
Setelah pukul 8 malam Ana pamit pulang karna sudah malam, dan aku bertanya apa yang ingin dia cek, dan dia hanya senyum lalu pergi pulang, ini membuatku kesal dan penasaran kenapa Ana selalu males menjelaskan sesuatu yang dia sedang kerjakan atau yang sedang dia amati, beda sekali dengan Kris yang selalu bisa menafsirkan segala gerak-gerikku dan menjelaskannya dengan gamblang, kenapa aku jadi kepikiran Kris tiba-tiba ya, Aca juga agak rese dan misterius gak jelas jadinya memang nano-nano pertemanan kami.
“Roy, mama ingin tanya sesuatu, bisa kita bicara ?” tanya mama
“Kenapa? Ada apa?” tanyaku dengan muka bete.
“Kamu serius gak mau sama Aca?” tanya mama.
“Yaiyalah ma, gimana mama ini, Aca udah tunangan sama Toby sahabatku juga dan Toby luar biasa suka, nah aku ini anggep Aca udah kek sodara karna sudah lama berteman, mama aneh-aneh aja.” jawabku emosi.
“Karna mama yakin kamu sebenarnya suka sama Aca cuma kamu gak sadar aja,” jawab mama tenang.
“Mama yakin dari mana? Berteman ma, berteman, gak ada unsur lain ma, astaga mama ini aneh.” jawabku makin emosi.
“Kalau kamu anggap Aca cuma teman harusnya kamu biasa aja dong nak, santai aja, kamu kenapa emosi?” tanya mama.
“Gak tau, emosi aja ditanya gak jelas gini! Mama aja gak pernah tanya kabarku dan keseharianku kok tiba-tiba tanya beginian aneh kan?” jawabku spontan.
“Maaf ya nak, mama memang sangat sibuk dan mama kadang lupa waktu,” jawab mama seakan dengan maaf bisa merubah semuanya.
“Mama tuh aneh, mama tuh mama kandungku kan? Ibu kandung dimana-mana tuh khawatir sama anaknya, hal sekecil apapun bisa jadi besar kalau masalah anak, ini punya mama kok laen,” jawabku ngegas.
“Mama gak bermaksud gitu nak,” jawab mama dengan bingung.
“Terus maksud mama apa? Apa yang mama maksudkan itu? Mama kan sibuk dengan karir tapi anaknya gak pernah dipeduliin, sekarang ngapain peduli? Inget kata Ana yang juga berkarir kalau mempunyai hubungan sama orang itu buang-buang waktu, mungkin mama juga begitu kan?” tanyaku.
“Mama setuju dengan Ana yang masih muda dan jiwa mudanya bergelora, makanya mama khawatir sama kamu Roy,” jawab mama.
“Loh, yang perlu mama khawatirin adalah diri mama, mama harus bisa bagi waktu bekerja dan keluarga, kecuali mama gak punya keluarga ya gapapa mama macem kek Ana, mama udah punya anak ada suami, kok malah bertingkah seakan sendirian!” sautku dengan emosi.
__ADS_1
“Iya mama salah, makanya mama ingin sekali meminta maaf dan merubah semuanya,” jawab mama.
“Merubah dengan apa? Mama harus bersyukur ya, papa mau dukung mama dengan cita-cita mama, belum puas sampai sekarang? Udah jadi bos besar gak bisa urus rumah tangga sendiri?” tanyaku dengan amarah yang semakin merekah.
“Kamu ingin mama dirumah saja?” tanyanya.
“Terserah mama, aku sudah gak peduli, dah telat masanya, aku bisa hidup sendiri, mulai dari bayi pun aku hidup tanpa mama bisa, bersyukur punya bude ibu kedua ku yang bahkan lebih peduli daripada ibu sendiri.” jawabku dengan tegas lalu meninggalkan mama diruang tamu sendirian.
Aku langsung ke kamar dan membanting pintu entah karna akhirnya aku lega menyampaikan perasaanku yang sudah lama terpendam dan entahlah rasanya berkecamuk, karna punya ibu tapi berasa cuma punya papa aja, selama ini yang backup segala urusanku adalah papa, yang masih peduli dan selalu telepon kalau ada apa-apa ya cuma papa, papa lebih santai dengan pekerjaanya, kalau mama terlalu menggebu dan sangat bersaing.
