
Aku memang dari awal sangat curiga dengan anak-anak bu Hartanti yang terkesan tidak mau tau tentang keluarganya tentang persewaan rumah dan tentang lingkungan sekitar, saat bu Hartanti sakit aja terkesan ada yang ditutupi, mereka pasti sangat-sangat paling tau dengan sejarah rumah itu dan bagaimana kehidupan keluarganya. Mereka tidak mau menuruti perintah atau aturan-aturan di keluarga itu membuat moyang mereka marah lalu kemana keluarga mereka anak buyutnya yang memilih meninggalkan rumah warisan dan lebih memilih hidup dengan keluarga barunya.
Kenapa tak marah saja dengan keluarga itu, bukannya anak cucunya harus tinggal bersama dirumah punden ? lantas mengapa anak cucunya yang lain yang tidak tinggal di rumah utama itu tidak dicari atau dihantui agar kembali ke rumah punden? Ataukah memang banyak rahasia yang tidak kami ketahui sehingga menjadi salah paham yang sangat rumit ini.
Semoga saja Ana dan Aca bisa menghubungi keluarga tersebut agar turut membantu memberikan kami semua jalan terang agar terlepas dari cengkraman rumah punden itu. Memang rumah itu sudah sampai pada keturunan ke 7, lantas apa selanjutnya ? mau ada apa ? apa yang akan terjadi. Memang ini sangat ganjil bahkan orang-orang sekitar yang mengenal rumah itu pun tak tau harus bagaimana.
Secara logika pak Broto adalah orang yang baik dan dermawan, membantu sesamanya terlebih orang-orang yang ada di kampung nya, masyarakat disana juga sangat mengagumi pak Broto. Jadi masalahnya hanya ada pada Amirah yang begitu kejam mengontrol semua keluarga harus pada kendalinya, apakah memang benar seperti itu atau bagaimana? Memang banyak sekali pertanyaan yang sangat membuatku risih sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, kami semua harus menanggung akibatnya karna terjebak dan terjerembab dalam rumah sewa yang ternyata mengandung banyak memori kelam.
Apakah salah kami ? tentu tidak, kami hanya masuk ke arus yang entah dibawanya ke antah berantah, kami ingin damai dan cepat usai dari cengkraman tersebut. Selama menyewa rumah itu juga sebisa mungkin aku tetap konsentrasi dalam bekerja walaupun banyak sekali hambatan yang terjadi dan berusaha tetap cool di situasi yang harusnya meledak-ledak karna banyaknya gangguan dari makhluk lain. Aku dan Ana berusaha keras untuk tetap baik-baik saja, Ana sampai harus menaruh sesuatu agar kami semua aman padahal gak ngefek karna memang aura rumah itu seluar biasa itu.
__ADS_1
Sepulang kerja selalu ada saja yang membuatku semakin pusing dan tubuhku sangat berat, saat kerja juga risih karna ada yang penasaran dengan pekerjaan kami dan menatap dengan tajam, rumah itu sangat ramai, bagaimana tidak ramai, rumah itu seperti rumah di India yang semua anak cucu cicit nya tinggal bersama. Seramai itulah rumah itu jika dibayangkan dan sakitnya setiap hari aku harus merasa baik-baik saja dan deal dengan situasi yang memusingkan dan menyesakkan itu.
Aku khawatir dengan Aca dengan anak-anak yang lain dan juga dengan diriku sendiri, mereka terlalu berisik dan mengganggu. Andaikan mereka semua bisa melihatnya mereka tak akan betah barang 1 jam pun di rumah itu. Bagaimana tidak, saat kami berusaha bikin syukuran untuk rumah itu mereka sebenarnya tidak suka karna menganggap kami hanya bermain-main aja biar aman, padahal kami tulus melakukannya demi kebaikan semua penghuni yang nampak maupun tidak nampak, tetapi mereka malah memandang kami sebelah mata karna kami bukan bagian dari mereka, kan memang bukan, kami hidup dan mereka tidak. Kami juga bukan saudara atau pun keluarga mereka, tapi kami kan menyewa dengan baik-baik kenapa harus diganggu sampai sedemikian rupa.
Bu Hartanti semasa hidup juga tak bisa menjelaskan secara terperinci hanya larangan demi larangan yang membuat kami seperti orang bodoh diperlakukan seperti ini. Lalu anak-anak mereka yang sok tidak tau apa-apa itu bisa-bisanya mendatangi kami dan butuh bantuan dari kami. Bukannya dulu menyuruh kami agar tidak ikut campur dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah keluarga mereka sendiri. Namun sekarang mengapa mereka bersikap sebaliknya.
Tapi aku sangat ingin bertemu dengan kakek yang cicit dari sahabatnya pak Broto, sangat ingin ketemu dan berencana akan kesana dengan Aca, Ana tak bisa ikut karna dia harus interview intern baru. Rencana kesana besok saat jam makan siang karna kebetulan kami sudah menyelesaikan kerjaan tadi secara terperinci demi besok bisa kosong. Biarkan bagian tes dan interview itu Roy dan Ana. Sekalian besok biar lebih pendekatan dengan Aca.
Memang aku tak sabar besok ingin segera terlaksana tetapi aku juga jadi kepikiran apa kata mbah putri tentang pernikahan, aku akan menikah saat Aca benar-benar siap agar kami berdua merasakan benar-benar bahagia. Di rumah mbah putri juga menasehati agar tidak kabur dalam masalah yang sedang dihadapi, mama sangat khawatir tentang rumah punden ini, dan mbah putri juga meminta agar bersikap pelan namun pasti, ada mbah putri disini jadi rumah ini akan aman dari makhluk-makhluk yang berdatangan hanya untuk meneror, karna mbah putri punya pelindung dari kakek dan suaminya.
__ADS_1
Aku juga rasanya ingin melindungi Aca mangkanya aku sangat-sangat ingin menikahinya, karna menurutku dengan menikahinya aku akan berjarak sangat dekat agar dia akan selalu ada dalam pandangan mataku tanpa terkecuali. Mama juga menyarankan jangan terlalu memaksakan kehendak terkadang mengikuti arus lebih aman dari pada meronta lalu tenggelam.
Memang dua wanita yang ada di rumahku ini sangat hebat dan pemikirannya luas dan sangat keren. Aku banyak belajar bagaimana caranya memahami wanita dan sabar dalam menghadapi dunia. Mama juga selalu mengingatkan agar bersikap baik dengan adik tiri meskipun begitu dia tak ada salah apapun dengan kami jadi jika adik tiri menghubungiku aku harus bersikap selayaknya kakak bagi dia. Itu hal yang sangat sulit dan aku berusaha menerima keadaan ini pun juga sangat sulit jadi gak mudah untuk bisa seperti yang mama omongkan.
...****************...
Waktu telah tiba, saatnya aku dan Aca pergi ke kampung asri untuk mengunjungi si kakek yang baik yang mau membantu kami menemukan jalan terang.
Namun setibanya kami disana ...
__ADS_1