Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
110. Mirror


__ADS_3

Minggu ini aku berencana ke rumah Nilam dengan Ana, aku juga penasaran dengan cermin itu, Toby tak ikut karna dia harus memancing dengan bapak dan berangkat tepat di malam minggu, dan malam minggu Ana akan menginap dirumahku. Kami melewati beberapa hari ini dengan kesibukan yang luar biasa, dan aku sudah harus bersiap untuk hire orang lagi karna aku tak bisa menghandle semuanya, meski aku dibantu sama Kris tapi Kris juga punya divisi sendiri.


“Kamu yakin cari pekerja bukan anak magang?” Tanya Ambar.


“Iya, kayanya aku butuh bagian videographer deh, nanti aku mau bagi siapa yang handle bagian design dan video,” jawabku di akhir hari menuju pulang.


“Iya gapapa, lagian kerjaanmu itu juga berat dan bikin stress,” imbuh Roy.


“Cari aja 2 orang langsung, jadi biar bisa kebentuk timnya.” Jawab Toby.


“Satu aja, dan satunya bisa intern.” Jawab Roy.


“Okay, aku akan bikin desain lokernya,” jawabku langsung kembali ke mejaku.


“Yaudah, aku pulang ya,” jawab Ambar dan langsung di iya kan oleh kita semua.


Aku mengerjakan cukup sebentar saja dan langsung di publish, barang kali aja besok mengecek sudah ada email masuk, hari ini pas malam minggu, Toby juga sudah pulang karna harus janjian sama bapak, sedangkan di kantor tinggal aku, Ana dan Roy. malam ini Roy sibuk karna dia harus mengurus proposal biar bisa masuk ke sebuah hotel bintang 5 tentang mereka yang ingin mempromosikan hotelnya, dan semoga perusahaan kami yang dipilih, aku juga membantu membuatnya dan menata kata-kata serta layoutnya.


Tanpa sadar sudah jam 8 malam, dan Roy lapar dia ingin makan pizza dan order online, sedangkan aku dan Ana sudah mau pulang tapi gak tega dengan Roy akhirnya kami nemenin aja sampai Roy merasa sudah cukup. Kami makan dan membahas bagaimana kelanjutan kantor ini yang harus bisa maju dan berkembang dikenal orang dan mempunyai nama, karna di kota ini nama perusahaan ini masih ada di nomer 3, saingan kami pun cukup kompetitif dan kami tak pernah menurunkan harga untuk menggaet pasar, karna itu bisa ngerusak pasar sih jadi aku gak mau, kita harus mencari cara lain.


Nama perusahaannya Monday Morning Art tapi tiap senin pada malas-malas apalagi kalau hujan, MMA ini harus bisa ngalahin nama yang sudah besar dan bahkan punya kantor lagi diluar kota, walaupun yang diluar kota itu khusus wedding sedangkan kami melayani jasa yang berhubungan dengan seni apapun itu, memang seperti kemaruk karna tidak fokus di satu hal tapi karna melayani berbagai macam hal, jadinya enak orang butuh apapun ada di satu tempat aja.


Sudah jam 10 malam akhirnya kami pulang, dan aku pulang kerumah dengan Ana karna memang janjian untuk nginep dirumah, Roy pun karna diceritain masalah cermin dia jadi pengen ikut, jadinya minggu pagi dia juga mau kerumah. Saat pulang rupanya bapak dan Toby sudah berangkat dan tidak mengirimiku pesan atau paling gak pamit kek, ini gak ada sama sekali, sepertinya mereka terlalu bersemangat. Karna ini malam minggu aku berencana nonton sama Ana dan makan sepuasnya untuk menemani tontonan kami, sampai akhirnya ketiduran dan bangun-bangun sudah jam 8 pagi dan kami bangun siang, ternyata di HP ku sudah banyak sekali telepon, ternyata Roy sudah datang jam 7 pagi, kenapa dia rajin sekali ya.


