Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
52. Hari Bertemu


__ADS_3

Hari bertemu dengan mbak Laras, mbak Sekar dan mas Teguh pun datang, saat Toby di ajak Ana untuk bertemu mereka pun merasa bingung karna tak di jelaskan oleh Ana. Saat Toby menjemputku dan Ana pun kami hanya diam saja seakan menandakan, nanti kamu akan tahu jadi sabar aja.


Dalam perjalanan aku hanya diam, tapi Toby matanya seakan membunuhku, entah apa yang di pikirkan nya tetapi aku benar-benar hanya diam membisu. Ana pun juga sama diamnya, di mobil hanya ada keheningan. Akhirnya sampai di suatu perkampungan asri, rumah antar warga tidak berdekatan, bahkan banyak pohon dan tanpa pagar, sangat dingin dan asri memang, saat aku turun dan menyadari bahwa yang di depanku ini adalah rumah bu Diajeng, ini rumah pak Broto dulu, hanya saja dengan bangunan yang berbeda sedikit perombakan tapi aku yakin ini kayu jati karna rumah ini terlihat kuno dan kokoh.


Ada pohon rambutan dengan letak yang sama, rerumputan segar dan bunga-bunga, seakan di biarkan tetap sama. Saat di persilahkan masuk oleh mbak Laras pun, aku seakan terbang ke masa lalu dengan tatanan dan aroma yang sama, bedanya sekarang terasa cantik dan antik. Aku terperangah saat mulai menyusuri dapur dan ruangan lain, di biarkan tetap kuno, bahkan dapurnya saja sengaja lantainya tetap tanah dan bentukan nya mirip, yang berubah adalah langit-langit plafom kayu, kalau dulu langsung ke genteng. Bagian belakang rumah pun tetap luas nan sejuk.


"Ini di minum, ini air sumber yang segar sekali, apalagi di simpan dalam teko kendi. " Ucap mbak Sekar.


"Wah, terimakasih mbak. " Jawab Toby sambil menuangkan air.


"Iya, sumbernya ada di pojokan sana kan mbak? " Tanya ku.


"Iya, kok kamu tahu? " Tanya Sekar.


"Iya, hehehe.. " Jawabku tertawa sembari mengingat moment pak Broto mengajakku dan Batara berkeliling daerah sini.


"Duduk dulu, santai dulu yaa... Ini tadi aku bikin nasi jagung sama botok tahu tempe dan sambel terasi, bakwan jagung juga ada. " Ucap Laras.


"Wah... enak sekali nih. " Jawab Ana.


"Iya, kalau di rumah ini memang bawaan nya masak-masak begini, kalau di rumah besar makanan berasa fast food semua. " Jawab Laras.


"Ini pasti resep dari bu Minah ya?? " Tanyaku.


"Hah? kok kamu tahu? mbah Minah itu sahabat eyang kami, noh rumahnya di belakang, masih ada cicitnya. " Jawab Sekar.

__ADS_1


"Ca.. kok kamu bisa tahu? " tanya Toby.


"Makan dulu yuk. " Jawabku.


Saat kami semua makan, pandanganku masih dengan ornamen kuno dan juga rasa khas masakan yang mengingatkan pada masa lalu, mungkin aku cerita ke Ana, tapi tak mungkin sedetail yang aku rasakan. Mas Teguh juga bercerita kalau dia sakit-sakitan di rumah besar dan akhirnya pindah ke sini dan mulai kembali sedikit demi sedikit sembuh.


Setelah makan, aku mulai cerita secara lengkap dan terperinci, mulai dari awal sampai akhir, dari rasa bahkan tekstur makanan, dari semua orang yang bertemu denganku, isi diary yang bahkan ternyata tak seorangpun tahu, entah terkubur dimana diary itu. Sampai dengan pola piring pun aku ceritakan, menceritakan secara detail berjam-jam tanpa adanya interuksi. Hanya aku yang bercerita dan aku mendapati ekspresi yang bermacam-macam dari mereka semua.


