Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
34. Titik Hitam


__ADS_3

Malam pun tiba, Asmirah dan Badrun sampai dirumah sederhana pak Broto, sedangkan pak Broto sedang menyiapkan makanan diatas meja, membut Asmirah semakin panas, karna selama ini pak Broto tak pernah menghidangkan makan malam. Cemburu menguasai hati Asmirah, terlihat di wajahnya penuh kemarahan, sampai disadarkan oleh Badrun agar biasa saja supaya tak menjadi curiga.


"Kemari kau Badrun! " Seru pak Broto yang menyadari keberadaan Badrun.


Saat Badrun menghampiri sontak saja pak Broto langsung memukul Badrun berkali-kali, Asmirah berusaha melerainya, tapi Sri hanya menatapnya sambil menyantap hidangan malam. Sri sangat tenang dan merasa aman karna ada yang membelanya, sedangkan Asmirah merasa bingung jika dia membiarkan nya bisa-bisa Badrun mati, jika dia melerainya maka bisa saja Asmirah dianggap membela pemerkosa.


"Mas .. mas sudah tenang dulu, bicarakan baik-baik. " Teriak Asmirah.


"Apa katamu? baik-baik? biadab ini memperkosa wanita secara brutal, kau bilang baik-baik? " Jawab pak Broto memarahi Asmirah.


"Bukan begitu mas, cukup. kita dengarkan dulu penjelasan nya. " Tambah Asmirah.


"Aku tak butuh penjelasan atas perlakuan buruk terhadapku, jeng Asmirah. " Balas Sri dengan tegas.


Sedangkan pak Broto tetap menghajarnya tanpa perlawanan sampai berdarah dan memar dimana-mana. Lelah setelah memukuli Badrun, pak Broto langsung minum dan makan tanpa sepatah katapun, Sri pun juga sama sedangkan Badrun tertunduk lemas dan Asmirah yang bagaikan orang lain dirumah sendiri.


Sunyi sangat sunyi sampai yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan hewan-hewan malam. Asmirah tentunduk lesu, antara takut dan juga kesal, sambil menggigit jari-jarinya. Selesai makan Sri membersihkan meja dan menyiapkan kopi untuk pak Broto, disini posisinya seakan Sri adalah istri dari pak Broto, bertutur lembut dan menenangkan.


"Badrun, aku akan mengumumkan bahwa kau adalah pemerkosa agar dirajam oleh orang kampung. " Ucap pak Broto dengan nada keras.


"Jangan pak... saya mohon, maaf saya.. Sri maafkan saya Sri. " Jawab Badrun memohon.


"Tak ada maaf bagimu, sebenarnya kenapa kau memperkosa Sri? " Tanya pak Broto tegas.


"Saya mencintai Sri, tapi tak terbalaskan dan saya ingin memiliki Sri. " Jawab Badrun yang langsung dipotong oleh Sri.


"Mencintai katamu? cinta tak akan seperti itu, anda saja sama sekali tak pernah bertegur sapa dengan saya, bahkan mata saling bertemu saja tidak! bagaimana bisa anda bicara dengan enteng kalau anda mencintai saya. Sungguh tidak masuk akal! " Terang Sri penuh amarah.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu saya sering mengamatimu Sri, sampai saya khilaf, tiba-tiba saja hasrat itu muncul begitu saja. " Jawab Badrun berusaha meyakinkan.


"Dasar keparat! napsu katamu? napsu atau memang ada yang menyuruhmu, untuk apa napsu pada saya yang tidak cantik ini, banyak gadis lebih cantik dan seksi, sungguh tak masuk akal! " Seru Sri melawan.


"Jawab jujur, siapa yang menyuruhmu. Kalau tidak aku akan membawamu pada warga. " Ucap pak Broto.


"Untuk apa ada yang menyuruh saya untuk hal seperti itu pak, ini benar-benar kesalahan saya karna tak bisa mengkontrol napsu saya. Untuk apa juga bapak bilang kepada warga, yang ada hanyalah membuat warga merendahkan Sri. " Jawab Badrun.


"Iya mas, Sri sudah menjadi korban, masa iya dia jadi korban obrolan warga juga. " Imbuh Asmirah.


