Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
74. Toby [4]


__ADS_3

Aku stuck dan bingung harus bersikap bagaimana, apakah aku harus diam saja atau langsung menangkapnya, tak sempat memutuskan harus bersikap apa, pintu kamarku sudah di ketok mama.


"Bi.. bangun, mama berangkat ngajar dulu ya, sarapan udah ada di meja makan, buruan. " Ujar mama sambil membuka pintu.


"Iya ma, masak apa? " tanyaku.


"Bangun, liat sendiri. Dah yaa mama males kena macet. " Jawab mama dan berlalu pergi.


"Iya maaa, hati-hati dijalan. " Jawabku sambil membuntuti mama dan melihat beliau bergegas berangkat ngajar.


Pagi ini sangat mendung, mungkin akan hujan, saat aku membalikkan badan tiba-tiba sosok itu sudah ada dibelakangku, aku sangat kaget dan ketauan kalau aku bisa melihatnya.


"Woi! mau apasih kau ini? " tanyaku terpaksa.


Dia hanya diam menunduk.


"Mau apa? ngomong? balik kau sana, ngapain disini? " bentakku.


Lalu dia tertawa, benar-benar tertawa cekikikan dan berubah menjadi sangat menyeramkan, lalu menghilang.


Sontak aku kaget, apa maksud dari wanita gak jelas itu. Ngikut tapi sok cantik pas ketauan berubah menyeramkan. Akhirnya aku mandi dan melamun dikamar mandi karna masih sedikit shock dan memikirkan apa maksud nya, apakah ada sesuatu atau tujuan dari dia datang atau hanya iseng, atau sebuah tanda. Setelah mandi dan memakai pakaian tiba-tiba bel rumah bunyi, aku pun kesal siapakah gerangan jam 05.30 ini bertamu.


Saat aku buka pintunya ternyata Ana.


"Lama bangetsih bukain nya? " Ujar Ana ketus.


"Yaaa... ngapain pagi-pagi tuh? " tanyaku.


"Sini duduk, ada yang mau aku omongin. " Ucap Ana tergesa-gesa.


"Kenapa? " tanyaku sambil duduk.


"Ada cewe, rambut panjang ... " ujar Ana.


"Berkebaya lusuh, " sautku.


Tatapan Ana pun langsung berubah dan kaget, bagaimana bisa aku tau apa yang dia maksud, pasti itu pikirannya.


"Hah? dia nyamperin kesini juga? " tanyanya.

__ADS_1


"Iya, semalam aku cuekin terus pagi ini tiba-tiba ngagetin terus ketawa cekikikan berubah jadi serem terus ngilang, " jawabku menjelaskan singkat.


"Anjir! dia juga dateng semalem ngikut kek muter-muterin rumahku, dia gabisa masuk kan rumahku dipagerin, tapi dia diem aja di jendela aku jadi risih, akhirnya aku samperin, malah diem terus nangis terus ketawa, diem lagi, gitu lagi, gajelas. " Ujar Ana menahan emosi.


"Iyaaa... makanya pas semalem kau nelpon nih gak ku tanggepin, karna dia ada dikamarku. " Jawabku.


"Dia tuh dari rumah tante Sari, yakin aku pernah liat gatau dimana. " Jawab Ana.


"Kita sambil sarapan yuk, " Ajakku.


"Iya, aku laper belum sarapan tadi cepet-cepet kesini. " Jawab Ana sambil jalan ke dapur.


"Aku pernah liat dia di foto pigura yang di pasang di lorong dekat kamar mandi. " Ujarku memberi tahu.


"Iya... keknya bener itu, " jawab Ana sambil ngunyah makanan.


"Beberapa kali aku lewat situ, framenya selalu miring dan selalu aku benerin tapi miring lagi terus. " Jawabku tenang.


"Maksud dia apa datengin kita, ada tanda atau petunjuk gak? " tanya Ana.


"Gaada, emang gajelas aja dia. " Jawabku.