Mbak Laras dan Sekar hanya kaget diam membisu sampai tak bisa berkata apa-apa. Memang dari keluarganya apapun yang di lakukan moyang nya selalu menjadi cerita saat akan tidur, mulai dari generasi pertama sampai saat ini pun, jika di jabarkan bisa menjadi buku berseason-season. Mereka pun seperti sudah tahu, hanya bagian diary saja yang tak tahu. Tetapi aku belum cerita tentang Asmirah yang membunuh mertuanya, aku sedikit takut bercerita tentang itu. Lalu Ana memulai cerita bagian itu, dan mereka tidak kaget, mereka sudah tahu, entah tahu dari mana. Mereka hanya kaget pada bagian tertentu saja.


Mereka menarik napas dalam-dalam dan membuangnya setelah itu saling bertatapan. Toby pun sedih karna aku mengalami itu semua, dia langsung memelukku dengan erat.


"Maaf Aca, kamu jadi mengalami ini semua. " Ucap Laras.


"Iya mbak, aku juga gatau bakal masuk ke ranah keluarga kalian sejauh ini. " Jawabku.


"Bahkan mas Teguh, yang bukan anggota keluarga inti saja kena, kan taik! " seru Sekar.


"Lantas gimana mbak, adakah solusi? " tanya Toby.


"Maaf, kami juga gatau. " jawab Laras.


"Padahal kan sudah di pertemukan dan berunding, tapi kok gaada ketenangan. Maunya apa coba sih para pendahulu ini. " Jawab Sekar.


"Kami pikir, setelah kami pindah tak akan ada gangguan atau hal-hal mistis lagi, tapi ngeliat Aca sampe kek gitu kan bahaya mbak. " Ucap Ana.

__ADS_1


"Tapi mbak, posisinya pak Broto tahu tidak ibunya di habisi oleh istrinya sendiri? " tanyaku.


"Untuk itu aku gatau, jujur saja yaa, keturunan terbaik tuh keturunan dari nenek Santi yaitu anak eyang Broto yang terakhir, alias nenekku asli ya. Kalau anak turunan dari Batara ataupun Amini tuh resek banget, coba lihat sekarang mereka kemana? " jawab Sekar.


"Rumah ini di wariskan kesiapa mbak? " tanyaku.


"Ini dulu di wariskan ke Batara, lalu ke anak cucunya, tapi kan kami anak cucu dari nenek Santi tuh sebenarnya tak berhak ya, tapi sama cucunya Batara tuh dijual, dan kami yang beli ini, karna sayang banget kalau di jual. " Jawab Laras.


"Tapi mengapa mereka benci dengan anak keturunan dari Santi ya? " tanya Ana.


"Karna kebanyakan tidak bisa di setir alias pada berani ngelunjak kalau kata mereka tuh, memang keturunan nenek Santi tuh di ajari dari dulu untuk bersikap dan berperilaku dari hati tanpa paksaan orang lain. " Jawab Laras.


"Dasar pembangkang. " Bisik seseorang yang kami semua dengar.


"Siapa tadi? kalian dengar kan? suara halus dan lirih. " Tanyaku.


"Anggap aja intermezzo. " Jawab Laras.


"Siapa mbak? anggep selingan kek gimana? dah merinding nih! " seru ku.


"Itu ada anak kecil di sini, penunggu tapi gak ganggu hanya bawel. " Jawab Laras.


"Hah? " ucapku spontan yang kesal karna hal gini di anggep biasa saja sama mereka.


"Wajarin aja ya, kan kita mahluk Tuhan yang berdampingan, karna ini rumah lama ya wajar aja. " Jawab Sekar sambil tersenyum.

__ADS_1


Kami melanjutkan diskusi dan menyusun rencana agar bisa berkomunikasi dengan pak Broto untuk bernegosiasi agar anak cucu keturunan terdahulu tidak lagi mengganggu ataupun mengusik manusia yang masih hidup. Terlebih foto keluarga pun sudah terpasang, silsilah pohon keluargapun lengkap, mau sampai kapan mati tak tenang seperti itu, sangat menyebalkan.


__ADS_2