“Kakak kenapa?” tanya ponakanku.
“Gak apa kok, cuma kesal aja,” jawabku langsung pergi ke kamar mandi.
Sehabis mandi langsung melanjutkan pekerjaan sedangkan ponakanku tidur rupanya dia kecapean, dan besok juga dia sudah dijemput orangtuanya. Tak lama Toby telepon.
“Kenapa bi?” tanyaku.
“Kau sebenarnya suka sama Aca ?” tanyanya yang bikin aku emosi lagi padahal tadi udah reda sehabis mandi.
“Pertanyaanmu aneh,” jawabku berusaha tenang.
“Aku cuma butuh jawaban pasti, iya atau gak, karna ini mencakup hubungan pertemanan kita Roy,” jawabnya dengan tegas.
“Gak, bi! Kenapa mikir aneh kek gitu? Jelas-jelas aku berteman sama dia udah serasa sodara, ngapain mikir aneh kek gitu?” tanyaku kesal.
“Ya karna semua masuk akal, tapi kalo emang gak ada rasa ya baguslah, oke thanks.” jawabnya lalu menutup telepon.
Aneh memang, apakah aku tanpa sadar menyukai Aca? Selama ini aku dengan sadar menyukai Kris, tetapi kenapa semuanya jadi curiga aku menyukai Aca, ini sangat aneh dan gak masuk akal, kenapa bisa-bisa nya semua orang berpikir yang khayal seperti ini. Perasaanku jadi berkecamuk dan sangat marah dengan semua orang, kenapa gak ada yang mengerti aku, tak lama Aca telepon, aku sudah cukup kesal dengan semua orang kenapa lagi dengan Aca ini.
__ADS_1
“Halo ca,” ujarku.
“Roy aku didepan rumahmu, bisa keluar gak?” tanyanya.
“Hah? Oke tunggu!” jawabku dan langsung keluar rumah.
Aku langsung keluar dan masuk kedalam mobil bapaknya Aca.
“Serius? Kenapa keluar cuma pake boxer sih?” tanyanya sambil tertawa.
“Anjir aku lupa, yauda balik dulu,” jawabku dan ditahan Aca.
“Udah gak usah,” jawabnya.
“Ada apa ca malem-malem?” tanyaku dan panik Aca menyalakan mobilnya dan mau dibawa kemana aku.
“Mau kemana woi? Gak pake baju yang proper ini,” tanyaku kesal.
“Udah ikut aja,” jawabnya.
Sepanjang jalan kami hanya diam dan Aca hanya sibuk nyanyi dan teriak-teriak heboh dengan lagu-lagunya, akhirnya aku terbawa suasana dan menyanyi juga, sampai akhirnya aku lupa kalau aku lagi galau dan pusing. Aca juga mampir ke drive thru dan membeli beberapa makanan dan minuman, akalnya Aca pintar juga karna aku gak pake baju yang proper buat hangout dan dia hanya membawaku keliling kota malam-malam sambil ngemil dan karaoke di mobil juga, hal ini gak pernah aku lakukan, dan kata Aca kalau pusing lebih baik jalan-jalan biar bisa lega.
Aku terharu dan tanpa sadar meneteskan air mata karna aku sadar kalau selama ini ada masalah apapun dan ada kebahagiaan apapun Aca selalu ada, Aca membiarkanku menangis sepuasku sampai aku lega, lalu dia memelukku dan bilang kalau dia akan selalu ada, dan diingatkan kembali saat aku putus cinta saat aku happy dengan mantan-mantan pacarku, dia selalu ada dalam setiap cerita di hidupku dan aku baru sadar sekarang.
“Ca, gimana kalau aku baru sadar kalau aku sayang sama kamu?” tanyaku yang masih dipeluk dan di puk puk pundakku dan tiba-tiba saja dia mendorongku.
“Dah gila ya kau Roy!” jawabnya dengan ngegas.
Lalu kami tertawa terbahak-bahak seakan dia menganggapnya kalau itu hanya gurauan saja, tapi memang benar kalau dalam hal apapun selalu ada Aca di sekitarku, tapi aku tak pernah menyadarinya kalau sebenarnya aku nyaman dan sayang dan ada cinta didalamnya, sehingga aku seterbuka itu dengan Aca.
__ADS_1