
Sepanjang beliau ini bercerita aku hanya diam saja, ya memang salah dia, ya memang dia yang gak becus jadi sosok bapak, ujarku dalam hati, tetapi beda dengan respon kakakku yang seakan mengerti keadaan sambil memegang tangan ayahnya, dalam hatiku aku masih tidak terima kenapa dia gak berusaha dengan baik menjadi sosok bapak dan sosok suami, malah cenderung pasrah dan menyalahkan diri, lihat tuh ibuku sosok wanita yang kuat diterjang apapun aja berusaha, diantara saudaranya dia yang paling miskin saja berusaha menjadi mampu, nah si ayahnya kakakku ini malah gak jelas, gaenak pulang kalau gak bawa uang, jadi selama ini cuma ibuku sendiri yang merawat kami dengan kerja kerasnya, dan ibuku juga gak menuntut dia selalu banyak uang yang penting sosok bapak itu ada dirumah, ini malah gak ada ngilang terus sok tersakiti diceraipun diam saja. Laki-laki macam apa yang ada didepanku ini rasanya pengen marah langsung tapi dia lagi sakit. Aneh banget tapi nyata, gak jelas sekali, hidup susah pindah-pindah kontrakan pun ibuku gak pernah ngeluh, gak ngemis juga sama saudaranya, ini kok malah lemah bangetsih.
"Terus anda ini memanggil kami untuk apa? jujur saja terus terang? kangen? butuh uang? apa? kok gak dari dulu saja, kenapa baru sekarang? " tanyaku dan langsung dimarahi kakakku karna aku bertanya dengan judes.
"Na, dewasa na gak boleh gitu," Ujar kakakku sambil melotot.
"Dewasa seperti apa yang mbak minta? kalau dewasa seperti bapak ini aku gak mau! udah buang keluarganya gak pernah nyamperin, lemah banget jadi laki-laki gak punya rasa tanggungjawab, ini sakit baru minta ditemuin nih kenapa? kan aku cuma tanya doang langsung aja intinya gak perlu berbelit, besok setelah dari pasar langsung pulang, hari minggu aku mau istirahat dirumah aja! " jawabku ketus dan langsung pada intinya.
"Maafkan ayah ya na, ayah benar-benar minta maaf. Ayah sangat bodoh dan sangat salah pada Tari, Ana dan ibumu. " Jawabnya sambil menangis.
"Iya yah," jawab kakakku sambil menitihkan air mata.
"Minta maaf sudah pasti dimaafkan, tapi kalau disuruh lupa? jelas gak bisa. Anda sama sekali tidak berpengaruh dalam kehidupan saya ya bapak, anda pernah jadi sosok ayah dalam rumah? oh jelas tidak jadi langsung saja maunya apa? " tanyaku sekali lagi dengan keras.
langsung om Ismail masuk dan menenangkanku memberikan air agar aku tak makin hilang kendali, om juga minta maaf karna selama ini tidak berusaha mempererarkan hubungan bapak dan anak karna om merasa tidak punya kuasa dan si bapak ini memang katanya keras kepala, om cuma minta sering-sering saja saat ini berkomunikasi karna akan membuat rasa sehat pada tubuh yang sakit. Om juga tidak meminta uang apapun, hanya saja pedulilah pada ayahmu, begitu ujarnya dan aku cuma masih merasa tidak terima, kenapa kita sebagai anak yang harus selalu mengalah padahal yang bodoh adalah orangtuanya. Om juga bilang kalau hawa rumah ini menjadi aneh semenjak pacar si bapak tidak jadi dinikahi, kemungkinan dibuat tidak enak karna sakit hati jadi om meminta kami untuk melihat dan membuat rumahnya kembali normal, aku menjawab kalau aku tidak bisa macam dukun, bisanya kami cuma melihat dan kadang berkomunikasi kalau ngusir ya jelas tidak bisa. Lalu kakakku yang bakal mencoba melihat kenapa bisa suasana jadi buruk dirumah ini, aku ogah banget dan langsung keluar kamarnya.