“Maaf ya Roy, baru bukain pintu hahaha… baru bangun,” jawabku tertawa karna melihat muka bantal Roy dengan catur yang dia mainkan.


“Ya.. ya.. ya.. “ jawabnya kesal.


“Kenapa pagi banget?” tanyaku.


“Mau sarapan disini, dirumahkan sendirian malas banget aku.” Jawabnya masih kesal langsung rebahan di sofa.


“Yaudah tidur lagi aja, aku beli bahan makanan dulu di warung sayur,” jawabku sambil ke dapur bikinin dia kopi.


“Aku juga ikut belanja dong,” ujar Ana.


“Iya, kamu mau kopi? “ tanyaku ke Ana.


“Mau,” jawabnya ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Aku membuatkan kopi untuk kami bertiga dan memanggang roti biar perut ada isinya, lalu jalan sama Ana ke warung sayur yang ada di belakang kompleks. Kami pun berencana untuk memasak sop dan perkedel kentang, ayam goreng dan juga sambal, tidak lupa membeli kerupuk, kami hanya jalan kaki saja karna memang dekat. Ternyata dirumah Roy ketiduran lagi sampe ngorok-ngorok berisik banget, sedangkan aku dan Ana memasak, saat selesai baru deh bangunin Roy dan langsung sarapan.


“Hmm.. enak banget pagi-pagi ngopi terus sarapan,” ujar Roy sambil menyantap makanan.


“Ya sana cari istri,” jawab Ana ketus.


“Cari istri dimana?” tanya Roy.


“Kan kenalanmu banyak, orang paling humble kan cuma kau aja Roy,” jawabku.


“Dikira humble gampang cari pacar?” tanyanya.


“Ya gampang, dulu kan mantanmu banyak tuh,” jawabku.


“Ya karna mereka geer aja kali, baper karna aku terlalu baik,” jawabnya sambil tersenyum.


“Maka dari itu aku benci kali sama orang humble gak jelas, dan gampang mainin perasaan orang,” jawab Ana ketus.

__ADS_1


“Eiy kenapa kek gitu sih na, kita sahabatan dari SMA loh,” jawab Roy.


“Ya bodo amat, gedek kali aku liat laki modelan gini, untuk kita temenan kalau aku temen mantanmu pasti dah ku jambak rambutmu,” jawab Ana.


“Ya gimana sih, orang emang baik disalahin,” jawabnya.


“Gak papa baik, tapi kek gausa terlalu baik dan humble kesemua orang juga sih menurutku, tapi kalau kau emang tipikal kek gitu, ya gausa baperin anak orang, contohnya Kris tuh, dah gedek akhirnya karna kau gak sat set ya diambil orang.” Jawabku.


“Jadi gitu ya persepsi cewe, aku merasa bersalah, padahal aku gak merasa demikian” jawab Roy.


“Halah!” jawab Ana.


Kami pun masih memperdebatkan masalah humble dan lain-lainnya, setelah makan juga masih debat tentang itu, sampai akhirnya Ana capek sendiri dan gak lama Nilam mengabari kalau orang rumahnya sudah berangkat rekreasi semua, jadi kami bisa kerumahnya. Akhirnya kami ke rumah Nilam jalan kaki aja sambil jalan-jalan karna memang masih jam 10 pagi jadi matahari masih bagus. Sesampainya disana Nilam sudah nungguin depan rumah.


“Wah dah ditunggu nih,” ujarku sambil membuka pagar rumahnya.


“Iya, aku juga takut di rumah sendirian,” jawabnya.


“Oiya kenalin ini Ana, kalian sering ketemu tapi gak pernah ngobrol kan, dan ini Roy.” Ujarku mengenalkan teman-temanku.


“Iya, padahal dah dari dulu loh, kita juga saling follow IG,” jawab Nilam sambil menyalami Ana.


“Iya … hahaha maaf ya, makasih udah dibolehin main kesini,” jawab Ana.


“Tentu saja boleh, kita cuma berbeda sekolah dulu,” jawabnya.


