
Bosen juga ketika bangun yang ku dapati hanyalah kembali menjadi Amini yang cantik ini, aku ingin menerima keadaan atau situasi ini yang hanya untuk sementara, semoga saja. Tapi sekali lagi aku sudah muak, sangat muak sampai bangun pun tak ingin. Rasanya untuk kesekian kali bangun dengan posisi dan situasi yang sama sangat melelahkan.
Selalu bertanya-tanya apa yang harus ku lalui hari ini, apa yang harus aku lakukan sampai tak mengerti apa lagi dan cara apa lagi. Aku melihat hari-hari yang tak baik dan setelah aku rekap hari-hariku selama disini yang harus aku lakukan adalah menulis di buku diary nya Amini, mungkin saja di masa depan berguna, tapi disini aku harus menjelaskan bahwa aku ini Amini, tak lebih dan tak kurang. Bisa bahaya jika aku yang orang lain ini bisa turut ikut campur dalam permasalahan keluarga yang rumit dan kelam.
Ada suara ketukan pintu, lalu aku buka dan ternyata Batara yang mengetuk pintu. Dengan tatapan yang lugu dia masuk kedalam kamar dan menyuruhku untuk duduk .
"Kenapa? ada apa? " tanyaku kepadanya karna kali ini tumben sekali dia nampak serius.
"Aku hanya rindu, sudah lama kita tak berjumpa dan bermain. " Ucapnya sembari menutup pintu.
"Tumben.... " jawabku bingung dengan tingkahnya.
"Aku selama tinggal dengan oma opa rasanya senang sekali karna tak ada yang mengomeli ku, " terangnya sambil tersenyum senang.
"Jadi sakitku adalah keberuntungan yaaa? " tanya ku sembari mengelus rambutnya.
"Iya.. hahahhahaa. " Tawa renyah penuh dengan kebahagiaan.
"Kamu tahu ada sumur di komplek ini? " tanya ku.
"Tahu... biasanya temanku ambil air disitu" jawabnya.
"Kamu merasakan hawa aneh? " tanyaku lagi.
"Tidak. biasa saja, hanya sumur. Jangan bilang kakak seperti ibu yang khawatir hal aneh-aneh. Karna ibu pernah bertanya hal yang sama. " Jawab nya bingung.
"Memang ibu tanya hal yang sama? soalnya seperti gimana ya jelasin nya, ah lupakan saja. " Ucap ku kebingungan.
"Jangan jadi seperti ibu ya, tenang saja aku akan menjagamu. " Nasihat seorang laki-laki kecil.
Kami terus bercengkrama tentang Batara selama dia menginap di rumah oma opa, sangat seru dan merasakan di sayang dan dimanja sebagai seorang cucu. Tapi aku merasakan pak Broto sedikit membatasi pertemuan dengan keluarga Asmirah, hanya saja kemarin karna tak ada lagi tempat untuk Batara jadi terpaksa di titipkan di sana.
__ADS_1
Suara pak Broto memanggil meminta kami untuk sarapan pagi. Kami berdua pun datang ke meja makan dan menyantap singkong rebus yang baru saja di panen. Rasanya sangat enak dan gurih, apakah aku harus belajar resep kuno disini agar kelak bisa memasakkan keluarga dan temanku di masa depan. Itu ide yang bagus, sekalian aku mencari ilmu disini, agar aku tidak menjadi gila.
"Kemana ibu ? " Tanya Batara.
"Ibumu pergi untuk belajar. " Jawab pak Broto.
"Menjahit? " Tanyaku.
"Ya seperti itu, dia sedang berkumpul dengan teman-teman nya di kota sebelah. " Jawab pak Broto.
"Pak, aku ingin sekali mengunjungi rumah bapak yang lama, sebelum ini. " Pintaku kepada pak Broto karna ini kesempatan sekali karna Asmirah tak ada.
"Kenapa kamu ingin kesana? " Tanya pak Broto dan aku bingung harus menjawab apa.
"Hanya ingin saja, bukankah kami harus nya tahu tentang pendahulu kami pak? " Jawab ku sebisa mungkin tetap tenang.
Dan akhirnya pak Broto menyetujui membawaku kerumah lama pak Broto, aku dan Batara sangat excited dan senang sekali. Kami bersiap-siap sebelum berangkat dan menuju rumah lama.
"Pak... Amini senang sekali disini. " Ucap ku dengan tersenyum lebar.
"Batara juga... rumah ini walaupun kecil tapi halaman nya sangat luas dan enak untuk bermain. " Kata Batara sambil memakan buah rambutan.
"Disini banyak sekali kenangan masa kecil, di belakang sana ada sungai yang bapak biasa berenang. " Ucap pak Broto penuh haru dan membuka pintu rumah mempersilahkan kami untuk masuk.
