Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
58. Aku melihatnya


__ADS_3

Aku diam, telingaku serasa sakit seperti ada peluit keras nyaring. Aku tertegun dan diam benar-benar diam, ku tatap Kris ketakutan dan bersembunyi dibalik punggungku.


"Kamu lihat apa Kris? " tanyaku berbisik.


"Itu... ada bayangan aneh. " Jawabnya bergetar.


"Bayangan apa? " tanyaku lagi.


"Gatau, gajelas tapi berat banget badanku dari tadi, mungkin bayangan itu ngikutin. " Jawabnya gemetaran.


Aku hanya menutup mata, menarik napas dalam-dalam dan berpikir, ku buat sibuk isi otakku sampai aku tak punya rasa takut lagi, sembari aku menenangkan Kris dan menyuruhnya untuk tidur saja, pokoknya tutup mata saja. Pasang earphone dengerin lagu keras-keras pokoknya merem aja lama-lama juga sampai ditujuan. Aku tertidur pulas karna kelelahan secara jiwa raga serta marah yang teramat marah karna tak terima dengan situasi ini. Sampai akhirnya aku terbangun dan belum berani melihat kedepan, aku hanya melihat Kris yang tidur pulas juga, karna lapar aku membuka roti dan menyantapnya pelan-pelan, sambil chat Ana menanyakan dia ada dimana, karna sepertinya kami akan segera sampai. Kata Ana udah dijalan sama Toby dan Roy.


Akhirnya sampai juga ditujuan, aku membangunkan Kris dan dia kaget lalu melihat ke arah depan ternyata dia bayangan sudah tidak ada, tetapi aku tau dia masih ada karna nampak sekali kaki ngambang tak berpijak, aku berusaha cuek aja jangan sampai dia sadar aku bisa melihatnya. Kami turun dan ke kamar mandi dulu, lalu menemui teman-teman yang sudah menunggu di pintu keluar.


Kris langsung berlari memeluk Ana dan merasa badan nya sangat lemas. Sedangkan responku saat bertatapan dengan mereka hanya senyum kecut dan diiringi buangan napas yang berat. Roy dan Toby membantu membawa barang-barang kami, dan berjalan menuju mobil. Toby bertanya apakah aku dan Kris ingin makan dulu disuatu tempat, Kris menjawab dengan cepat jika dia ingin makan di mall sekalian ngademin badan dan dia juga ingin berbelanja agar dia bisa kembali tak merasa takut. Sedangkan aku aslinya hanya ingin pulang dan rebahan, tapi karna Kris ingin begitu makanya aku ikut aja.


Aku tau mungkin Kris merasa aman jika dia berada ditempat yang banyak orang, sedangkan aku yang merasa lelah fisik dan pikiran hanya bisa menurutinya saja, karna gamau dia sakit atau ada dampak yang lain. Kami semua langsung menuju mall, kami makan dengan lahap lalu Kris ditemani Roy berbelanja, sebenarnya Kris minta Ana yang menemani tapi Roy menawarkan diri, sedangkan Kris juga tau kalau aku akan bercerita pada Ana.


"Jadi gimana ca? kamu gapapakan? " tanya Toby.


"Gapapa sih, " jawabku ragu.


"Kenapasih! kamu ga bales chatku gak angkat telepon, ngilang aja gaada kabar? " amarah Toby muncul.


Sedangkan tanggapanku hanya diam saja.


Aku bercerita mulai awal sampai akhir kepada mereka berdua, dan mereka berdua takut sebenarnya karna aku bisa melihat yang tak kasat mata dan harus segera ditutup saja takut beresiko. Mereka juga tak mengerti kenapa saat pergi ke kota lain ada saja yang mengikuti, Toby sangat marah dan ingin segera menelepon Laras tapi dilarang oleh Ana.


"Sebaiknya kita diam saja, pura-pura saja tak terjadi apapun. " Ucap Ana.

__ADS_1


"Tapi ini keterlaluan, gangguin calon biniku. " Jawab Toby kesal.


"Iyaaa... sabar aja, " jawab Ana.


"Masih jelas diingatanku, mata siapa yang menatapku dengan tajam, dengan senyum bak belati yang siap menusuk. " Terangku.


"Siapa? " Ucap mereka berdua berbarengan.


"Asmirah, " jawabku jelas.