“Hai, aku Roy,” Ujar Toby sambil menyalami Nilam.


“Iya, hai, aku Nilam… emm yuk masuk,” jawab Nilam.


Roy pun langsung membicarakan Nilam dengan kemungkinan dia menyukai Nilam karna Nilam berambut hitam panjang dan berkulit eksotis yang sangat anggun. Lalu tiba-tiba Ana pusing dan sedikit panic attack yang membuatnya susah bernapas dan terengah-engah, aku pun kaget kenapa Ana tiba-tiba saja begitu. Karna dia sadar yang dibicarakan Roy bukan Nilam karna rambut Nilam memang panjang dan hitam tetapi Nilam tidak berkulit eksotis atau sawo matang, kulit Nilam cenderung putih dan aku juga tidak sadar dengan yang diomongin Roy, ternyata yang dilihat Roy berbeda dengan apa yang kami lihat.


Setelah Ana tenang dan minum teh hangat dia, memegang mata Roy dan melepaskannya seketika Roy ketakutan dan merinding hebat. Aku pun jadi bertanya-tanya apa yang terjadi dan kenapa ini tiba-tiba begini. Ternyata memang cermin itu memiliki efek dan dampak yang sesuai dengan kemauan si cermin, cermin itu merekam kejadian-kejadian masa lalu dan memang kebetulan pemilik cermin itu menampakkan diri ke Roy.


“Jadi sebaiknya aku apain cermin ini na?” Tanya Nilam.


“Biarkan cermin itu dimana dia berasal, dan sebaiknya memang ditutup saja jangan dibiarkan terbuka,” jawab Ana padahal kami belum melihat cerminnya tapi sudah kejadian seperti ini.


“Dimana cerminnya sekarang?” tanyaku.


“Ada digudang belakang dan memang ditutup kok, ayok deh sekarang aja kita pindahin ke posnya,” jawab Nilam takut.


Kamipun ke gudang belakang dan ternyata cerminnya terbuka dan kainnya buat selimut kucing yang baru melahirkan.


“Astaga, sepertinya ini ulah ibuku, karna kucing kampung ini lahiran dibelakang memang, aku gak tau kalau pakai kain ini,” ujar Nilam.


“Cerminnya sangat cantik dan vintage,” ujar Ana.


“Iya, makanya aku bawa pulang,” jawab Nilam.


“Ada kain lain gak?” tanya Ana.


“Tunggu ya, aku carikan.” Jawab Nilam sambil meninggalkan kami.


Memang cermin ini sekitar berukuran 50 cm berbentuk oval dan sangat vintage dan perkiraan memang sudah ada puluhan tahun lalu, karna ada ukiran inisial nama yaitu A.S entah itu milik siapa, dan memang sangat cantik andaikan cermin ini di retouch ulang. Kami pun membawa cermin itu keluar dan Ana memotretnya, dan melarang kami melihat cermin itu lagi, pokoknya dilarang bercermin.


Lalu Nilam datang dan memberikan kain, akhirnya kami jalan ke pos dan menyimpannya di rumah yang tak berpenghuni itu, memang sebagian sudah roboh atapnya dan di buat bangunan kayu baru sebagai pos bahkan ada kolam lele nya untuk warga sekitar dan kami mengubur cermin itu lalu kembali ke rumah Nilam.

__ADS_1


“Terlalu banyak memori kelam di cermin itu, jadi sebaiknya semua memori kelam itu dikubur dan tidak membahayakan masa kini,” ujar Ana sambil menghabiskan tehnya karna haus.


“Memori kelam apa?” tanya Roy.


“Yang kamu lihat tadi itu kan yang punya cermin, tapi dengan wajah Nilam, tapi sebenarnya dia itu dibunuh oleh laki-laki yang melecehkannya,” jawab Ana.


“Duh kok serem banget ya na, kok bisa cermin itu ada dirumah itu ya, kita jadi harus hati-hati kalau membeli barang kuno.” jawab Nilam.