Karna rumah ini sudah tidak ditempati lagi aku pikir akan seram dan berdebu, nyatanya rumah ini sangat terawat. Ruang tamu sekaligus ruang keluarga ada 2 kamar tidur dan dapur yang luas, dapur kuno dan bahkan rumah ini di bagian belakang nya ada sumur dan kamar mandi ada di luar. Saat ke dapur masih sama persis dengan penglihatanku dimana bu Diajeng di bunuh dan bagaimana itu terjadi, tanpa sadar aku tiba-tiba menangis.
"Pak, kelak kalau sudah besar, wariskan rumah ini untukku yaa... " ucap Batara.
"Kenapa kamu mau rumah bambu ini nak? " tanya pak Broto.
"Rumah separo bata separo anyaman yang dingin ini nyaman sekali, aku jadi ingin tinggal disini, " ucap ku.
__ADS_1
"Kenapa kalian suka dengan rumah ini? " tanya pak Broto heran.
"Ya pak ya... wariskan pada Batara. " Ucap Batara ngeyel.
"Rumah ini adalah rumah punden milik nenek kalian, tetapi kakek kalian memilih tinggal dirumah yang bagus. Sama, bapak juga memilih dirumah yang bagus dan layak untuk anak-anak bapak. " Terang pak Broto.
"Rumah ini layak kok pak, kelak pun bisa di renovasi diperbaiki bangunan nya, atau bahkan di masa depan, tanah beserta bangunan nya menjadi mahal. " Ucap ku sambil mengingat-ingat di masa depan daerah ini menjadi tempat apa.
"Belajar dari mana kamu nak tentang aset dan masa depan? " Tanya pak Broto heran.
"Dari ibu, ibu bilang rumah kita di masa depan akan menjadi lingkungan mahal. " Jawab ku.
"Hmm... Bapak juga berpikir demikian dan tetap merawat rumah peningalan ini dengan baik, karna jika kalian ke belakang sekitar beberapa meter disana ada makam nenek kalian dan makam-makam orang sekitar sini. Minum lah air di kendi ini, sangat segar sekali. " Ucap pak Broto sambil mengambilkan kendi minuman.
"Wah.. enak sekali air nya sangat segar. " Ucap Batara.
"Ini air sumber, di ujung sana terdapat sumber yang sangat dijaga oleh orang sini. Sungai dibelakang pun sangat indah dan bening. Sumur disini jika musim panas pun tak kering. Hanya air sungai yang menyusut. " Terang pak Broto.
"Ayo.. kita jalan-jalan pak dan mengunjungi makam nenek. " Ucap ku.
Kami pun berjalan menuju kebelakang, terlihat di sebelah ada rumah yang mungkin rumah nya Sri, dan banyak lagi rumah dengan jarak antar rumah yang jauh-jauh, ini seperti rumah ditengah-tengah hutan karna jalanan yang tanah dan dikelilingi banyak pohon. Kami mengunjungi makam nenek, dan pak Broto menyuruh kami memetik bunga melati dan mawar di sekitaran makam yang memang tanaman ini dirawat disini.
Bapak memperkenalkan kami kepada nenek sebagai cucu dan meminta maaf karna tak pernah membawa kami mengunjungi beliau. Setelah kami dari makam, kami terus lanjut ke sungai yang pak Broto bicarakan, sungai nya sangat bening sesuai kata pak Broto. Padahal dimasa depan hampir tak ada sungai sebening ini bahkan airnya coklat.
Batara sangat senang sekali dan izin untuk mandi di sungai, Batara dan bapak berenang sedangkan aku hanya main air saja. Melihat pemandangan disini sangat cantik sampai kami lupa waktu, setelah bermain di sungai kami kembali ke rumah nenek. Saat di jalan ada teman pak Broto yang menyapa, mereka berpelukan dan saling rindu.
Kami pun diminta mampir dan di siapkan makanan, makanan nya enak, sayur botok daun singkong dan ikan teri di hidangkan kepada kami. Pak Broto bilang bahwa teman nya ini adalah teman kecil nya dan selalu merindukan masakan ibu teman nya karna pak Broto sering sekali bermain disini. Bahkan aku juga berkenalan dengan anak nya yang sebaya dengan ku. Bahkan pembicaraan antar bapak-bapak ini sudah tentang perjodohan.
Batara meminta pak Broto agar bisa menginap dirumah nenek, dia ingin lebih lama bermain dan mencari teman. Aku pun mengingin kan nya, karna mungkin banyak sekali informasi yang bisa aku dapatkan dirumah ini.
Tetapi pak Broto menolak karna banyak sekali pekerjaan pak Broto. Tapi Batara marah dan menginginkan menginap. Mau tak mau pak Broto menuruti nya hanya untuk menginap 1 malam saja. Pak Broto menitipkan kami kepada teman nya yang sudah dianggap sebagai saudara. Kata pak Broto kami boleh menginap dirumah pak Yadi dan bu Minah istrinya. Siang hari bisa tidur siang dirumah nenek tapi jika malam ada di rumah pak Yadi, dan akan di jemput besok. Kami sangat senang sekali.
__ADS_1
Aku harus mengambil kesempatan sebaik mungkin, ini adalah 1 malam yang akan panjang.