
Aku tak menyangka bu Diajeng menceritakan segalanya dan memberikan aku penglihatan dimasa lalu. Aku sedih dan merasakan sakit yang luar biasa, hatiku sakit, jiwaku sakit, tubuhku sakit, semuanya sakit. Apa ini ? aku harus bagaimana dengan sekelumit keadaan dimasa silam, haruskah aku membongkar segalanya, agar aku bisa kembali ke tubuhku? atau aku hanya mengikuti sungai yang mengalir tanpa pemberontakan?.
Dalam tidurku aku terus menerus bermimpi yang aneh dan tak baik, kadang aku juga tak mampu menjangkau sesuatu karna tak memiliki kekuatan magis, lantas bagaimana bu Diajeng menjalani kehidupan rela berkorban demi anak semata wayangnya, dan anaknya malah tanpa sengaja membuat ibu nya mati ditanggan istrinya sendiri. Membunuh secara keji kepada bu Diajeng mertuanya bukanlah hal yang remeh tapi ini kasus penting, karna anak semata wayangnya tak mengerti apapun.
Naluri ku berkata, ini harus diusut tuntas, aku harus jujur dengan pak Broto dan mengungkapkanya bagaimanapun caranya. Tetapi bagaimana aku menghadapi bu Asmirah yang sedikit sakit jiwa sebab membunuh mertuanya dan selalu diikuti arwah bu Diajeng. Aku kalut dalam ketakutan yang membingungkanku.
__ADS_1
Setiap hari aku melihat bu Diajeng melayang mengamati bu Asmirah, dan aku tak tahu apakah bu Asmirah menyadarinya atau tidak. Mata penuh dendam dan amarah bu Diajeng tak bisa membohongi bahwa dirinya tidak terima dibunuh secara keji dan di fitnah bunuh diri.
"Batara... apakah boleh aku meminta sesuatu" Tanya ku pada Batara yang sedang menemaniku dikamar.
"Apa itu? " Tanya nya.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita janji kelingking" Jawabnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
Lalu aku menceritakan semuanya kepada Batara tentang apa yang aku alami, bu Diajeng dan semua pembunuhan itu selain tentang aku yang adalah Aca, Batara terkejut dan takut dengan apa yang aku ceritakan, tapi dia mempercayaiku, karna dia juga merasakan sedikit hawa mencekam jika dekat-dekat dengan bu Asmirah. Batara berucap akan membantuku bilang kepada pak Broto tentang semuanya, tapi Batara memintaku untuk bersikap normal dan biasa saja meski aku bisa melihat arwah bu Diajeng, dan aku menuruti solusi dari Batara.
Saat sarapan pagi, pak Broto bertanya tentang keadaanku yang mulai membaik dan berpesan agar aku segera melapor jika merasa tak enak badan lagi. Pak Broto sangat perhatian dan hangat dengan keluarganya. Bu Asmirah dengan anggun nya mengecup pipi pak Broto yang akan berangkat menjual lukisan nya, sungguh keluarga yang teduh penuh kehangatan, tak akan ada yang menyangka bahwa istri yang anggun adalah seorang pembunuh.
__ADS_1
Setiap hari aku mengamati gerak-gerik bu Asmirah, menghapalkan kapan dia kumat dengan anxiety nya dan kapan dia normal sampai aku bisa menemukan titik terang. Beliau kadang menggigit jemarinya sampai berdarah, itu pertanda bahwa dia sedang kumat, jika dia senyum dan berperilaku hangat maka dia sedang sehat.
Aku mulai menjaga jarak dengan bu Asmirah karna tak ingin ada pertengkaran yang entah itu ulah ku atau bu Asmirah, tapi aku selalu ngeri melihat bu Diajeng yang selalu ada didekatnya. Terkadang bu Diajeng menatapku dengan tatapan miris, seraya ingin sekali terungkap bahwa ia tak bunuh diri, ingin sekali anaknya mengetahui kekejaman istrinya. Tapi aku dalam hati berkata, sabar bu, hari itu akan datang.