Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
111. Outlines


__ADS_3

Hari-hari berlalu sampai akhirnya aku dikabari Cantika kalau mamanya sudah sembuh dan mereka sangat senang jika kami berkunjung kerumahnya, karna memang mama nya memang sangat senang dan merasa tidak sendirian lagi jika ada yang paham sesuatu karna memang keluarganya tak ada yang peduli bahkan melupakannya. Bulan depan aku dan Toby memutuskan untuk ke Bali, yaitu karna ini sudah tanggal tua otomatis bulan depan adalah minggu depan, teman-teman sangat excited dan mengingatkan kembali cerita dan garis besar dari masalah ini, dan berharap masalah ini akan selesai dan gak ada kaitannya lagi dengan keluarga itu.


Memang akhir-akhir ini jarang sekali ada gangguan hanya saja Ana dan Toby yang tau kalau mereka masih mengawasi mereka seakan menunggu kapan harus menyerang, dan aku tau betul ketakutan-ketakutan mereka jika tiba-tiba hal buruk terjadi, tapi Kris bilang kalau rumahnya Dipta belum selesai untuk diperbaiki karna Dipta ingin suasana yang baru, dia ingin merombak bangunan itu bahkan dia ingin meruntuhkan bangunannya, tetapi mamanya masih belum setuju dan meminta hanya di cat saja dan merapikan yang rusak tapi Dipta merasa rumahnya terlalu pengap dan ingin yang lebih modern dengan banyak cahaya tetapi belum mendapat restu dan menunggu ayahnya yang di Jepang datang untuk meyakinkan mamanya.


Memang rumah itu jika dibuat sebagai rumah perkumpulan di masa lalu pasti banyak sekali sejarahnya, dan memang bisa saja tersembunyi sesuatu jadinya mamanya tidak setuju, tapi itu hanya anggapanku yang belum tentu benar, mereka saja dengan bangga memamerkan berbagai macam foto yang dipigura dan memang rumah itu termasuk rumah yang antik dan cantik jika memang mau diperbaiki, tapi jika memang Dipta ingin ganti suasana ya kalau memang tidak ada apa-apa harusnya baik-baik saja jika ingin renovasi, tapi masalah sejarah memang susah untuk diikut campuri dengan pendapat luar yang tidak memiliki sejarah dirumah itu.


“Gimana ca, udah dapet kandidat calon pekerja?” tanya Roy.


“Belum ada, aku belum ada yang srek, kek gitu kan pakai hatikan?” jawabku yang santai.


“Aku pikir kamu butuh cepat, yaudah jangan grasak-grusuk santai aja.” jawabnya sambil mengkode untuk ikut dia ke dapur.


Lalu aku jalan mengikuti dia ke dapur dan duduk melihat dia membuat coklat panas.


“Kenapa Roy?” tanyaku.


“Keknya aku beneran jatuh cinta sama Nilam,” jawabnya yang membuatku kesal aku pikir ada masalah serius.


“Hmmm…. Terserah hatimu aja, aku gak akan melarang apapun,” jawabku.


“Ya aku minta pendapatmu lah, kamu kan sahabatku terlama,” jawab Roy sambil memberikan gelas coklat hangat kepadaku.


“Ya menurutmu Nilam punya rasa yang sama atau gak? Inget ya kalian bukan bocil lagi aku gak mau ada ditengah hubunganmu seperti yang dulu-dulu, kau tuh pacarin temenku dan kau temenku juga jadinya kalau marahan bingung akunya woi!” jawabku ketus.


“Iya aku tau, makanya ini aku ingin menjalin hubungan dengan dewasa,” jawabnya.


“Tanya dulu keluargamu, baru aku bisa kasih support.” jawabku dengan santai.


“Kenapa keluarga juga sih?” tanyanya.


“Iyalah, kek aku gak mau flashback untuk ngingetin ya Roy,” jawabku sambil menyeduh coklat hangat. 

__ADS_1


Lalu suasana menjadi hening dan Roy jadi mikir dan juga bingung, lalu aku memeluknya karna aku tau dia sedih dan merasa sendiri, karna memang tak ada background keluarga yang ada untuk dia, dia selalu sendiri, bahkan zaman dulu pernah menginap di rumahku karna dia kabur dari rumahnya dan dia jadi anak bapakku sejak saat itu, tetapi karna akhir-akhir ini bapak sibuk jadinya dia gak mau merepotkan. 


Tiba-tiba Toby datang dan kaget aku memeluk dan menenangkan Roy.


“Kenapa kalian ?” tanyanya.


“Gak papa, Roy lagi gak enak badan,” jawabku langsung pergi dari pantry dan kembali ke mejaku. Aku tau situasi ini membuat Roy merasa terluka jika diingat dulu dia struggle banget untuk selesai dengan dirinya sendiri, bahkan Toby yang sahabatnya saja tak tau, tapi semua tau cerita Toby. hanya Roy satu-satunya orang yang humble yang pandai menjaga rahasianya sendiri.