Pak Broto memikirkan bagaimana cara terbaik agar Sri tak menjadi rendah di lingkungan ini dan Badrun dapat hukuman nya. Sedangkan pak Broto sama sekali tak ingin Sri terluka lagi.


Sri pun bingung harus bagaimana, sedangkan penyebab ini semua adalah Asmirah, Sri akan membalas Asmirah pelan-pelan dan lebih kejam.


"Pecat dan usir dia dari kota ini mas, dan nikahilah aku. " Ucap Sri yang membuat Asmirah kaget.


"Mas, aku mohon. Ingat janjimu pada bu Diajeng. " Ucap Sri sambil menatap pak Broto.


"Janji? janji apa? orangnya sudah mati! " Jawab Asmirah berteriak.


"Asmirah! seperti itu kau membicarakan ibuku? " Tanya pak Broto tak terima.


"Maaf mas, tapi aku tak ingin di madu seperti ini, aku tak ingin menjadi seperi ibu mertua ku" Jawab Asmirah berakting sedih.


"Diam kamu, jangan bawa-bawa ibuku! " Seru pak Broto marah.


Pak Broto mengusir pergi Badrun dari kota itu, dan Badrun menuntut uang ganti rugi dan tutup mulut pada Asmirah, sedangkan Sri kembali kerumahnya dan merasa antara sedih dan senang, petaka yang membawa kepada jalan yang dari dulu diinginkan oleh Sri, tak sengaja Sri melihat arwah bu Diajeng lagi, tatapan seperti permintaan tolong dan kesedihan yang teramat dalam.

__ADS_1


"Nek... Sri bolehkah menikah dengan mas Broto? " Tanya Sri kepada neneknya.


"Broto kan sudah memiliki istri nak. " Jawab nenek bingung.


"Tapi mas Broto dulu pernah berjanji akan menjaga ku. " Ungkap Sri.


"Jangan menyakiti wanita lain nak, tak ada yang mau di madu. " Jawab nenek sambil memeluk Sri.


"Janji tetaplah janji nek, dukunglah Sri. " Ucap Sri sambil menangis.


"Nenek kan sudah bilang jangan Sri, jangan membuat noda hitam pada kain putih. " Jawab nenek meyakinkan.


"Nek, kain putih itu penuh darah yang bahkan tak bisa dicuci, aku hanya akan membuat titik hitam yang tak akan berdampak apapun, tetapi ketika titik hitam itu menyebar, warnanya akan tak lagi sama. " Ucap Sri dengan mata penuh bara.


Datanglah hari dimana Sri harus mengecek apakah dia hamil atau tidak, hasilnya tak akan berpengaruh, hamil tidak hamil Sri akan tetap dinikahi oleh pak Broto. Terlihat Asmirah yang tidak terima dan mengumpat minta pertolongan keluarganya dan tetap tidak berpengaruh. Asmirah juga membahas jika pak Broto bisa sedikit terkenal dan ada yang membeli lukisanya itu karna Asmirah, tapi pak Broto tetap pada pendiriannya.


Ancaman demi ancaman kepada Sri pun juga tak berpengaruh, karna kartu As ada di Sri, Sri juga bisa mengancam.


"Jeng... kita akan menjadi saudara, lebih baik kamu diam atau saya bongkar semuanya. " Ucap Sri sambil tersenyum.


Asmirah semakin kalut dan tak percaya ada wanita yang memanfaatkan ini semua. Mau tidak mau Asmirah harus menuruti ini semua sampai dia bisa menbuang Sri menjauh dari kehidupan nya.


"Jeng .. jangan berharap kamu bisa mengusirku kelak, kamu licik, saya bisa lebih licik. " Ungkap Sri dengan senyuman yang sangat sinis.


"Apa maksudmu Sri? jangan memanfaatkan keadaan, kamu yang licik. " Jawab Asmirah.


"Licik katamu? memanfaatkan katamu? berkacalah siapa pemeran jahat disini. " Ucap Sri sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Sri mempersiapkan pernikahan sederhana dan pak Broto, Sri sangat excited dan bahagia, sedangkan pak Broto hanya melaksanakan kewajiban dan janjinya dimasa lalu untuk mengenang sang ibu.


__ADS_2