Akhirnya sampai dikantor, dan ternyata kantor masih sepi, rumah juga bentar lagi akan jadi 100% rasanya liat bangun rumah sendiri itu menyenangkan, aku langsung duduk dimejaku karna ada jadwal meeting dengan kantorku yang satunya. Tanpa sadar Aca sudah ada disampingku mengamatiku meeting dan melihatku dengan tajam membuatku sedikit salting untung saja meetingnya sudah selesai.


"Kenapa ca? " tanyaku.


"Gapapa, malam ini ada acara gak? " tanya Aca.


"Ada, acara makan sama rekan kantor satunya, karna menang tender. " Jawabku.


"Oh.. okey selamat yaaa.. " Ucapnya yang aku tidak paham, apakah itu benar-benar ucapan atau sarkas.


"Kenapa emang ca? " tanyaku.


"Rencana nya aku mau ngajak kau makan malam, tapi gajadi kalau gitu, " jawabnya.


"Kalau gitu aku gausa ikut acara kantor aja, " jawabku.


"Gausa, ikut aja makan malam kita lain kali aja, " jawabnya sambil memberi tanda dia mau mengangkat telpon dihp nya.

__ADS_1


Aku pun antara senang dan sedih sekarang dia sudah mau membuka diri, namun kenapa pas sekali acaranya sama acara kantor. Sangat menyebalkan, punya 2 kerjaan aja dah sakit kepala, dicampur masalah percintaan ini sangat memusingkan. Dewasa oh dewasa, dulu waktu bocil keknya aku santai dan main-main aja, ternyata menjadi dewasa setidak menyenangkan itu.


Akhirnya aku yang berpusing ria dengan pekerjaanku ini, tiba saatnya harus bergegas ke kantor satunya.


"Maaf banget yaa, aku gabisa ikut rapat, " ucapku pada anak-anak yang lain.


"Yoi bro, santai. " Jawab Roy.


"Kalian gausa takut, pasti bisa berakhir dan putus dengan rumah basecamp lama. Nanti apapun hasil polingnya aku percayakan pada kalian. " Ujarku dan berlalu pergi.


Dalam perjalanan ke kantor tiba-tiba mama telepon.


"Iyaa.. ma, ada apa? " tanyaku.


"Mama nginep dirumah mbah putri yaa, besok mama libur. " Jawab mama.


"Mama udah disana? " tanyaku.


"Udah, baru sampai ini. Kamu pulang jangan malam-malam. " Ucap mama.


"Iya ma, ini lagi ada acara kantor nih menang tender, jadi harus ikut pestanya aja habis itu pulang. " Jawabku.


"Aca ikut? " tanya mama.


"Aca masih ada rapat ma, ini kantor satunya. " Jawabku.


"Aca itu diajak aja kalau ada acara kantor satunya, biar dia percaya dan merasa dianggap. Kali aja dia curiga kamu punya pacar dikantor satunya. " Ujar mama menasehati.


"Gak lah ma, bisa aja mama ini. " Jawabku.


"Yaa gimana, teman kuliahmu si Dina kan suka kamu itu, ada dikantor satunya juga. " Jawab mama.


"Aku tau batesan kali ma, orang cuek aja kok aku ke Dina. Aca pun juga ga komen apa-apa, " jawabku.


"Yang ga komen apa-apa malah serem loh, hati-hati. Yauda nak mama matikan telpon nya. " Jawan mama.


"Iyaa maa... " Tut langsung mati telpon nya, jawab dulu kek harusnya.


Sesampain nya aku dikantor, acara sudah ramai dan penuh suka cita. Aku memang tak pernah kepikiran Aca akan merasa cemburu atau apapun, selama aku ke kantor ini Aca pun tak pernah tanya apa yang terjadi disini, tak pernah kepo bahkan mengenai Dina yang dia juga tau kalau aku beberapa kali pernah di tembak Dina, sering sekali dia menyatakan perasaan dan perhatian yang tak pernah aku gubris dan menolak dengan baik.

__ADS_1


Dina pun juga tau aku sudah bertunangan dengan Aca, tapi aku tak pernah mau jika harus berakhir dengan kesalahpahaman yang dibuat Dina untuk menghancurkan hubunganku dan Aca.


__ADS_2