Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
113. Plan


__ADS_3


Warna pen merah adalah bagian dari ruang bawah tanah, dan bu Yani bilang kalau denah coretanku tak jauh berubah dari zaman dulu, katanya memang ruang tengah itu dibuat los karna itu juga tempat memamerkan lukisan dan ada meja marmer bentuk lingkaran yang cantik sekali dan kuno, di ruang itu hanya dengan 4 kursi kayu jati yang teramat antik.


“Pintunya ada dibawah gitu ya, terus ditutup sama tanaman jadi gak akan ada yang sadar kalau itu ada ruang bawah tanah, memang ruangannya terpisah dari ruang utama, dan ada gemboknya itu, kunci gembok kuno tembaga warna kuning, dan saya gak tau itu kuncinya di simpan dimana.” ujar bu Yani.


“Wah, memang banyak sekali tanaman, saya juga tidak menyangka kalau dibawah itu ada ruang bawah tanah, karna ada kolam ikan juga disitu.” jawab Toby.


“Di ruang bawah tanah banyak sekali lukisan dan barang-barang pendahulu saya, mungkin kalau dijual saat ini harganya sangat mahal karna memang barang kuno dan punya harga, ada juga emas jaman dulu dan banyak lagi harta kuno, kalian kalau kesana akan menemukan banyak peti perhiasan, kalau tidak salah ada peti yang bukan dari kayu yang banyak berisikan dokumen-dokumen.” jawab bu Yani.


“Wow, speechless saya bu, saya sungguh tidak menyangka hal ini yang saya anggap hanya ada di film, ternyata saya tau secara nyata.” jawabku yang tertegun speechless.

__ADS_1


“Memang banyak nak, rumah dulu juga banyak yang begitu, tapi hati-hati ya engap banget saya dulu pernah masuk karna diberi gelang sama nenek saya, jadi seperti lorong memang ruangan nya seperti labirin jadi hati-hati jalannya ada 2 cabang kadang kalau gak hapal bingung sendiri.” jawab bu Yani.


“Jadi detailnya kira-kira peti kayunya ada di bawah pohon mangga ya bu?” tanya Ana.


“Ya kira-kira begitu, tapi gak tau ya sekarang, pas kalian ada tangga turun itu nanti ada 2 lorong kanan dan kiri, nah itu kalian pilih yang kanan,” jawabnya.


“Kok aku jadi deg-degan sendiri,” kata Cantika.


“Kamu memang gak pernah kerumah itu nak, tapi mama juga gak pengen berkunjung ke sana,” jawab bu Yani.


“Sudah tak ingin terikat,” jawabnya.

__ADS_1


“Kamu sudah punya istana sendiri, jadi kamu tak perlu kesana,” imbuh suaminya bu Yani.


“Iya pa, mama juga sudah bahagia dengan keluarga kita sendiri.” jawab bu Yani.


Akhirnya kami disuruh istirahat dan bersantai dulu saja, ceritanya dilanjut besok, kalau butuh apa-apa bisa langsung datang saja dan kami kembali ke rumah yang khusus tamu dan kami masih tertegun tanpa kata, masing-masing dengan pikirannya masing-masing. Aku juga merasa sangat pusing dan serasa adrenalinku bertambah, entah ini semangat dari mana. Aku pun ingin tidur tapi mengingat banyaknya pekerjaan jadi aku membuka laptop dan mulai bekerja, dan ternyata anak-anak sudah pada tidur dengan nyenyak rupanya mereka sangat kecapean.


Sedangkan anak-anak di grup sudah pada menanyakan kabar kami dan penasaran, sedangkan aku hanya mengirim foto-foto Ana dan Toby tidur sambil memperlihatkan suasana di rumah bu Yani, mereka sangat senang dan merasa iri karna pengen juga kesana. Aku juga membawa kameraku saat itu waktu sore dan aku kerumah bu Yani dan ingin mengajak Cantika untuk berkeliling lingkungan ini karna mataharinya sangat cantik dan Cantika mengajakku dan anaknya untuk jalan ke sawah katanya matahari tenggelam di sana cantik, besok mau mengajak kami ke pantai. Kami bertiga pun jalan-jalan dan aku juga sekalian hunting foto dan memotret mereka juga, bikin story juga yang banyak sekali komen, taunya memang sunsetnya bagus sekali, dengan hilir angin yang membuat nyaman.


Setelah itu kami langsung pulang dan bu Yani sudah menyiapkan kami untuk makan malam, ternyata Ana dan Toby juga membantu di dapur dan kesal denganku karna aku gak ngajak mereka jalan-jalan, sedangkan aku pamit untuk mandi dulu baru gabung ke dapur. Setelah itu langsung makan malam dan merencanakan untuk sunrise di pantai besok pagi, Ana sangat excited dan senang sekali, kami juga memakan makanan dengan lahap dan juga membantu bersih-bersih walaupun tidak diperbolehkan. 


Setelah itu aku kembali ke kamar dan karna tadi aku gak tidur jadinya sudah ngantuk, sedangkan Toby ngopi sama suaminya bu Yanu, dan Ana malah asik nonton dan bersantai. Keesokan paginya kami sudah bersiap berangkat ke pantai dan melihat matahari terbit yang sangat indah, rencana berangkat ke sini jumat sore tapi jadinya hari sabtu pagi, dan sekarang sudah minggu, besok harus pulang rasanya kurang sekali, jadi kami benar-benar menghabiskan hari minggu kami dengan harus sampai merasa puas. Aku juga tak lupa membelikan anak-anak oleh-oleh dan Ana juga belanja untuk keluarganya, sedangkan Toby jalan sama suaminya bu Yani dan menantunya entah kemana. Malam kami packing dan bersiap besok pesawat pagi, aku meminta Cantika untuk tidak perlu mengantar ke bandara, akhirnya waktu dimana kami harus pulang tiba, bu Yani memberikan masakan khas Bali untuk kami bawa pulang dan menitipkan cincin pemberian neneknya kepada Ana untuk dikembalikan ke tempat semestinya, dan bu Yani juga berpesan banyak sekali, sangat banyak yang membuat kami tercenggang.

__ADS_1


Di pesawat aku hanya tidur saja karna memang terasa lelah dan capek aja gak tau kenapa, kami juga langsung ke kantor di jemput Roy di bandara, sampai kantor aku langsung mandi karna ada jadwal interview jam setelah makan siang, kami makan masakan Bali dan bagi-bagi oleh-oleh, termasuk anak-anak intern juga dapat oleh-oleh. Teman-teman sudah penasaran dengan ceritanya dan kami memutuskan untuk Toby saja yang bercerita sedangkan aku banyak sekali pekerjaan, Ana pun juga rasanya pengen tidur, jadi dia lanjut istirahat karna lagi gak enak badan.


Datanglah peserta interview 4 orang dan aku juga langsung menginterview dan mengetes mereka langsung, dari 4 orang ini hanya aku pilih 1 pegawai dan 1 intern. Aku juga memberikan oleh-oleh dari Bali ini untuk bingkisan mereka pulang, karna aku tau kalau ikut begini ini melelahkan, setelah semua interview dan tesnya selesai mereka langsung pulang dan aku mengamati hasilnya yang membuat aku pusing karna memang cukup ketat aku memilih dan bukan hanya skill saja tapi juga milih orang juga pakai hati sedikit, kira-kira bisa gak nih diajak bekerja sama. Karna cuma pandai skill saja tapi gak punya attitude juga jelek banget. Aku pun melamun dan tiba-tiba dikagetkan sama Toby yang penasaran dengan hasilnya, lalu dia juga melihat dan memberikan pendapat.


__ADS_2