Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
35. Terbangun


__ADS_3

Aku terbangun dari dunia lain, ditatapnya aku dengan wajah khawatir dari pak Broto dan Asmirah serta ada seorang nenek yang entah siapa. Sementara kepalaku sangat sakit sekali bahkan bernapas pun susah. Aku seakan diputar 360° dari alam lain dan kembali ke alam lain, mual dan tenggorokan panas, aku hanya terbaring berkeringat dan meminta air.


"Amini... Amini anakku, kamu kenapa nak? " Tanya pak Broto sambil menyeduhkan air kepadaku.


"Kamu berhenti bernapas nak, kami panik dan memanggil mbah Marni. " Ucap Asmirah dengan khawatir.


"Sudah.. sudah jangan ditanya dulu, biarkan Amini bernapas dan istirahat. " Kata mbah Marni.


"Yaaa.. tapi ini kenapa? anak saya kenapa? " Tanya pak Broto kesal.


"Lebih baik kita bicara diluar saja, " ucap mbah Marni sambil berjalan keluar dari kamar, di iringi Asmirah yang mengandeng suaminya.


Sedangkan kepalaku yang sangat sakit dan telingaku yang berdengung, banyak sekali yang aku dengar, sampai aku tak bisa konsentrasi dan terkena serangan panik. Aku berteriak histeris sambil menutup telingaku. Semua orang kembali ke dalam dan histeris juga karna aku semakin meronta-ronta. Mbah Marni seperti membaca mantra atau apalah itu yang entah mengapa membuatku sedikit tenang, di berilah aku minuman seperti jamu-jamuan dan ditenangkan nya aku sampai aku tertidur.


Dalam tidur entah mengapa aku tenang, hitam, gelap, sunyi. Aku benar-benar tertidur. Sampai terbangun ternyata aku sudah tidur selama 2 hari. Aku bangun dengan rasa lapar yang teramat lapar, disuapilah aku oleh Asmirah yang telaten merawat anak nya. Aku tak banyak bicara karna aku merasa jika aku bicara seperti banyak bayangan yang siap menerobos kesadaranku. Para arwah itu seperti bersiap menginginkan aku mengetahui isi hati mereka, sedangkan penolakanku ini berdampak juga pada kesehatanku. Saat aku tertidur 2 hari, akupun tak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa lebih rileks dan segar.


Asmirah juga tidak banyak bicara, bahkan dia menjadi ibu yang baik yang sigap merawat anaknya, dia juga begitu telaten tanpa ada kambuh dengan kesehatan jiwanya. Batara juga menginap dirumah orang tua Asmirah, demi kesehatan nya dan biar Asmirah dan pak Broto bisa merawatku dengan baik.


Aku sedikit penasaran dengan mbah Marni, jika benar beliau orang pintar maka seharusnya dia tahu dengan keluarga ini, tapi mengapa dia pembawaan nya tenang dan penuh misteri tapi juga sangat anggun. Aku ingin bertemu beliau lagi untuk memastikan sesuatu. Jika dia tahu harusnya dia tak bersikap setenang itu.


"Nak.. kamu mau mandi atau di waslap aja? " Tanya Asmirah.


"Aku ingin mandi saja. " Jawab ku lemas.


"Tunggu yaa, biar ibu suruh si mbok panasin air. " Jawab Asmirah sambil beranjak pergi dari kamar.

__ADS_1


Aku yang masih sempoyongan ini merasa bahwa harus sampai kapan aku berperan di tubuh ini, aku sudah lelah, sudah muak, energiku habis terbuang, bahkan disini aku merasa sangat sakit. Aku rindu rumahku, semuanya aku rindu, aku tak ingin berada disini.


Tanpa sadar aku menangis sampai mataku terasa berat dan tertidur.


"Nak.. bangun, airnya sudah siap. " Kata Asmirah.


"Iya bu, " jawabku lesu.


"Kenapa kamu? " Tanya nya, sambil mengusap rambutku.


"Sebenarnya aku kenapa bu? " Tanyaku dengan pandangan ingin jawaban jujur.


"Kamu hanya butuh banyak istirahat saja. " Jawabnya sambil memapahku dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.


"Tapi aku merasa sangat berat bu, sakit dan pusing sekali. " Jawabku.


