
Hari demi hari kami lewati dengan biasa-biasa saja tak ada yang istimewa, karna aku berpura-pura biasa saja padahal ada sosok yang selalu minta komunikasi padaku tapi aku gak gubris. Entah sosok yang suka Andreas, atau pun sosok Asmirah yang seperti kita tahu dia selalu berusaha mengganggu, hanya saja aku gak bilang sama teman-teman karna memang lagi sibuk dengan dunia masing-masing, aku gak mau dia tau kenyataan kalau sebenarnya kita tidak aman. Aku juga tahu Toby sering hubungi aku karna dia mengingatkan ada hawa panas meliputi pertemanan kami, dia menganggap ini ulah setan, padahal dianya yang setan, laki-laki memang gitu ya, kadang suka gak ngotak dan nyalahin setan kan konyol.
Hidup yang penuh kehambaran ini tiba-tiba dihubungi om alias adiknya mantan suami ibuku yang katanya lagi sakit dan maunya dijenguk anak-anaknya, beliau menghubungi lewat kakakku, tapi perjalanan selama kurang lebih 7 jam naik kereta, kayak khawatir tapi juga gak bisa ninggalin Kirana, dan aku kalau ditanya seperti gak ada rasa untuk berkeinginan menjenguk gitu. Kata ibuku sih terserah aja sama kami, Kirana bisa dititipkan ke ibu, dan aku serta kakak bisa ke kampung om. Hanya saja aku masih berpikir aja mau ikut apa gak karna gimana ya, mau sedih atau merasa kasihan gitu seperti tak ada sama sekali karna udah biasa dari kecil gak pernah komunikasi. Aku cerita ke Aca dan Aca bilang dari pada kedepannya menyesal lebih baik sekarang aja, jadi aku disuruh kesana sama kakakku itu, tapi aku masih galau, kalau aku pergi juga siapa yang jagain teman-temanku karna selama ini aku yang menghalau makhluk lain buat gak ganggu secara terang-terangan, kalau cuma ngeliatin aja aku biarin.
Berhari-hari aku galau, tapi kakakku menekanku untuk ikut agar lebih kenal, akhirnya hari jumat malam kami berdua akan berangkat dan minggu pulang, Kirana sama ibuku karna ayahnya juga harus kerja tapi pulangnya ke rumah ibu. Aku juga pamit ke anak-anak kantor karna jumat gak bisa masuk dan aku sudah bilang pekerjaan apa aja yang harus di handle hari jumat dan sabtu, jika ada yang ditanyain langsung hubungi aku aja, tapi aku yakin pasti Aca gak ngebolehin hubungi aku, karna Aca tipikal orang yang kalau ada orang cuti atau libur gak akan digangguin kerjaan. Dalam perjalanan aku cuma diem sambil berpikir apa yang harus aku lakukan kalau ketemu, apakah aku harus mendramatisir keadaan dengan haru rindu atau cuek aja atau gimana, aku juga bingung, aku tanya kakakku malah jawabnya ya sesuai hatiku aja, gak perlu akting atau drama karna katanya yang paling utama adalah rasa legowo yaitu ikhlas memaafkan segalanya dan sudah pasti aku langsung diam aja.
“Mbak, itu ada si kun kok nangis gitu, drama banget.” ujarku berbisik.
“Caper rupanya,” jawabnya.
__ADS_1
“Beneran caper? Kok sedih banget itu mukanya,” tanyaku.
“Gak dek, dia itu cewek yang bunuh diri dengan nabrakin ke kereta.” jawab kakakku.
“Terus ngapain ngikut kereta ini?” tanyaku.
“Ya dia nyesel kali, berusaha pergi dari tempat itu tapi dia hanya berputar di kawasan situ aja.” jawabnya.
“Sudah pasti dia balik ke tempat dimana dia menabrakkan diri,” jawab kakakku dengan santai.
__ADS_1
“Kasihan,” ujarku.
“Iya kasihan karna dibumi gak diterima, mau ke alam selanjutnya juga gak diterima, nunggu lah dia.” jawabnya.
