
Ana terperangah kaget dengan mimpiku dan sangat excited mendengarnya dan gak nyangka juga bisa melihat sosok Broto seno saat masih muda, ada apa kok bisa-bisa mimpi yang sadar kalau mimpi itu juga menjadi sebuah pertanyaan, dan aku juga gak tau, Ana segera pulang untuk tanya dengan ibunya dan aku juga bersiap pulang karna sudah jamnya pulang, Tiar juga bertanya apakah tabletnya boleh dibawa, tentu saja boleh, ditinggal disini juga boleh, jadi bebas aja, lalu aku cek Ilmi ternyata masih ada diruangannya Roy sedangkan sudah jam pulang pasti mereka lupa waktu. Saat aku masuk keruangan Roy ternyata muka Ilmi sungguh kasihan sekali, padahal Roy ini tipikal dunia komedi kok bisa si Ilmi takut itu lucu juga.
“Kalian ngapain? Dah waktunya pulang nih,” terangku sambil menahan tawa melihat situasi ini.
“Oh udah jam pulang ya, oke kalau gitu Ilmi kamu bersiap pulang sana.” ujar Roy.
“Baik bos,” jawabnya sambil menata kembali kertas-kertas yang diprint dan nampak sekali ada banyak coretan yang harus diganti.
“Loh itu belum di approve?” tanyaku.
“Belum kak, masih ada yang salah,” jawabnya menundukkan kepala.
“Coba sini aku lihat,” jawabku dan dikasihnya beberapa kertas lembaran itu.
Saat aku cek memang Ilmi terlalu tergesa-gesa, kurang rapi dan kurang memahami isi dan rangkuman konteksnya, padahal aku udah kasih saran ternyata dia gak langsung nyambung.
“Hmm… kamu perbaiki saja besok, kamu pulang aja, refreshing otak dan bersantai dirumah, supaya besok lebih segar dan konsen.” ujarku.
“Baik kak, maaf ya,” jawabnya.
“Gak perlu minta maaf, namanya juga belajar jadi pasti ada kesalahan yang harus diperbaiki dan dimengerti sedikit demi sedikit,” jawabku dan langsung mengusirnya untuk pulang.
“Kamu jangan galak-galak ya sama anak-anakku,” ujarku menatap tajam Roy.
“Galak gimana, orang aku santai kek gini,” jawabnya.
“Ya lagian ngapain dipanggil bos sih, sok-sok an banget,” jawabku sambil duduk.
“Ya namanya juga bos besar, padahal aku udah melarangnya panggil bos tapi dia tetap aja, ya sudah aku gak mau ambil pusing,” jawabnya.
“Yauda pulang yuk, aku lagi pengen makan takoyaki traktir ya bos,” ujarku sambil menyeretnya keluar.
“Yauda, ketemuan ditempatnya aja, aku matikan PC bentar,” jawabnya.
“Oke, aku ajak Ambar yaa, Ana udah balik dan Kris juga gak mungkin,” jawabku.
“Ajak Adam cobak, dia dah balik belum?” jawabnya.
“Oh iya, ku coba dulu,” jawabku dan keluar dari ruangannya menuju mejanya Adam.
“Dam, makan takoyaki yuk, sama Roy dan Ambar,” ujarku.
“Boleh, dimana?” tanyanya.
“Di tenda merah, dekat perempatan ya depan sini.” jawabku.
“Boleh, aku siap-siap dulu,” jawabnya.
Dan aku langsung pergi duluan boncengin Ambar, sedangkan Kris sudah dijemput sang kekasih yang setiap hari diantar jemput dan sibuk dengan sendirinya, memang terasa jauh karna jarang berinteraksi kek dulu, tapi dia memang lagi pusing jadi aku cukup menyadarinya. Aku sudah sampai dengan Ambar dan langsung memesan banyak macam untuk dimakan berempat. Lalu mereka berdua datang dan nunggu makanan jadi.
“Kapan-kapan ajak dong anakmu ke kantor dam,” ujar Ambar.
“Masih kecil belum bisa main,” jawabnya.
“Dah pamit istrimu belum? Entar marah,” ujar Roy bercanda.
