Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
114. Watch Me


__ADS_3

Pulang ke rumah masing-masing dan aku langsung tidur sebelum itu aku juga menyiapkan makan malam bapak dulu, dan menaruh oleh-oleh di meja makan, langsung aku tinggal tidur, tidur terasa lebih lama dan lebih nyenyak, pagi pun bangun kesiangan dan bapak tak membangunkanku malah sudah membelikan bubur sumsum untuk sarapan. Bapak juga sudah berangkat bekerja rasanya capek sekali hari ini dan aku memutuskan untuk bekerja dirumah saja, aku langsung kabari lewat grup dan ternyata Toby sudah menjemputku.


“Loh bi, kamu tuh ga usah jemput-jemput aku kenapa.” ujarku kesal.


“Kenapa ca? Kan searah aja.” jawabnya.


“Kamu gak lihat chat grup ya, aku kan bilang hari ini aku kerja dirumah aja.” jawabku.


“Iyakah? Aku gak baca, dan ini juga baru aja kamu chatnya,” jawabnya.


“Yaudah, udah sarapan belum?” tanyaku.


“Sudah, kamu sakitkah? Atau kenapa?” tanyanya.


“Gak enak badan aja, agak pusing tapi gak papa juga, gak tau susah dijelaskan.” jawabku.


“Yasudah kamu istirahat aja, kalau gitu aku langsung berangkat ya,” jawabnya.


“Iya hati-hati.” jawabku dan mengantarnya ke depan dan ternyata sudah ada Roy yang baru saja turun dari motornya dan mau masuk.


“Loh, ngapain Roy?” Tanya Toby.


“Ada urusan sama Aca,” jawabnya.


“Apa?” tanyaku yang bingung.


“Hari ini kamu gak ke kantor kan? Aku butuh bantuanmu hari ini,” jawabnya.


“Bantuan apa?” tanyaku.


“Ada pertemuan keluarga siang ini, bisa gak kamu temenin aku?” tanyanya.


“Ya kenapa aku?” jawabku.


“Ya kamu kan udah kenal seluruh keluargaku ca, jadi tolonglah.” jawabnya.


“Entar dipikir aku ngejar-ngejar anaknya lagi kek dulu, padahal kita temenan tapi dianggap aku punya rasa, males banget.” jawabku.


“Hah? Ada kejadian kek gitu?” tanya Toby.


“Tolonglah ca, kamu kan bisa diandalkan banget dalam membuat badai,” jawabnya.

__ADS_1


“Gak! Aku gak setuju,” jawab Toby.


“Paan sih bi, gak usah ikut campur dah.” jawab Roy.


“Yaikut campurlah orang ini bini ku,” jawabnya kesal.


“Duh kalian nih, dah yaa… Toby berangkat ke kantor aja, Roy masuk rumah, dilihat tetangga nanti aku di kira direbutin dua cowok.” ujarku kesal.


“Gak bisa gitu dong ca,” jawab Toby.


“Bi… percaya aja sama aku, hari ini banyak kerjaan kan?” jawabku sambil membukakan pintu mobilnya.


“Oke!” jawabnya dan langsung masuk mobil dan berangkat, sedangkan Roy sudah masuk rumah dan langsung mencari makanan di dapur.


Aku kesal dengan tingkah Roy ini dan Toby yang entahlah pusing juga punya temen dan pacar yang sebelumnya juga teman. Aku langsung membuatkan Roy telur ceplok karna memang tak ada masakan, dan langsung dilahapnya padahal itu cuma telor. Aku hanya menunggu dia makan sambil chat Toby kalau dia jangan marah denganku atau Roy, dan dia hanya membacanya saja tanpa dijawab. Sudah pasti dia marah, aku bingung gimana hadapin Toby yang marah dengan diam nih pusing juga.


“Jadi gimana ca? Kamu bantuin aku kan?” tanyanya.


“Tapi dalam rangka apa? Aku ngapain juga ikut makan tuh sama keluargamu? Pacar juga bukan.” tanyaku.


“Ya kamu kan sahabatku, sahabat udah kek keluarga, bahkan melebihi keluarga,” jawabnya.


“Melebihi keluarga kek apa?” tanyaku.


“Yaudah, briefing aja rencanamu kek apa?” tanyaku.


“Beneran nih?” tanyanya.


“Mau kek apa? Sebelum aku berubah pikiran ya,” jawabku kesal.


“Iya… iya” jawabnya.


