Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
45. Salim


__ADS_3

Keluarga itu datang untuk berbisnis dan membeli dengan sistem barter, membawa pembantunya kakek dan cucu yang sudah turun temurun membantu keluarga itu dari susah sampai mampu saat ini. Salim adalah cucu satu-satunya, kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia adalah anak yatim piatu yang tampan dan gagah, ada mirip dengan Roy, kalau Roy kan sangat visual sekali, dan kakek moyang nya ini pun tampan, jika mirip artis maka ketampanan nya bak Abimana Aryasatya.


Aku langsung bisa berteman dengan Salim karna dia sangat lawak, mirip sekali dengan cicitnya. Serasa aku ingin menceritakan tentang kelakuan cicitnya di masa depan namun tak bisa, maka aku akan berteman dengan nya selayaknya teman. Mungkin Amini menyukainya karna dia sangat komedi sekali dan bahkan berpacaran, mungkin saja tak menikah karna kesenjangan yang ada, tak mungkin juga Asmirah melepaskan putri kesayanganya untuk anak dari pembantu.


Serasa aku ingin tahu sekali tentang Salim dan kehidupan nya, karna di masa depan Roy adalah anak orang kaya, apa yang di lakukan Salim sehingga anak cucu nya bisa lepas dari kasta rendah di masa ini. Sangat keren sekali, aku belum apa-apa saja sudah mengangumimya. Kami makan bersama menyambut tamu, sedangkan salim dan kakeknya makan di belakang, mereka tak mau semeja dengan pembantu, padahal di rumah ini mbok Darmi saja makan di meja yang sama meski terkadang tak makan bersama karna sibuk dengan kerjaan nya.


Sementara orang tua sibuk untuk berbisnis, maka anak-anaknya sibuk untuk bermain. Kami bermain di halaman belakang, seperti biasa Batara sangat senang jika berkenalan dengan orang baru, yang aku bingung padahal Batara seperti anak yang dingin tetapi masa kecilnya di penuhi dengan kebahagiaan kecil bertemu orang baru. Dia sangat suka berkenalan dan menambah teman, memang aku meminta Batara untuk mengajak bermain kedua anak teman bapak ini, sedangkan aku ingin fokus pada kakek moyang Roy.


"Salim, kamu bisa mengupas mangga kan? " Tanya ku.


"Bisa non, saya akan mengupasnya. " Jawabnya.


"Panggil aku Amini saja, " ucapku.


"Tidak, nanti saya dimarahi kakek saya." Jawabnya.


"Tapi aku ingin di panggil demikian. " Jawabku.


"Baiklah, " ucapnya pasrah.


"Kamu sudah lama tinggal dengan keluarga itu? " Tanyaku.


"Sudah, semenjak saya lahir. " Jawabnya.


"Mereka baik? " Tanyaku.

__ADS_1


"Baik." Jawabnya singkat.


"Mengapa kamu menunduk saja? " tanyaku.


"Karna kita sedang di amati oleh nyonya. " Jawabnya.


"Nyonya rumahmu? " Tanyaku sambil melihat ke jendela.


"Iya... saya takut menyebabkan kemarahan atau kakek saya di bentak-bentak. " Ucapnya.


"Kamu tenang saja, dia hanya mengamati kedua anaknya. " Jawabku.


Lalu aku bertanya tentang bagaimana kakek bekerja pada keluarga mereka yang ternyata dulu kakeknya adalah orang yang sedikit mampu karna memiliki warisan tanah, tetapi karna suatu hal kakek entah bagaimana dituduh macam-macam yang menyebabkan beliau harus bekerja dengan keluarga ini dan tanahnya juga diambil. Semacam ada yang menfitnah kakek, karna itu nenek tidak terima dan sakit-sakitan sementara anaknya pun juga di tuduh korupsi atau apalah sangat tidak jelas permainan fitnah ini, anak lelakinya di suruh instrinya untuk kabur dari pada semakin diperbudak, tapi saat kabur tak tahu kalau istrinya sedang mengandung. Ibu dari Salim meninggal dan Salim dirawat kakek neneknya, hidup sederhana dan tetap membantu keluarga itu.