“Gak pamit, ngapain masih sore juga,” jawabnya sambil tertawa.
“Enak jomblo gak sih, gak ribet ngabarin siapapun,” jawab Ambar bercandain aku dan Adam.
“Lah aku juga gak ngabarin hahaha…” jawabku dengan tawa.
“Kamu tuh ca, kabarin lah Toby.” jawab Adam.
__ADS_1
“Ya nanti kalau makanan datang aku kirim foto ke dia,” jawabku tertawa.
Lalu makanan datang, seperti biasa Ambar posting buat storynya dan aku kirim ke Toby tapi belum dibaca juga dan kami malah ngobrolin kerjaan yang gak ada habisnya, bahas politik dan bahas macam-macam sampai akhirnya habis dan sudah saatnya pulang, tapi sebelum itu Roy bilang kalau temannya yang mau nikah itu kan pakai jasa kami jadi harus diputuskan siapa yang jalan ke Jogja sana, dan mungkin besok saja di rapatkan. Aku mengantar Ambar pulang padahal jalannya sedikit berbeda tapi aku antar aja karna memang sudah lama gak main ke rumahnya, tapi aku cuma antar aja gak mampir dan langsung pulang. Sampai dirumah ternyata bapak masih sibuk dengan kamarnya Sunny, sedangkan si bocil asik tidur di sofa, aku suruh bapak makan takoyaki dulu, istirahat dan aku mau bikin mie goreng aja buat makan malam, ternyata bapak masak telur balado jadinya aku makan itu, aku pikir bapak gak masak.
“Pak, bapak kapan pensiun?” tanyaku.
“Kenapa tiba-tiba tanya gitu nduk?” Jawab bapak.
“Ya bapak kerja mulu gak capek?” tanyaku.
“Pensiun nanti kalau ada cucu aja, jadi dirumah gak bosen,” jawab bapak.
“Aku bingung nih pak, Toby nih disana aku disini, LDR pas nikah emang enak?” tanyaku.
“Ya kamu ikut suamimu nduk,” jawab bapak sambil menyeduh kopi.
“Terus bapak?” tanyaku.
“Ya bapak disini aja,” jawabnya.
“Ya kerjaanku gimana pak, aku gak mau ngelepasin gitu aja, susah-susah bangun terus setelah nikah segala mimpi jadi karam, gitu?” tanyaku.
“Terus kamu maunya gimana nduk?” tanya bapak balik.
“Bapak nih ditanya malah nanya,” jawabku.
“Bapak itu membebaskanmu dengan segala pilihanmu nduk, jadi bapak akan dukung segala yang kamu pilih kedepannya,” jawab bapak.
“Kalau menurut bapak aja deh,” tanyaku memaksa.
“Baiknya wanita mengikuti suaminya, tapi itu sesuai keputusan bersama, jika kelak suamimu mendukung pekerjaanmu dan tak masalah hubungan jarak jauh ya gak masalah, yang jadi masalah adalah bagaimana kalian mengolah keraguan dan kekhawatiran.” jawab bapak santai sambil ngemil kacang.
“Hmm… gitu ya pak,” jawabku sambil nyuci piring.
Setelah itu bapak menyuruhku untuk tidur dan beristirahat, aku pun baru membuka HP dan rupanya Toby sibuk apalagi di kirim-kirim foto dengan situasi banyak wanita dan nampak satu wanita yang mengamatinya, aku gak mau mikir aneh-aneh karna pusing juga kalau cemburu gak jelas.