Mereka berdua langsung shock dan kesal, kenapa Asmirah lagi, apakah dia sudah menyadari bahwa didunia ini dia sudah ketauan sebagai pembunuh mertuanya. Dari dulu ini sangat mengganggu pikiran kami semua, ingin rasanya bisa lega dan tau dengan gamblang semua pertanyaan-pertanyaan dikepala. Bahkan kami meminta bantuan kesiapapun pasti jawabanya selalu tunggu waktu, hanya waktu yang bisa membuka semuanya, tapi sampai kapan? kami sudah cukup risih dan terganggu dengan banyaknya hal aneh dalam keseharian kami. Tak bisakah mati dengan damai tanpa mengganggu manusia yang sedang menjalani hidupnya.


Hidup mereka sudah berakhir, untuk apa lagi mereka tetap di dunia yang bukan dunia mereka, adakah dendam adakah hal lain yang membuat mereka betah berlama-lama ada di dunia kami. Saking marahnya aku nambah makan lagi yang manis-manis, pokoknya makan sampai kenyang. Lalu tiba-tiba Toby diam dan seperti melirik Ana, seperti sebuah kode.


Aku menanyakan mengapa, tetapi mereka diam saja dan menyuruhku untuk segera menghabiskan makan. Malam ini Ana menginap di rumahku, sedangkan Kris diantar Roy kerumahnya. Sedangkan Toby juga ikut menginap dirumah dengan izin bapak karna bapak malam ini lembur alias pulang malam.


"Pak.. malam sekali pulangnya. " Ucapku.


"Iya nduk, bangunkan Ana suruh pindah ke kamar aja kalian berdua, Toby biar tetap di kursi. " Ucap bapak dan aku hanya mengiyakan.


Aku bangunkan Ana yang tertidur pulas dan pindah ke kamar dengan posisi yang masih setengah sadar, aku mengecek pintu pagar ternyata sudah dikunci bapak, lalu masuk lagi dan menutup pintu depan, tetapi saat setengah pintu tertutup aku melihat dengan jelas ada Amini didepan pintu dengan wajah yang sedih, karna aku kaget sontak aku berteriak sehingga Toby terbangun.


"Kenapa ca? " ucapnya langsung berdiri dan melihat ke arah Amini.


Toby menyuruhku untuk masuk kedalam sedangkan Toby keluar dan menutup pintu. Aku mengintip dari jendela, dari sini seakan Toby berbicara sendiri padahal jelas tadi aku nampak Amini, tapi kali ini aku tak melihatnya. Beberapa menit kemudia Toby masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.


"Kenapa nduk? dari kamar mandi tadi bapak kedengeran kamu teriak? " tanya bapak.


"Gapapa pak, kaget kucing tadi. " Jawabku.

__ADS_1


"Yauda, segera tidur jangan berduaan malam-malam takut ditengah-tengah kalian ada setan. " Ucap bapak sambil berjalan ke kamarnya, dan ucapan itu membuatku merinding.


Toby hanya tersenyum dan duduk sambil menyeka keringatnya. Dia menatapku dan tau sekali kalau aku menunggu keteranganya. Tetapi dia hanya diam dan tiba-tiba merasa sesak dadanya. Aku langsung memberikan dia minum agar dia lebih tenang dulu, pasti energinya habis karna berkomunikasi dengan Amini barusan, aku berusaha mengerti kondisi dan situasi saat ini.


"Ca... apa yang tadi kamu liat? " tanya Toby ingin tau apa yang aku lihat dengan yang dia lihat apakah sama.


"Amini, " jawabku.


"Amini? " tanya nya.


"Amini kan? " tanyaku penasaran.


"Iya, tapi aku merasakan ada energi lain yang bersembunyi di balik Amini, tapi tak tahu siapa. " Jawabnya.


"Lalu, kenapa dia? " tanyaku cepat.


"Dia bilang, dia disiksa ibunya, karna membuat gaduh sesuatu yang harus tertutup rapat dan Amini membuka penutup itu. " Jawab Toby.


"Astaga! mereka ini kenapa sih? " tanyaku kesal.


"Amini butuh pertolongan, dia sudah mengikhlaskan segalanya, dia ingin pergi dengan damai, tetapi dikunci oleh ibunya. " Jawab Toby.


"Ibu yang kejam, kita harus menolong Amini biiii... " ucapku khawatir.


"Kita pikirkan besok saja, sekarang kamu masuk kamar aja. " Ucap Toby.


Akupun langsung masuk kamar dan mendapati Ana sudah duduk diam di kasur sambil bersenandung dengan tatapan kosong dan sangat pucat, tetapi aku ingat betul senandung ini adalah senandung tidur yang pernah aku dengar.


Oh iya, ini tembang pengantar tidur.

__ADS_1


__ADS_2