Lalu aku mandi dan siap-siap, Roy sudah masuk kamarku dan menggeledah pakaianku, dia yang pilih mix and max nya, maksudku kalau memang ini untuk bikin rusuh aja harusnya gak perlu terlalu formal tapi kenapa Roy sangat bersemangat sekali.


“Roy, apa gak lebih baik kamu ajak pacar beneran atau si Nilam,” ujarku.


“Gak mau, aku pengennya Aca!” jawabnya dengan cepat.


Kemudian Toby telepon.


“Halo ca, dimana?” tanyanya.

__ADS_1


“Ada dirumah nih, mau siap-siap berangkat,” jawabku.


“Dimana Roy?” tanyanya.


“Ini dikamar, kenapa?” jawabku.


“Bisanya berduaan dikamar tuh ngapain kalian? Hah?” tanyanya dengan emosi.


“Ya gak ngapa-ngapain, ini dia pilih bajuku aja.” jawabku santai.


“Dah biasa dia masuk kamarmu?” tanyanya.


“Dari dulu sih biasa aja,” jawabku dengan tenang.


“Terus kamu biasa aja? Gak ngerasa salah atau aneh?” tanyanya.


“Hmmm… kamu tenang aja lah bi, kamu kenapa? Toh biasa aja ini,” jawabku bingung dan gak merasa salah, orang cuma pilih baju.


“Oke! Inget ya, antara laki dan perempuan kalau bersahabat bisa salah satunya suka, jadi hati-hati.” jawabnya.


“Bi, tapi ini cuma Roy,” jawabku.


“Kamu gak ada insting atau radar gitu ya untuk membaca situasi?” tanyanya kesal dan terdengar suara Ana yang tanya kenapa lalu teleponnya dimatikan.


“Kenapa si Toby tuh?” tanya Roy.


“Gak tau lagi haid mungkin, sensi amat dia.” jawabku.


“Ya karna ada laki masuk kamar berduaan, dan situasi kamu udah tunangan.” jawab Roy sambil tertawa.


“Kan kau juga temennya Toby, jadi kenapa khawatir orang seluruh dunia juga tau kita sahabatan dari dulu,” jawabku yang gak mau mikir lagi karna pusing.


“Takut Toby tuh kalau aku suka kamu,” jawabnya.


“Hah! Gak mungkin lah, type Roy tuh lembut-lembut gitu,” jawabku.


“Iyalah, bisa habis aku punya istri kek kamu nih, ngalah mulu, tapi enak masakannya.” jawabnya.


Lalu aku bersiap dan berdandan rapi dengan makeup yang tipis tapi terkesan manis, itu kata Roy lalu aku foto dan kirim ke Toby, dan Toby hanya melihatnya saja tak ada komen. Akhirnya aku berangkat makan siang, pakai motor Roy dan sudah sampai duluan di restoran jepang, dan Roy menjelaskan alur cerita hari ini dan aku juga hanya iya-iya aja, nurut aja deh daripada Roy nya sedih, tapi aku malah bikin pasanganku sedih, repot nih pilih sahabat atau kekasih.


Suasana sudah ramai, banyak sekali keluarga inti mereka, dengan pakaian desainer yang bermerk dan tas-tas yang mahal itu, sedangkan aku hanya tampil dengan baju dan tas lokal aja, Roy juga sama kami berdua bergaya santai, mereka memang nampak kaya sekali, tapi aku tahu kerja keras leluhurnya di masa lalu jadi aku sangat salut dengan pengembangannya sampai di era sekarang, nampak sekali old money dengan kesederhanaan bukan yang heboh-heboh banget ya, tapi nampak berkelas saja.

__ADS_1


Keluarga Roy ini memang sangat mementingkan bisnis dan keuangan mereka, jadi sangat jarang sekali bonding dengan keluarga, mereka juga memberikan bekal bisnis yang baik pada Roy mangkannya perusahaan kecil kami bisa berkembang dan semakin dikenal. Tetapi Roy dulu juga pinjam uang dari keluarganya dulu untuk memulai bisnis tapi sekarang bisa dikembalikan, perusahaan kami memang tanpa sponsor dan aku minta Roy untuk keluarganya mensponsori bisnis kami dia gak mau, padahal bisa saja orang-orang besar yang bisa jadi client kami.


Aku gagal fokus karna aku seperti melihat Amini yang seakan berkata “lihat aku!”. Apakah aku salah lihat, atau itu memang Amini?.


__ADS_2