
Semakin hari semakin bisa berpikir secara luas, mengenai rasa, mengenai dunia manusia yang begitu luas, mengenai sebuah arti dalam berbagai pengertian. Semakin lama semakin takjub seperti kemana saja aku dulu, terlalu sibuk sampai tak peduli dengan sekitarnya. Ternyata mengamati sesuatu itu menyenangkan.
"Halo ca... setelah bolos berhari-hari akhirnya masuk juga yaaaa! " seru Roy meledek.
"Makasih ya gak di jenguk. " Jawabku.
"Noh dilarang noh, sama baginda raja, " jawab Roy.
"Siapa? " tanyaku.
"Siapa lagi kalau bukan calon laki mu. " Jawabnya sewot.
"Agak aneh emang yaa, keknya harus ku pikir ulang untuk nikah sama dia. " Ucapku sembari menatap Toby.
"Apasih? apalagi? kenapa? gausa kek gitu ah. " Jawab Toby yang merasa diledekin.
"Kalian tuh meja jauhan aja, entar aku tata ulang sesuai divisinya. " Ucap Roy yang mulai tak nyaman.
"Iya, setuju. " Jawabku.
"Apasih kalian ini? " Tanya Toby, dan kami berdua, aku dan Roy tertawa terbahak-bahak.
Di kantor hanya ada kami bertiga, yang lain sepertinya sibuk di luar, Toby sibuk dengan pekerjaan nya, Roy malah asik ngegame, sedangkan aku juga melanjutkan desain yang harus di revisi. Kami bertiga senyap dalam diam, sampai Ambar datang dengan kehebohanya yang ngedumel menghadapi costumer yang cerewet menurutnya, sedangkan Ambar menghadapinya sendiri padahal harusnya bersama Roy tapi Roy malah kesiangan. Terjadilah keributan sampai ada salah satu tukang masuk menanyakan perihal bangunan ke Toby dan Toby malah menyerahkan nya padaku.
Setelah meeting kecil dengan pak tukang, aku pesan makanan online untuk anak kantor dan para tukang agar melepas lapar dan dahaga, sebagai bentuk kembalinya aku sebagai diriku sendiri.
"Kamu ngapain? habis berapa itu? sini biar aku ganti. " Ucap Toby.
"Dahlah, gausa bersikap selayaknya suami yang loyal, kita belum resmi, hal berbagi kek gini kok kamu permasalahin. " Bisik ku di telinganya.
"Ih.. geli tau, ya masalahnya kamu selalu boros sama makanan. " Jawab Toby kesal.
"Gak boros, ini namanya menikmati dalam hal berbagi, itu artinya, camkan itu! " seru ku langsung pergi dari pandangan Toby.
Lama-lama kesal juga, tapi emang dia lagi belajar jadi kepala rumah tangga jadi biarin aja deh.
"Ca... kamu ngerti aja aku haus butuh yang manis-manis dan cemilan tradisional ini beneran aku sampai lupa rasanya. " Ungkap Ambar.
"Iya... aku juga kangen jajanan pasar gini. " Jawabku yang padahal sedang mengenang makanan selama aku menjadi Amini.
"Thanks yaak.. masa kecilku tiba-tiba terbesit ingatan-ingatan yang lucu. " Kata Ambar.
"Iyaaaa.. tapi kok anak-anak yang lain belum datang yaa? " Tanyaku.
"Mereka super sibuk, karna minggu ini kita banyak costumer yang mintanya super aneh-aneh. " Jawab Ambar.
"Iya, aku ngerjain bagianku juga puyeng kepala. " Jawabku.
"Iyakan? super aneh dan ngelobby nya juga susah, makanya aku kesal kalo tugas Roy di kasih ke aku, " Ucap Ambar dengan wajah marah tapi cepat reda karna makanan.
__ADS_1
"Bukanya sama Ana ya biasanya? " Tanyaku.
"Ana lagi ngurus proyeknya bu Siska, jadi dia fokus di sana dulu. " Jawab Ambar.
"Iyasih, terus Roy ngapain? orang dia ngegame aja tuh. " Ucapku.
"Tau lagi tuh, ngeselin bener. " Jawab Ambar.
"Tapi gimana? kamu suka ga disini? " Tanyaku.
"Suka-suka aja, suasana nyaman dan industrial minimalis plus ga horror, jadi okelah. " Jawab Ambar.
"Bagus deh, aku pulang duluan yaaa.. " Ucapku pamit.
"Loh kok, mau pulang aja? " Tanya Ambar bingung.
"Aku ada urusan nih, " jawabku singkat dan berlalu pergi.
Aku buru-buru pergi setelah melihat chat dari Ana yang menyuruhku datang di suatu cafe. Untung aja Toby ke kamar mandi kalau tidak pasti heboh tanya dan bikin pusing. Sesampainya aku di cafe yang berlokasi dekat pesawahan langsung hawanya kek sejuk dan menenangkan.
