dari perencanaan dan perencanaan, bahkan berkas Toby tentang pendanaan kantor juga lengkap, dia sudah habis sebanyak ini buat kantor dan di atas namakan namaku yang aku sendiri gak tau, aku cuma tau rumah saja, memang Toby mendahulukan pembangunan kantor dari pada rumah, karna sampai sekarang rumah juga pelan-pelan bangunnya, dan aku gak tau tentang ini, tentang uang kantor yang dikeluarkan untuk biaya maintenance dan keperluan kantor. Aku cuma santai-santai aja, dan rupanya Roy dan Ambar memang spend money untuk interior dan keperluan indoor dan outdoor kalau bangunan memang semuanya Toby.
Gila sih kalau jadi Toby, makanya dia gencar dengan usaha yang lain misal coffee shop nya dan gaji kerjaan utama yang lebih dari UMR dan sekarang yang sudah pasti dua digit dan tambahan gaji UMR disini dan bonus dan entah tambahan dari mana lagi, dia bisa menabung dengan baik macam ini. Sangat pusing melihat angka-angka ini dan memang aku gak terlalu ikut campur dengan keuangan karna percaya aja dan taunya ketika ngecek sendiri bikin pusing. Lalu tak lama Toby telepon dan dia bilang sangat merindukanku dan aku juga merindukannya, dia juga izin besok mau makan bareng rekan-rekannya di hotel pas pulang kerja, dan aku cuma iya aja karna gak mau mikir aneh-aneh karna capek juga mikir aneh-aneh sangat buang-buang energi.
Lalu bapak datang,
“Dah pulang kamu nduk, bapak bawa coklat ini,” ujar bapak.
“Makasih pak, bapak istirahat aja,” jawabku.
“Iya, itu kamu telepon Toby ya?” tanya bapak.
“Yaudah baguslah kalau kamu udah baikan, itu Sunny udah makan belum?” tanya bapak.
“Bapak nih malah nanyain Sunny bukan anaknya,” jawabku dan hanya dijawab tawa oleh bapak.
Aku langsung masukin Sunny ke kamar dan kunci-kunci pintu dan ke kamar buat baring sambil lanjut teleponan sama Toby.
“Bi, kamu bisa banyak tabungan gitu kok bisa sih? Aku lihat total angkanya aja kaget,” ujarku.
“Udah lama aku nabung, dan hemat banget, mama juga tau tujuanku jadinya aku didukung dan selalu diingatkan,” jawabnya.
“Emang ngapain sih kok bisa berpikir kek gitu?” tanyaku.
“Ya karna aku mikir jauh kedepan sayang, buat kita buat keluarga kita, mumpung masih muda dan mampu semuanya wajib dikerjain yang menghasilkan dan nabung itu wajib,” jawabnya dengan suara yang renyah.
“Kok bisa ya kamu kek gitu, aku masih heran.” jawabku.
__ADS_1
“Kamu heran? Yakin? Kamu kagum kali, hahaha.” jawabnya sambil tertawa.
“Iyaa… mungkin aku kagum karna aku dicintai sama laki-laki yang sangat memikirkan masa depan bersamaku,” jawabku.
“Iya, yang lebih cinta keknya aku,” jawabnya.
“Kalau ada yang cinta sama aku dan sama-sama cinta banget kek kamu kek apa dong?” tanyaku mencoba bertanya.
“Emang ada?” tanyanya.
“Ya kalau ada,” jawabku yang agak takut.
“Ya kalau ada ya gak papa, memang kamu pantas untuk dicintai dengan dalam, tapi cuma aku yang wajib memilikimu, hanya aku seorang dan gak boleh yang lain ikut,” jawabnya.
“Hmm… jadi kamu gak takut aku direbut orang atau aku suka sama orang lain?” tanyaku.
“Takut! Tapi kalau kelak tidak berjodoh apa mau dipaksakan, kalau kamu mencintai orang lain apa aku harus berkoar-koar tidak terima?” tanyanya dengan bijak.