Pagi pun datang dan aku mulai melakukan hal-hal seperti biasanya dan pergi bekerja dan melihat Tiar sudah lebih happy gak harus berangkat lebih pagi, kalau lebih pagi pun dia bisa ngerjain di teras kalau pintu kantor belum dibuka. Lalu aku menjadwalkan jam untuk rapat yang akan berangkat ke Jogja dengan banyak timeline yang sudah aku paparkan atas persetujuan Roy dan memilih siapa yang ke Jogja, dan ternyata sudah pasti itu adalah Roy karna yang punya acara adalah teman dia, lalu ada Ana tentu saja sebagai penghubung sang marketing dan tentu saja untuk divisiku aku menaruh Tiar yang ikut dan hari ini aku segera jadwalkan untuk orang-orang freelance yang pergi kesana siapa aja dan patut dikenal juga sama Tiar, dan aku menyuruh Ana untuk menyiapkan rundown yang udah fix dan mempersiapkan segalanya. Karna beliau yang punya acara sudah tau apa yang di mau dan aku juga sudah bikin bagaimana temanya dan gimana-gimananya sudah aku paparkan dan tinggal tugas Tiar untuk memaparkan ke para freelance biar dia bisa bonding juga dengan tim yang bekerja sama, kenapa aku gak ke Jogja, karna aku sebagai wakil gak bisa ninggalin kantor tanpa bos.
Ana sangat senang karna dia bisa sekalian berlibur, Ambar juga sudah tau itung-itungan nya jadi aku anggap ini final dan selesai tinggal gimana nanti di sana aja, lalu aku menyuruh Tiar untuk janjian pergi keluar dengan para freelancer biar kenal dan rapat di cafe, sudah aku kasih tau juga. Lalu saat selesai aku meminta Adam untuk keluar dengan Kris minta tolong bantu Kris ngurusin distribusi dan Adam seneng karna dia bisa keluar kantor karna dia juga biasa di ruangan mulu kan. Ana juga mengajakku ngobrol di ruangan Roy dengan Ambar juga untuk menyampaikan maksud mimpiku.
“Jadi kata ibuku mimpi itu ternyata bisa saja menjadi pertanda kalau sebenarnya pak Broto minta kita untuk menemuinya secara private dengan menunjukkan bagaimana situasi dia sebelum menikah dan bagaimana dia hidup jauh sebelum menikah dan jauh sebelum dia menyadari bakat melukisnya, dan dia pandai menganyam pohon bambu untuk memperbaiki dapur ibunya, jadi mau gak mau aku harus mencoba berkomunikasi dengan pak Broto sendiri melalui pipa rokok itu dan itu mungkin jalan satu-satunya, karna kalau ibunya Ana sendiri sudah mencoba tapi susah gak sampai, mungkin saja memang pak Broto memilihku untuk menemuinya langsung, semalam pun aku gak mimpi apa-apa jadi memang kemungkinan besar pak Broto benar-benar memberikan pertanda kalau beliau ini memilihku.
“Gilak ya, capek banget rasanya.” ujar Roy.
“Kenapa?” Tanya Ambar.
“Aku gak terima kalau Aca yang di pilih buat jadi penghubung komunikasi,” jawab Roy marah.
“Kenapa?” tanya Ambar lagi.
“Ya mungkin ini bakal bikin Aca capek dan menguras tenaga banget mbar,” saut Ana takut Roy salah omong.
“Oiya, kek gitu emang bikin capek dan sakit jiwa.” jawab Roy.
“Iya juga sih, kasihan Aca, kenapa gak Ana aja yang emang punya gift,” jawab Ambar.
“Jadi kamu lebih memilihku nih yang jadi gila dan lelah?” tanya Ana sewot.
“Gak gitu na, maaf ya, bukan maksud kok, tapikan Aca emang gak ada kekuatan dan penglihatan apa-apa, ini kok bisa kebetulan gini aneh juga.” jawab Ambar.
“Iya tau kok maksudmu, aku juga gak mau Aca yang terjun sih, tapi mau gimana lagi keluargaku udah nyoba tapi gak ada yang bisa buka, eh yang dipilihnya malah si Aca,” jawab Ana.
“Beneran deh, maksudnya apa sih kek gitu itu, bikin emosi tau lah.” jawab Roy.
__ADS_1
“Gak mungkin kan kalau kebetulan, apa Aca pegang sesuatu atau gimana ya, kok bisa jadi penghubung.” jawab Ambar dan aku cuma bisa melamun karna aku gak tau apa-apa.
“Coba deh ca, kamu ingat-ingat waktu kita di basecamp lama tuh kamu ngapain?” tanya Roy dengan emosinya.
“Aku gak ngapa-ngapain kan, aku juga gak tau loh.” jawabku bingung.