"Kenapa na? tiba-tiba suruh aku kesini? " Tanyaku sambil duduk.
"Pesan dulu aja. " Jawab Ana singkat.
Setelah aku pesan minuman dan memandang hamparan sawah, cafe ala-ala jaman dulu banget, menunya nasi jagung, wedang ronde dan semacam itu. Aku jadi tergoda cobain semuanya dan memang banyak yang aku pesan.
"Jadi disini kamu ketemu tantemu? " tanyaku.
"Dia yang punya cafe ini, agak jauh memang tapi enak kan makanan nya? " jawab Ana.
"Iyakah? yang mana tantemu? " tanyaku lagi.
"Sudah pergi, " jawabnya.
"Terus gimana? " tanyaku.
"Kemungkinan itu adalah sebuah pertanda yang memiliku sebuah arti, dan arti itu harus kita artikan sendiri. " Jawab Ana serius.
"Tapi kenapa aku? " tanyaku.
"Iya, aneh. Harusnya aku bisa saja karna pernah kemasukan juga kan. " Jawab Ana.
"Aku takut na.. " Ucapku.
"Toby tau gak? " Tanya Ana.
"Gatau dia, aku belum cerita, males aja pasti cerewet banget. " Jawabku.
"Aku belum ke rumah mbak Laras, mungkin kita bisa melihat perkembangannya kalau kita kesana, terlebih terakhir aku kesana sama Toby itu, kami fotoin semua keluarga besar dengan bingkai besar tapi belum jadi, kalau di mata orang normal mungkin terasa kosong, padahal padat. " Ucap Ana menceritakan.
__ADS_1
"Padahal aku ingin kita tak berhubungan lagi dengan kantor lama, maksudnya untuk silaturahmi boleh aja, tapi kalau masalah keluarga mistis ini, aku ngeri. " Jawabku sambil makan.
"Terakhir sih aku sama Toby berdiskusi dengan keluarga itu baik-baik saja, hanya saja mereka masih sulit menerima pemindahan makam ke makam umum. Di sana waktu itu yang menerima Batara sama Santi, sedangkan Amini gak terima. " Kata Ana.
"Kenapa dia begitu? " Tanyaku.
"Karna dia merasa harus membela orang tuanya, " jawab Ana.
"Kamu tau, Amini nikah sama siapa? " Tanyaku.
"Kalau tidak salah namanya Djaya. " Jawab Ana.
"Astaga, berarti nikahnya sama Djaya, anaknya pak Yadi sahabatnya pak Broto toh. " Responku kaget.
"Tapi Amini tidak terlalu suka, hanya sebatas teman tapi karna sudah ada perjanjian perjodohan orangtua, sedangkan Djaya tentu menyukai Amini yang cantik itu. " Ucap Ana.
"Kok Asmirah mau ya? bukan nya maunya sama bule atau yang kaya gitu? " Tanyaku.
"Sepenglihatanku kemaren... emmm... mungkin karna janji harus di tepati, dari pada Amini bersikeras dengan Salim lebih baik dengan Djaya. " Jawab Ana.
"Wow... kok Amini mauu? " Tanyaku lagi.
"Karna.... aku juga gak tau sih hahahha. " Tawa Ana.
"Hmm... semakin menarik yaaa, karna aku menjadi Amini tuh aku berasa mengerti dia, kalau menurutku mungkin hal ini sudah di bicarakan dengan Salim, dan Salim meminta Amini menuruti keluarganya, tapi Amini gak mau, akhirnya Salim sok-sok an menyukai wanita lain dan membuat Amini patah hati agar bisa cepat move on. " Ucapku bersemangat.
"Bisa jadi kek gitu, ini penuh konspirasi ya? Ucap Ana.
Tak lama ada panggilan masuk.
" Halo ca, kamu dimana? kemana? " tanya Toby.
"Makan... " Jawabku.
"Dimana? " Tanya nya.
"Di cafe, udah dulu yaaa.. aku lagi males nih, bye! " seru ku dan langsung ku matikan telfon nya.
"Apa kamu ga terlalu keras ke Toby? " Tanya Ana.
"Yaa... gimana ya, males kan di posesifin gitu? " jawabku.
"Iya, tapi jangan keterlaluan, dia uda effort banget buat bisa nikahin seorang Alca Madisa. " Ucap Ana mengejek sekaligus kebenaran.
Kami lanjut bercerita dan tak sadar sudah malam, jam 8 kami pulang kerumah masing-masing, tetapi di jalan aku merasakan hawa yang berat di kedua bahuku, membuatku merinding sekaligus harus tetap fokus nyetir. Sesampainya di depan rumah, Toby sudah menunggu.
"Siapa itu yang kamu bonceng? " Tanya Toby.
"Siapa?? " Jawabku kaget langsung nengok ke belakang.
__ADS_1