
Aku terbangun, aku sudah di sebuah hutan banyak sekali pepohonan dan ada gerbang yang aku tidak bisa membacanya. Suasana sangat dingin bahkan udara terasa menyayat kulitku karna dingin sekali. Aku masuk ke gerbang itu seakan masuk ke dalam portal dimensi lain. Karna tone warna pandangan mataku juga berubah dan banyak sekali asap-asap entah dari mana. Tanah yang ku pijak juga terasa empuk dan basah, aroma wewangian kayu yang tercium pekat. Dimana aku ini, hanya ingin merelaksasikan diri kok malah masuk ke alam lain nih bikin aku marah. Semakin aku berjalan semakin terasa enteng tubuhku ini, tak ada apapun hanya pepohonan sampai suasana berubah setelah tiba di sebuah pasar. Pasar yang jual belinya tidak menggunakan uang tapi sistem barter dengan barang. Ku coba bertanya tetapi mereka semua tidak melihat keberadaanku.
Aku terus berjalan sampai aku melihat sesosok lekaki yang masih muda sedang melukis suasana pasar, lukisan nya sangat cantik dengan warna yang hangat sesuai dengan situasi saat ini. Dia tak menggunakan atasan, hanya celana kain hitam saja serta kain yang dililitkan dikepala. Saat itu juga aku tersadar kalau apa mungkin ini Pak Broto Seno dilihat dari tanda tanggan lukisanya yang berinisial BS.
Apakah aku sedang ada dimasa lalu? Kenapa mereka memperlihatkan aku hal-hal seperti ini. Aku kan gak punya kemampuan berwisata begini kenapa harus aku. Terus aku harus ngapain hanya bengong melihat saja atau bagaimana. Aku mencoba menghubungi teman-teman tapi Hp ku tak ada sinyal sama sekali.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang wanita cantik datang menatap ku seolah menghampiri ingin berbicara, ternyata dia hanya melewatiku dan berbicara dengan Pak Broto sambil melihat lukisan-lukisan. Terlihat sekali kalau pak Broto terpesona dan memperlihatkan keahlian nya. Aku yang melihatnya saja terasa sangat damaj hati ini. Seketika tiba-tiba berubah, aku di suatu rumah yang terbuat dari anyaman bambu, melihat pertengkaran pak Broto dengan wanita tua, mungkin beliau adalah Ibu nya pak Broto. Nampak sekali tak begitu suka dengan bu Asmirah menantu nya. Padahal bu Asmirah jika memang keturunan yang berada tidak mungkin mau tinggal di sini jika bukan karna cinta.
Lalu terlihat sekali jika mertua bu Asmirah memperlakukan nya dengan kasar dan sangat tempramen, bu Asmirah yang selalu tenang dan sabar hanya bisa diam sambil menahan tanggis, tapi ternyata sudah cukup meledak kotak kesabaran bu Asmirah. Saat beliau mencari kayu untuk memasak, mertua nya selalu mengolok-olok nya ketika kesabaran hilang bu Asmirah langsung mengambil tali tampar dan di ikatnya leher mertua secara pak langsung diseret dekat kayu-kayu langit agar bisa nampak bagaikan bunuh diri dengan cara gantung diri. Mertua nya melakukan perlawanan sampai Asmirah terjungkal di kuali panas, kakinya melepuh tapi tetap berusaha membunuh ibu mertua nya. Sampai ajal tiba, terlihat senyum puas di wajah nya, senyum tipis yang makin lama makin lebar lalu tiba-tiba Asmirah melihat ku dengan tajam dan dengan cepat mencekik ku.
Apakah aku mati?
__ADS_1
tak ada suara, senyap.
aku tak mampu melihat karna dalam keadaan mataku terbuka pun hanya hitam.
ada dimana aku sebenarnya, suara ku pun menghilang, sungguh aku ketakutan dan gak menemukan apapun.
__ADS_1