Dibalik humble dan ramah tamahnya dia yang gampang berbaur itu sebenarnya ada luka yang mungkin belum sembuh, dan dengan cara itu dia memperbaiki dirinya sendiri. Aku lanjut buka email barang kali aja ada yang cocok dengan kandidat yang aku mau, setelah memilih dan mengamati semuanya ada 2 yang menarik perhatian dan ada 2 juga yang cocok sebagai intern. Aku sudah menyiapkan pertanyaan yang berhubungan dengan psikologi dan aku akan mengirimkan pada mereka semua dan kita lihat saja selanjutnya seperti apa. 


Jam pulang pun datang dan aku langsung siap-siap membersihkan meja dan pulang karna hari ini aku ada janji dengan bapak mau makan malam diluar hanya berdua saja, aku pun dengan cepat dan aku pamit pulang lebih dulu kesemuanya, sampai dirumah langsung mandi dan bersiap-siap karna bapak akan pulang dulu dan menjemputku padahal aku maunya langsung ketemu di tempatnya saja tetapi bapak memilih berangkat bersama. Bapak datang dan aku langsung berangkat ke restoran india karna lagi pengen makanan india.


“Tumben bapak ngajakin makan di luar?” tanyaku.


“Kemarin katanya gak pernah ada waktu buat anaknya, sekarang dipertanyakan.” Jawab bapak.


“Iya Sih, tapi ya gak biasa aja,” jawabku.


“Dulu gak yakin, tapi makin lama makin yakin.” Jawabku dengan lancar dan sedikit malu-malu.


“Hahaha… akhirnya cinta karna terbiasa ya?” tanya bapak.


“Iya, ternyata pernyataan itu benar juga adanya, hahaha.” jawabku dengan tawa dan relate sekali dengan kata-kata itu.


Akhirnya kami makan dengan tenang dan lahap karna memang jarang sekali makan masakan india dan merasa enak banget masakannya. Sampai akhirnya bapak bilang kalau kasihan dengan Roy, dia melihat story keluarganya Roy sedang liburan ke luar negeri dan Roy gak ikut, bapak juga bertanya apakah situasi kantor sedang sibuk dan ya aku bilang kalau sedang sibuk dan Roy aja gak ikut rencana ke Balinya, jadi memang Roy mungkin sedang sangat menyibukkan diri untuk membuat dirinya nyaman. 


Bapak juga bilang kalau Roy itu memang cocok dengan Ana, yang satunya tenang dan santai yang satunya bawel dan itu sangat cocok biasanya karna saling mengisi, lalu aku tanya bagaimana dengan aku dan Toby, katanya juga cocok karna yang satu diem yang satu rame, hal-hal kek gitu bisa dikatakan cocok, ada juga orang diem sama orang diem jadinya pertengkarannya hanya diem-dieman dan tidak menyelesaikan masalah. Setelah ngobrol panjang lebar dan akhirnya pulang karna sudah kenyang dan sampai depan rumah ternyata sudah ada Roy yang sedang menunggu di teras rumah dengan bermain catur sendirian seperti biasa.


“Loh Roy, kenapa gak bilang kalau ada disini,” tanyaku.


“Iya kok gak kabari, tau gitu kan om bawa makanan,” imbuh bapak.

__ADS_1


“Iya karna bingung om mau kemana, dan males aja sendirian dirumah, mau ngopi keluar juga bosen banget.” jawabnya.


“Yaudah masuk yuk,” ujarku mengajak dia yang lemas sekali.


“Udah makan belum?” tanya bapak


“Belum, soalnya aku pikir aku bisa numpang makan malam disini,” jawabnya.


“Dih, kebiasaan banget, orang kami habis makan diluar, yauda aku pesenin makanan aja ya,” jawabku.


“Gak mau, aku mau masakanmu,” jawabnya merajuk.


“Pak, gimana nih, manja kali anak bapak satu ini,” ujarku yang kesal.


“Yaudah, bikinin aja telor omelet atau apa gitu, bantuin Aca sana Roy di dapur, om mau mandi dulu.” Jawab bapak dengan santai padahal aku pengen baring karna kenyang.


Akhirnya aku dan Roy bikin omelet dan buat teh tarik biar anget, aku juga ngeluarin cemilan biar dia makin kenyang, tapi sebelum itu masak nasi dulu karna nasinya gak ada, akhirnya aku dan bapak menemani Roy makan tanpa bertanya apapun, kebiasaan kami begitu, kami hanya menemaninya dan tidak membuat dia tertekan dengan pertanyaan kami, kalau dia sudah lega dan kenyang nanti dia bakal nyerocos banyak hal dan curhat sampe pagi.


Karna besok kami semua bekerja, akhirnya bapak stop pembicaraan ini tepat jam 12 malam dan menyuruh untuk tidur, Roy juga tidur di sofa biasa dia tidur, aku langsung tertidur karna capek banget lalu kebangun gara-gara mendengar suara tangisan, karna aku parno akhirnya aku berusaha untuk memasang headset biar tidak terdengar. Pagi Pun tiba dan aku bangun karna kebelet pipis dan aku lihat Roy tidur dengan pulas dan rupanya yang menangis semalam adalah Roy karna bisa dilihat dari kaosnya yang basah dan sisa-sisa ingus. 