“Jadi kamu gak ada usaha mempertahankanku?” tanyaku.
“Jelas aku akan mempertahankanmu, aku sudah mengikatmu, sudah bertunangan, dan itu adalah bentuk aku wajib memilikimu hahaha…” jawabnya.
“Iya juga sih, udah jelas kamu takut aku berpaling, jadinya dan diikat duluan lalu kamu pergi-pergi,” jawabku.
“Iya aku pergi sementara, nanti juga kembali, kalau kita nikah aku juga gak tau apakah kita akan LDR setelah menikah juga?” tanyanya bingung dan aku juga bingung apakah aku harus ikut dengan dia dan tak bekerja di perusahaan yang aku bangun sendiri hanya untuk menemaninnya dan patuh apa kata suami, aku belum memikirkan ini, dan bagaimana menghadapi hal ini kedepannya.
“Kamu minta aku pergi dari perusahaanku sendiri dan fokus mengurus suami dan keluarga kecil kita?” tanyaku untuk memastikan apa yang ada dipikirannya.
“Kamu bisa kerja jarak jauh kan, WFA juga bisa,” jawabnya.
“Nanti deh, aku pikirkan bagaimana baiknya dulu, aku udah seneng kerja terus tiba-tiba harus dirumah mulu dengan kesibukan rumah tangga dan heboh sama laptop dan kerjaan kantor, aku juga belum tau apakah aku mau hidup seperti itu,” jawabku penuh keraguan.
“Gak papa sayang, aku tau dan mengerti, kita lihat saja kedepannya seperti apa ya, kamu tenang aja aku gak akan memaksakan kehendakku, kita harus rajin berdiskusi,” jawabnya tenang.
“Thanks ya bi,” jawabku dan aku pamit mau tidur karna HP ku habis baterainya.
Aku jadi kepikiran bagaimana kehidupanku kedepan, aku juga gak mau jauh dari bapak, jadi serba bingung dan kesal sendiri, padahal udah seneng juga ada aja kehebohan dan masalah yang selalu ada, aku tidur tapi aku bermimpi, mimpiku kali ini seakan nyata, sangat terasa nyata karna aku sadar ini adalah mimpi aku menyadari aku sedang bangun dalam mimpi, karna aku ada dirumah pak Broto yang ada di kampung asri, aku sangat kaget dan tertegun dengan suasana kuno nan indah, karna ini pagi hari dan aku tak memakai sandal, bisa bernapas dengan hawa sejuk, bisa merasakan embun di dedaunan yang dingin serta kabut-kabut yang sangat jarang sekali aku temui di rumahku sendiri. Terlihat ada nenek-nenek yang menyapu latar dengan sapu lidi dengan gaya khas menyapu dengan menunduk sambil tangan kiri ada dibelakang, lalu aku juga melihat kakek-kakek yang sedang mencabut rumput-rumput liar yang mengganggu tanamannya, ada ayam-ayam yang berkokok dan suasa ini sangat sendu entah mengapa aku meneteskan air mata.
__ADS_1
Saat aku menoleh kebelakang aku melihat pak Broto dengan blangkonnya dan kumis yang panjang itu sedang tertawa dengan sahabatnya, entah apa yang didiskusikan tetapi aku seakan ingin memotret karna memang sangat antik sekali, aku sedang bermimpi dan aku bebas melakukan apapun karna aku sadar kalau aku di alam mimpi. Aku melihat ibu dan anaknya yang sedang memberikan minyak dirambut anaknya yang panjang lalu di kepang dua rambut anaknya itu, mereka hanya memakai kain jarik untuk menutupi tubuhnya bahkan ada juga yang buah dadanya kelihatan dan memang ini aku sedang menikmati kehidupan masa lalu, sangat indah dan aku bisa berjalan-jalan dengan bebas.