Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
137. Separate


__ADS_3

Pulang ngantor aku langsung kerumahnya Toby dengan perasaan yang campur aduk, aku seharusnya bahagia dia bisa tumbuh dengan baik dan berkembang untuk menaikkan skillnya terlebih dia naik jabatan yang cukup lumayan untuk kehidupannya dan kebanggaan keluarganya karna dia anak satu-satunya, diperjalanan aku sedang melatih mimik wajah agar tampak bersemangat dan bahagia, jika aku menampakkan kesedihan yang ada hanyalah membuat dia semakin kepikiran. Sesampainnya disana rupanya mamanya menyiapkan makan malam keluarga berpakaian dengan rapi dan aku malah jelek karna baru pulang kerja kenapa gak mandi ganti dulu aja ya, bego banget sih aku. Kami makan dengan khidmat dengan tatapan bahagia semua anggota keluarganya.


“Nak, nanti meski gak ada calon suamimu kamu tetap main kemari yaaa,” ujar mbah putri.


“Tentu saja mbah, Aca akan tetap mampir.” jawabku sambil menebar senyum.


“Ah gak asik ah, aku jadi iri.” jawab Toby cemberut.


“Udah gak papa, kamu fokus kerja aja, jaga kesehatan jangan lupa kalau ada waktu itu pulang.” jawab mamanya.


“Siap bos,” jawab Toby masih cemberut.


“Kamu gak kenapa-kenapa kan nak?” tanya mbah putri dan aku cuma menggeleng-gelengkan kepala.


“Memang ujian orang mau nikah itu banyak, mungkin ini salah satu ujiannya, jadi harus sabar dan saling mengerti, komunikasi harus tetap dijaga, kalau nanti cucu mbah macem-macem disana, kamu bilang aja mbah yang bakal marahin,” ujar mbah putri dan aku hanya senyum aja.


“Ya mbah harus jaga Aca, takutnya dia direbut orang siapa tau yakan, orang biniku cantik banget kek gini.” jawab Toby.


“Yang lebih serem tuh kamuuu… disana juga banyak godaanya, jadi gak boleh gitu.” saut mamanya.

__ADS_1


“Kenapa aku yang dicurigai sih,” jawab Toby lalu kami pun semua tertawa.


Lalu aku membantu bebersih setelah makan malam, dan aku juga gak bisa nganter Toby ke bandara karna dia berangkat jam 2 pagi ke bandara nya jadi dia melarangku dan menyuruhku istirahat aja. Ngobrol bentar diruang tamu dia menyampaikan rasa sedihnya sampai mengeluarkan air mata, sedangkan aku mau ikutan nangis gak mau karna takut dia jadi gak jadi berangkat, karna ini impian dia banget bisa naik jabatan padahal udah gak pernah kepikiran lagi semenjak ikut gabung MMA tapi tiba-tiba dapat rejeki jadi harus diterima dengan baik.


“Kamu jangan selingkuh ya!” ujarku dengan tatapan membunuh padahal dia lagi nangis.


“Selingkuh gimana ca, aku tuh sayang banget sama kamu,” jawabnya dengan suara yang lembut.


“Bisa jadi, kan banyak cewek cakep, seksi dan lingkungannya jelas udah beda, apalagi di ibu kota,” jawabku.


“Ya aku jaga hati lah ca, kamu tuh gak percayaan banget.” jawabnya.


“Selingkuh gimana, orang aku juga punya kenangan buruk tentang perselingkuhan jadi gak mungkin aku ngelakuin hal sehina itu.” jawabnya.


“Hati manusia bisa berubah, jadi aku gak tau yaa…” jawabku.


“Kamu percaya aja sama aku ya,” jawabnya.


“Iya.” jawabku singkat.