Seperti biasa aku menyiapkan sarapan, kali ini karna aku belum belanja sayuran aku membuat waffle aja dan susu kopi buat kami semua, dan membawakan bapak bekal buah-buahan yang sudah di pesan kalau pengen makan buah waktu siang. Lalu tiba-tiba Toby datang dan kaget kenapa Roy tidur di sofa, dia curiga kalau kami ada apa-apa. Lalu bapak menjelaskan kalau tidak perlu cemburu ke Roy, karna Roy sudah dianggap keluarga di sini, dia disini karna merasa kesepian, jadi baiklah kepadanya, itu pesan bapak sambil ngedumel kenapa sarapannya ala-ala barat gini kan jadi gak kenyang dan aku minta maaf karna memang belum belanja gak ada yang bisa dimasak pakai nasi, bisa sih bikin nasi goreng tapi karna aku suka kesimple an dan yang praktis-praktis makanya kek gitu. 


Lalu aku mandi, gantian sama Roy dan sarapan bersama, rupanya Roy pinjam baju bapak karna kaosnya memang banyak ingusnya tetapi aku tak membahas itu di meja makan, dan aku ingin energi baik pagi ini agar melalui hari dengan baik. Toby menatapku dengan tajam seakan butuh penjelasan dariku padahal kan bapak sudah kasih tau kenapa dariku jugasih, aku kan jadi kesal padahal aku sudah membuat energi yang harus baik hari ini.


Diperjalanan aku juga memesan tiket untuk ke Bali, Ana juga ikut jadinya kita bertiga yang ke Bali dan Ana yang paling excited. Tiba-tiba saja ada kabar kalau Laras pengen datang ke kantor sedangkan situasi kantor tidak memungkinkan untuk menyambut kedatangannya karna ada client datang dan meeting jadinya dengan terpaksa kami menolak dan harus fokus dengan pekerjaan dulu tetapi Laras memaksa dan bilang ada sesuatu yang harus dibahas, akhirnya Ana yang mengalah dan akan keluar untuk menemui Laras, Laras juga meminta untuk bertemu di sebuah kafe yang dekat dengan kantor kami, lalu Ana menolak dan meminta pindah kafe saja yang ada di tengah-tengah biar adil.


Seperti biasa aku penasaran tetapi kali ini aku tak mau penasaran membuatku terpecah fokus karna aku juga harus menemani Roy yang sedang menjadi bos utama dengan keadaan kalut. Akhirnya meeting selesai dan semua lega dengan hasilnya, tak di sangka meeting ini berlangsung dengan lama dan kami harus pulang malam, anak-anak intern sudah pada pulang dan kami semua masih menunggu kabar dari Ana di kantor, karna Ana tak membawa tas laptopnya otomatis dia akan kembali ke kantor untuk mengambilnya. Setelah menunggu sekitar 1 jam dan aku ketiduran dan dibangunin Ambar kalau Ana sudah sampai, akhirnya kita berkumpul di ruang rapat untuk mendengarkan Ana bercerita.


Ternyata Laras meminta bertemu karna keluarga dia sedang kacau dan butuh pertolongan kami untuk membantu mereka berkomunikasi dengan moyangnya, tapi Ana bilang kalau kenapa harus kami yang membantu sedangkan kalian keluarga inti, harusnya bisa dengan mudah saja berkomunikasi tanpa perlu bantuan, kan mereka keluarga inti sedangkan kami hanya orang luar yang tidak ada hubungan apapun. Ana juga bilang kalau kami sudah tidak mau lagi ikut campur karna sangat merugikan kami semua, padahal memang sudah ada izin dari pemilik rumah untuk kontrak dan tinggal dirumah itu, tetapi kenapa kami yang malah di teror, ini semua kesalahan kalian tapi kenapa kami yang jadi ikut getahnya.


Karna langsung di skak gitu sama Ana, membuat Laras sulit untuk berkata-kata bahkan untuk membela diri, dia juga bingung kenapa bisa berdampak ke orang lain, padahal dulu juga semua makam sudah dipindahkan, rumah itu juga sudah bukan rumah makam tetapi masih saja terjadi hal-hal aneh, gangguan dan ancaman yang tidak jelas, bahkan seperti ada yang mengikuti dan mengamati kami. Apa yang keluarga mereka harapkan dari kami yang orang luar ini, apa yang jadi maksud dan tujuannya, apa tujuan mengganggu kami lagi, kami hanya ingin berteman dengan pemilik rumah tidak kurang dan lebih, bahkan jika pertemanan itu membuat malapetaka maka lebih baik kita berjauhan saja.

__ADS_1


Laras hanya diam tanpa kata seakan tidak percaya kalau orang yang dianggapnya baik dan bisa diperalat atau dimanfaatkan bisa berucap menusuk seperti ini, aku sangat bangga dengan Ana dan langsung senang dengan apa yang Ana utarakan, kami semua langsung memeluk Ana tetapi kata Ana jangan senang karna ini dulu, karna dengan kita berucap begitu berarti sebagai tanda kalau kami bukan ada di pihak mereka, dan ini adalah tanda bendera peperangan.


__ADS_2