__ADS_1
Aku kedepan sambil lihatin bintang karna cukup sunyi disini yang terdengar hanya suara jangkrik, lalu tante datang dan memberikan aku kopi dan gorengan, tante tau aku suka itu cuma dia minta maaf karna cuma ada kopi hitam saja dan aku tidak mempermasalahkan itu. Tante bilang cerita kalau pacar si bapak sering sekali kesini hanya untuk melempari tanah, entah itu tanah kuburan atau apa, banyak sekali kejadian aneh, bahkan ada suara seperti ledakan juga diatas rumah saat dicari tidak ada apapun, dan firasatku memang ini kiriman kebencian.
"Kenapa bapak itu gak nikahin pacarnya? " tanyaku.
"Karna ayahmu masih cinta sama ibumu mbak, tapi saya sendiri sebagai ipar juga tidak begitu pagam maunya ayahmu itu karna cukup keras kepala dan suami tante juga sabarnya minta ampun," jawabnya terus terang.
"Tante ciloknya masih ada gak? saya jadi pengen cobain, " jawabku yang gak nyambung.
"Oh ada mbak, saya pikir gak mau jajan begituan ngelihat mbak Ana bagus sekali badannya, tunggu ya. " jawabnya sambil buru-buru kebelakang.
"Tante, besok kan saya pulang, boleh gak saya beli buat saya bagiin sama teman kantor saja, " ujarku sambil makan.
"Boleh mbak, jangan beli nanti saya buatkan saja, " jawabnya.
"Jangan dong tante, ini beneran enak temen-temen saya pasti suka, buatin cilok 400 ribu ya tante, " jawabku.
__ADS_1
"Wah itu besar sekali saya saja kadang sehari dagang cuma 160an dapetnya, " jawabnya lagi.
"Tapi tante bisakan? besok gausa dagang buatin aja buat saya, " jawabku.
"Makasih ya mbak, " jawabnya senang dan terharu.
"Tante pake gelang ini saja, percaya gak percaya bisa jadi penangkal kejahatan, " Ujarku dan memberikan gelang yang aku pakai.
"Ini serius mbak? " tanyanya.
"Tergantung tante, kalau tante percaya bisa jadi iya kalau gak ya gak hehehe... " jawabku sambil tertawa.
Kami lanjut mengobrol tentang kisah si bapak dan pacarnya, entah dia selingkuh atau tidak jelas tidak ada yang tahu karna takut salah sangka, padahal punya keluarga yang sabar dan baik tapi si bapak malah macam itu. Aku menghabiskan kopiku dan datanglah kakakku yang ikut ngobrol dan makan, cerita-cerita sampai malam dan akhirnya kami tidur karna ngantuk dan suasana yang cukup dingin, ternyata aku mimpi, mimpi sosok yang menjadi kisruh dirumah ini, sosok besar adalah penunggu rumah tapi ada sosok lain yang berusaha menembus, sosok besar ini kepercayaan keluarga agar selalu aman, tetapi yang berusaha menembus ini sosok kecil yang bisa menyelinap, serem sih tapi males banget debat sama setan, sama manusia aja ogah.
Pagipun tiba, aku mandi dengan kamar mandi yang terpisah dari rumah setelah itu ikutan kasih makan kambing dan sapi lalu kami makan, nasi jagung dan lauk pauk yang mantab sekali, aku dan Ayu pamit kepasar untuk berbelanja, disitu Ayu sangat excited dan senang sekali, aku membelikan dia pakaian buat kakaknya yang dipondok juga, ibu dan ayahnya juga aku belikan, membeli banyak mainan termasuk barby kesukaanya, boneka juga, tak lupa sepatu buat Ayu, dia senang sekali sampai menangis. Sesampainya dirumah ternyata cilok sudah siap ternyata tante begadang untuk membuatnya, kakakku juga memberikan amplop buat tante sedangkan aku kasih uang jajan buat Ayu dan kakaknya dipondok, mereka terharu dan bahagia, tak lupa kami foto bersama lalu sudah waktunya aku dan kakakku kembali pulang.
__ADS_1