__ADS_1


Lalu Toby memelukku dengan erat dan dia tak bisa menahan kesedihannya karna akan berpisah denganku, sedangkan aku gak mau mengeluarkan air mata dan hanya bisa menahannya aja. Akhirnya aku pamit karna dia harus istirahat dan siap-siap juga, aku juga bilang kalau mau berangkat telepon aku aja dan berpelukan untuk terakhir kali. Saat sudah dijalan aku baru menangis senangis-nangisnya karna memang sangat sedih, baru aja aku membuka hati dan bisa menerima dia mengisi hatiku yang kaku ini dan ikut mencampuri hari-hariku lalu tiba-tiba dia pergi dan perasaanku jadi semakin sedih saat aku melihat jalanan yang biasanya kita lewati.


Pulang aku langsung tidur karna bapak rupanya lagi ada di pos, di kamar rasanya sedih banget sampai ketiduran lalu gak sadar tiba-tiba pagi dan marah karna Toby gak telpon aku malah cuma chat aja, rupanya dia udah di dalam pesawat dan aku tak bisa menghubunginya, karna hari ini cuaca hatiku buruk jadinya gak tau deh malas dipagi hari. Aku langsung keluar masak nasi dan pergi ke warung beli sayuran pakai sepeda gayuh dan ketemu kucing lucu banget keknya dia kucing campuran dan dia ngikutin aku beli sayur dan ikut kerumah.


“Pak, kucing ini ngikutin aku,” ujarku ke bapak yang lagi ngelapin mobil sambil manasin.


“Lucu gitu, marble yaa, kasih makan aja.” jawab bapak.


“Gak punya pakan kucing pak, aku mau masak dulu,” jawabku.


“Yaudah bapak belikan dulu, sama susu kitten yaa, kamu rawat aja buat temen dirumah, ini keknya kucing kampung kawin sama kucing ras, bulunya lembut.” jawab bapak.


“Boleh tuh pak,” jawabku dan langsung masak sedangkan kucing itu ikut aku masuk rumah dan main sendiri sampai ketiduran.


Bapak datang sudah beli banyak sekali perlengkapan kucing, dari kandang dan pasir pokoknya perlengkapan semuanya sudah dibeli dan ditaro di halaman belakang rumah yang kecil ini tempat jemuran bisa juga sekaligus menjadi rumah kucing, aku foto dan kirimkan ke grup meminta saran nama kucing marble abu putih ini, karna cewek kucingnya jadi bingung kasih nama apa, dan bapak menyarankan namanya Sunny dan aku mengiyakan karna dia memang bersinar dan cantik nan lembut.


Dihari aku berpisah dengan Toby hadirlah Sunny yang cantik ini, dia makan dengan lahap dan aku juga harus mengajarinya untuk pup di tempatnya, setelah kami makan dan bersiap pergi kerja aku juga pamit ke Sunny kusuruh jaga rumah dengan baik dan jangan kabur pergi-pergi yaa, dia gak aku masukin kandang jadi biar dia bereksplorasi di halaman belakang tapi tetap pintu belakang aku kunci karna dia harus bisa belajar pup dan pip dengan baik dulu baru bisa berkeliaran disemua rumah. Rumahku juga rumah perumahan yang tak begitu besar ataupun tingkat, hanya cukup luas untuk ditempati dua orang karna memang bapak gak suka rumah terlalu besar.


Sampai di kantor semua orang memandangku seakan ikut merasakan kesedihanku harus LDR dengan kekasih, tapi aku berupaya untuk biasa aja dan harus terbiasa, aku kerja dengan fokus biar lupa juga, mempersibuk diri sampai lupa kalau Toby udah ngabarin udah sampai, karna aku marah-marah sama dia, dan dia hanya video call menunjukkan tempat kos dia dan suasananya disana, dan dia juga belum kenal siapapun jadi hari pertama ini dia cuma jalan-jalan di sekitar dan tidur karna capek banget katanya gak tau kenapa. Dia cuma bilang segalanya akan baik-baik aja, aku cukup percaya dan tenang aja.

__ADS_1


__ADS_2