“Gimana cara bantuin ya?” tanyaku.
“Gak bisa, jalan satu-satunya hanya doa aja, karna kalau belum dijemput malaikat ya jangan memaksakan diri,” jawabnya sambil ngemil dengan santai.
Mungkin bagi sebagian orang perbincangan ini akan menjadi menakutkan dan merinding, tapi hal begini, gibahin makhluk halus adalah hal biasa di keluarga kami, sedari kecil, bahkan orang di kawasan perkampungan sudah pada tau kalau keluarga kami tuh indigo, jadi kadang ada yang minta tolong buat usir, tetapi aku gak bisa, karna keluarga kami bukan pengusir, hanya bisa napak tilas dan ngobrol aja, jadinya orang kampung juga kalau takut banget mending gak tau aja dari pada tau dan jadinya overthinking takutkan. Karna perjalanan cukup lama aku tidur dengan nyenyaknya, buang air kecil, makan dan tidur lagi akhirnya sampai di stasiun pemberhentian dan lanjut naik bis buat ke daerah kampungnya ayahnya kakakku ini. Entah mengapa aku males menyebut dia ayahku karna aku sama sekali gak pernah merasakan gunanya dalam kehidupanku. Naik bis sekitar 2 jam baru sampai dan kami lanjut naik angkot dan jalan sedikit akhirnya sampai dirumah ayahnya kakakku.
__ADS_1
Rumah sederhana satu lantai, disamping ada tanaman umbi-umbian dan tampak belakang ada kambing dan sapi tak lupa ayam yang sedang berhamburan bermain di halaman rumahnya. Kakakku tarik napas dan keluarkan agar menjadi tenang, karna yang aku lihat ada sesosok besar yang menyelimuti rumah ini, mungkin penghuninya atau memang apa aku juga kurang tau karna tidak kenal, kami akhirnya masuk rumah dan orang rumah sangat senang dengan kedatangan kami, ada om dan tante serta entah aku kurang kenal juga mungkin ponakanku. Aku memberikan kue-kue masakan ibuku tercinta dan mereka sangat senang sekali karna sudah lama tidak makan masakan ibuku. Kami dipersilahkan masuk dan langsung menemui ayahnya kakakku yang sedang berbaring dikamarnya. Kakakku langsung memeluk dan menanyakan sakit apa kenapa bisa begini dan banyak sekali pertanyaan, aku hanya diam saja dan disuruh salim. Ayahnya kakakku langsung menangis dan bangun memelukku dan meminta maaf atas segalanya yang dia perbuat pada keluarga kami dan lagi aku hanya diam saja. Om dan tante malah yang menangis dan aku juga gak tau kenapa mereka menangis, tante langsung menyuruh kami menaruh tas di kamar yang sudah mereka sediakan dikamar depan dan menyuruh kami istirahat dulu, mereka mau menyiapkan makanan. Aku langsung tidur di kasur yang tidak empuk dan melihat keatas, rumah yang atapnya langsung genteng nampak sekali ada yang bikin ayahnya kakakku sakit dan aku langsung tau tujuan kami disuruh menjenguk ayahnya kakakku adalah pasti disuruh melihata kenapa si ayahnya ini bisa sakit dan aku langsung tertawa, kakakku melihat dan menanyakan aku ketawa kenapa karna dia lagi sibuk dengan HP nya untuk mengabari orang rumah kalau sudah sampai, dan aku hanya bilang coba kakak lihat ke atap, dan kakakku juga langsung tersenyum.
Lucu sekali dulu kami dibuang dan sekarang giliran tak berdaya kami dipanggil dengan maksud tertentu, bukannya dulu menghina ibu sebagai orang aneh dan gila. Ternyata malah yang ngomong itu yang gak jelas. Karna aku lelah aku tidur aja, sedangkan kakak keluar kamar untuk mengecek situasi rumah ini sekalian ngobrol dengan keluarganya yang sudah lama tak ditemui.