Aku berendam di ember yang cukup besar, rasanya enak dan hangat menbuatku sedikit segar. Aku menutup mata sambil membilas tubuhku, bukan tubuhku tapi tubuh Amini. Kemana dia, aku memejamkan mata sembari memanggil namanya. Tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang menyebut namaku. Namaku Aca, iya aku mendengar seseorang memanggil namaku.


"Aca.. Aca.... " Suara ini berdengung dalam telinggaku.


Saat aku membuka mata, sangat disayangkan aku tetap dalam tubuh Amini. Asmirah datang dan menyuruhku udahan mandinya. Aku memakai baju dan dikuncirnya rambutku, dipakaikanya bedak agar nampak segar. Aku berkaca, Amini ini sangat cantik, sangat cantik sekali, sangat mirip pak Broto, wajah-wajah Indonesia yang sangat ayu.


"Bu.. Amini cantik kan? " Tanyaku.


"Cantik sekali nak, parasmu. " Jawabnya sambil menempelkan mukanya dekat denganku.

__ADS_1


"Aku mirip bapak yaaa? " Tanyaku.


"Iya dong, anak perempuan mirip bapaknya. " Jawabnya sambil tersenyum.


"Ibu, apa kabar? " Tanyaku.


"Baik nak, kenapa kamu bertanya? " Ucap Asmirah.


"Aku hanya merasa, ibu hari ini baik padaku, tak ada marah, hanya tatapan teduh. " Jawabku.


"Maaf yaa Amini, kalau ibu sering berperilaku buruk, mungkin ini karna adikmu yang dalam kandungan. " Jawabnya sambil mengelus perutnya.


Iya mungkin ini hormon ibu hamil, jadinya perasaan berantakan, tapi juga disisi lain dia di hantui rasa bersalah akan mertuanya dan sakit hati terhadap Sri, tapi mengapa Sri bisa meninggal ya, aku tak melihat kisah Sri sampai akhir. Apakah mereka benar-benar menikah atau digagalkan oleh Asmirah atau bahkan ada pembunuhan lagi.


Hal-hal seperti ini yang tidak tahu harus mencari jawaban dimana yang membuatku putus asa. Aku duduk diteras rumah sambil makan disuapin si mbok, aku makan dengan lahap karna aku merasa sangat butuh makan agar menjadi segar. Apakah perlu aku datang kerumah pak Broto yang dulu, pasti masih di kota ini saja, atau beda kota. Aku harus bertanya pada pak Broto dan mencari alasan agar aku bisa mengunjungi rumah itu, barang kali saja aku menemukan jawaban.


Suasana rumah nampak sepi karna tak ada Batara, pak Broto sibuk dengan lukisan nya, Asmirah dengan kain-kain nya. Aku dengan kesendirian dan rindu dengan Batara. Sampai kapan dia dirumah orang tua Asmirah. Padahal aku sudah mulai sehat.


"Bu.. aku rindu Batara," ucapku sambil melihat Asmirah menjahit.


"Kamu rindu adikmu nak? wah imut sekali. " Jawabnya sambil tersenyum.


"Iya... aku kesepian. " Jawabku.


"Yasudah kamu mau menjemput adikmu ? atau kamu dirumah saja, jangan keluar dulu, nanti ibu yang jemput. " Jawabnya ragu-ragu.

__ADS_1


Lalu aku melihat lagi bayangan bu Diajeng di pojok dengan wujud yang sangat menyeramkan, aku kaget tapi berusaha tetap tenang dan pergi kembali ke kamarku. Tapi saat aku masuk kamar, seketika ada wanita berbaju putih yang samar-samar duduk di ranjangku. Karna kaget dan takut aku berteriak, sampai Asmirah datang dan bertanya-tanya. Aku hanya bisa menangis dan memeluk Asmirah karna aku sangat merinding sekali.


Asmirah membawaku ke kamarnya dan menyuruhku tidur dikamarnya. Dia memberiku minum dan seakan-akan mengerti bahwa aku bisa melihat arwah. Entah mengapa apa yang aku lalui seperti apa yang di alami Asmirah. Apakah Asmirah selama ini sadar bahwa dirumah ini banyak penghuni lain?


__ADS_2