“Coba kamu inget-inget deh!” paksa Roy.
“Iya kau inget-inget pelan-pelan, tapi selain nemuin lukisan gak ada lagi.” jawabku.
“Masa gara-gara itu?” Tanya Ambar.
“Bisa jadi sih,” jawab Ana.
“Terus kek apa? Aku gak mau Aca kenapa-kenapa ya, bisa aja ada efeknya, bikin Aca sakit terus keseret ke masa lalu atau bikin Aca ilang gimana?” tanya Roy yang makin emosi.
“Sabar Roy, tenang!” jawab Ana.
“Gimana mau tenang sih na?” tanya Roy makin ngamuk.
“Sstttt… jangan berisik dong,” jawabku.
Lalu kita hanya diam dengan pikiran masing-masing yang sangat melelahkan ini, kita hanya diam gak tau mau ngapain, lalu Ambar keluar karna dia harus mengurus keperluan buat acara Jogja, dan Ana juga keluar mau ngajak anak-anak intent makan semuanya di rumahnya karna ibunya nyuruh makan disana, hanya tinggal aku dan Roy, aku melihat matanya yang sudah merah tanda dia sedang emosi total. Lalu aku ngajak dia kalau gak sibuk buat makan diluar, dan dia pun setuju, Ambar gak ikut karna dia harus konsentrasi biar gak salah itungan.
Aku masuk ke mobil Roy dan langsung aja musik terplay dengan lagunya aaryan shah - renegade, aku kaget dan dia minta maaf karna lupa matiin karna sangat kencang dan aku cuma menyuruhnya untuk kecilkan volume aja.
“Ca aku beneran gak mau kamu kenapa-kenapa lagi ca, beneran ini rasanya marah banget sedangkan aku gak bisa gantiin,” ujarnya sambil menyetir dengan ugal-ugalan.
“Tenang, nyetir yang bener, kamu bawa aku loh, katanya gak mau aku kenapa-kenapa.” jawabku.
“Iya, maaf!” ujarnya lalu nyetir pelan-pelan sedangkan kita gak tau mau makan dimana dan sepanjang jalan hanya mendengarkan lagu dan muter-muter jalanan.
Lalu aku melihat ada orang jualan rujak dan akhirnya berhenti disitu dan pesan rujak cingur. Roy pun juga makan karna dia makanan apa aja masuk dalam perutnya.
“Hmm… enak ya Roy,” ujarku bersemangat.
“Iya enak,” jawabnya singkat.
“Mau tambah cingurnya ah,” ujarku sambil berdiri lalu dia juga mau tambah cingur dan tempe menjesnya.
Kami makan dengan lahap dan segera pergi karna tempatnya cukup ramai jadi gak enak juga lama-lama disitu, lalu aku ingin cari es cendol dekat rel kereta tuh enak banget, lalu Roy mengiyakan walaupun sedikit mutar jalannya, dia hanya menuruti kemauanku dan dia sama sekali gak menyampaikan kemauannya pengen makan apa atau minum apa, dia hanya diam saja yang aku tau dia merasa sesak dengan perasaan dan kemarahannya.
“Ca, sabtu mau gak ke rumah kakekku, aku kan udah janji mau bawa kamu kesana,” ujarnya.
“Iya lo pengen banget, hirup pedesaan yang segar sekalian hunting,” jawabku.
“Mau gak?” tanyanya.
“Sabtu ini?” tanyaku.
“Iya.” jawabnya.
“Eh sabtu kan besok, kamu kok dadakan bener.” jawabku.
“Kamu mau sabtu kapan? Keburu kita sibuk, mumpung ini senggang,” jawabnya.
“Aku tanya bapak dulu deh,” jawabku.
“Iya, nanti kalau gak boleh biar aku yang pamitin langsung,” jawabnya.
“Iya.” jawabku lalu kami minum es cendol yang enak banget itu dan kembali ke kantor.
Dalam hatiku, jika aku posisi belum punya pacar mungkin hal ini udah biasa aku main ke keluarga Roy, tapi apakah pantas untuk saat ini aku yang udah tunangan.
__ADS_1