“Iya karna barang kuno itu punya sejarah dan merekam beberapa generasi,” jawab Ana.


“Untung deh ada kalian, makasih ya,” jawab Nilam.


“Untung juga kamu cerita ke Aca, kalau enggak hal-hal yang dulu terjadi akan terulang lagi,” jawab Ana.


“Hah? Terulang gimana na?” tanyaku.


“Pemilik rumah dulu apakah pernah kehilangan anaknya?” tanya Ana.


“Pernah dulu katanya, anak nya laki-laki kabur dari rumah karna menghamili pacarnya, dan laki-laki itu gak mau bertanggung jawab karna memiliki tunangan, jadi dia selingkuh gitu.” jawab Ana.


“Terus anaknya gimana?” tanya Ana.


“Anaknya meninggal dalam kandungan, dan gak tau ya kalau sekarang gimana, karna memang anak-anaknya gak pernah nengok rumah itu lagi.” jawab Nilam.


“Serem juga ya,” jawab Roy.


“Astaga untung aja keluargaku baik-baik aja.” jawab Nilam yang merinding ketakutan.


Kami lanjut bicara panjang lebar, dan rupanya Roy ingin mengenal Nilam dengan detail karna dia tanya berbagai macam hal dan pekerjaan Nilam dan lain-lainnya, bagi kami ini hal biasa sebagai manusia humble, tapi saat kembali pulang kerumah karna cuaca mendung dan seperti mau hujan Roy cerita kalau Nilam seperti nya cocok menjadi istrinya.


Kami langsung menanggapi dengan tawa, karna tiba-tiba Roy berbicara seperti itu, sedangkan aku akan kasihan Nilam, Nilam akan kerepotan menghadapi keluarga Roy sedangkan keluarga Nilam sangat-sangat sederhana dan penuh dengan kehangatan, sangat terbalik dengan keluarga Roy yang sangat sibuk dan seperti dingin dengan orang lain, jadinya Roy sangat hangat dengan orang lain.


Akupun tak setuju kalau Roy suka dengan Nilam, lagian ini juga pertemuan pertama yang tak bisa dikatakan jatuh cinta dari pandangan pertama, bisa saja ini sebuah efek dari cermin, jadinya Roy harus hati-hati dulu. Sedangkan Roy tidak terima dikatakan seperti itu padahal dia memang seperti itu hanya saja tidak sadar, kami lanjut makan siang dengan menu yang sama hanya saja ditambah tahu isi dari Nilam tadi. Tiba-tiba bapak dan Toby datang dengan suasana yang gembira karna Toby berhasil menangkap ikan meski kecil-kecil. Lalu mereka membaginya untuk dibawa pulang Toby, Roy dan Ana, sedangkan bapak hanya mengambil satu ikan yang besar saja.


“Ca, aku hebatkan, meski dapat ikan kecil aja,” ujar Toby.


“Iya hebat, tapi kamu lebih baik mandi sana, kecut banget.” Jawabku menggodanya.


“Ih iya, ada handuk gak?” tanyanya.


“Bentar,” jawabku sambil mengambilkan handuk.


“Haduh, calon suami istri ini mesranya, gemes deh,” ujar Roy yang menggoda juga.


“Kamu udah ada pacar Roy?” tanya bapak.


“Belum om, tapi berencana mencari istri sih, bukan pacar lagi,” jawab Roy pede.


“Ya gitu bagus, jangan main-main mulu.” Jawab bapak bangga.


“Iya om, tadi tuh bahas tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi nih cewek-cewek gak percaya.” jawab Roy.


“Ya emang susah dipercaya kamu Roy dengan kepribadianmu yang santai dan gampang akrab ini.” Jawab bapak.


“Tuh kan, sadar kek,” jawab Ana.


“Kalau menurut om sih, Roy itu cocok dengan cewek seperti Ana.” Jawab bapak yang langsung membuat Ana berekspresi jijik dan geli dan membuat tawa bagi kami semua.

__ADS_1


__ADS_2