Sedangkan kakek sangat di manfaatkan, karna kakek memiliki kepintaran dalam membangun rumah, mungkin semacam arsitek, maka itu dimanfaatkan oleh keluarga itu, untuk memperkaya mereka. Sedangkan Salim dari kecil diajari membaca menulis dan mengambar denah-denahan rumah. Agar kelak menemukan ayahnya dan bisa kembali menjadi keluarga utuh dan lepas dari keluarga itu. Aku kurang mengerti mengapa kakek ini mengorbankan keluarganya dan kepintaran nya, ada hutang kah, atau fitnah semacam apa yang menyudutkan kakek sampai diperbudak dan kepintaran nya di manfaatkan.


Aku melihat beberapa mirip dengan Roy, entah dari samping atau dari pemikiran-pemikiran nya yang mengarah pada masa depan walaupun absurd ternyata di masa depan ada. Kami bercerita dan tertawa, Batara pun juga suka dengan Salim dan menjadi akrab karna pemikiran Batara di setujui dan mungkin sefrekuensi.


Tanpa sadar keluarga mereka akan pulang dan akan sering sekali untuk datang kemari ataupun kaluarga kami yang kesana, karna mereka seperti memiliki suatu proyek. Dan aku memiliki janji pada Salim untuk selalu mendukung dia dan membantunya dalam hal apapun. Maka kepergian nya membuatku semakin rindu dengan rumah dan semuanya.


Rindu yang membuatku menangis dan terisak sampai sangat sakit dada ini. Rindu yang entah mengapa membuatku merana dalam kesunyian. Batara bertanya mengapa aku menangis dan aku hanya bilang kalau aku merasa sepi dan rindu, lalu dia bertanya lagi rindu pada siapa, dan aku hanya bisa menjawab rindu pada yang merindukanku. Batara seakan mengerti dengan ketidak jelasanku.


"Kak... kakak apakah menyukai Salim? " Tanya nya tiba-tiba yang membuatku yang menangis menjadi tawa.


"Hahaha... Kenapa bisa berpikir begitu? " Tanyaku.

__ADS_1


"Karna kakak setelah kepergian nya menangis. " Jawabnya dengan mata yang serius sedangkan aku masih tertawa.


"Hmm.. dia humoris kan? menyenangkan dan ngobrol dengan nya itu nyambung. " Jawabku.


"Iya... aku akan suka jika dia menjadi kakak iparku. " Jawabnya lucu.


"Kakak ipar? " tanya ku dalam tawa.


"Kenapa kakak tertawa? tadi menangis. " Tanya nya bingung.


"Karna kamu lucu, terimakasih yaa.. sudah menghiburku. " Ucapku sambil memeluknya.


"Aku tidak sedang menghibur, aku berbicara kebenaran. " Ucapnya kesal sembari melepas pelukanku.


"Hmm.. aku sedih, adikku tak mau dipeluk olehku. " Ucapku memasang wajah sedih.


"Bukan begitu kakak, aku hanya tak paham denganmu. " Ucapnya dan memeluk ku dengan erat.


"Apakah bisa aku bersama salim di masa depan? " Tanya ku sambil berpelukan.


"Bisa saja, mengapa tidak? " Ujarnya.


"Tapi salim kan anak dari pembantu, tak mungkin ibu merestui. " Jawabku.


"Mungkin saja, bapak dulu juga orang biasa dan mereka tumbuh bersama, maka kakak juga bisa seperti itu. " Jawabnya yang membuatku lega dan mungkin bisa mengubah masa depan, tapi tak mungkin.

__ADS_1


Lantas apa yang terjadi jika Amini menikah dengan Salim, maka membuat Roy menjadi bagian dalam keluarga itu akan membuat Roy sedih dan bisa saja tak bahagia dalam garis tekanan peraturan keluarga yang tak masuk akal. Mungkin memang takdir bahwa Amini tak dapat bersama dengan kekasih yang membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama itu.


__ADS_2