
Lee sudah menghentikan mobilnya di depan kampus Emil. Biasanya Lee akan tetap berada di dalam mobil namun sekarang berbeda, pria itu keluar mengitari mobilnya untuk membukakan pintu sang istri.
"Kak Lee, tumben sekali mau membukakan pintu untukku," ucap Emil dangan wajah yang sudah tersipu malu.
"Mulai sekarang setiap hari hal ini akan menjadi rutinitas," jawab Lee sembari menutup pintu mobil.
Bersandar di mobil, "Lihatlah itu semua teman, Emil menatap kearah sini," tegasnya.
Mengacak rambut Emil pelan, "Suami kamu memang tampan, jadi hal seperti ini akan sering terjadi," ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Terserah," sahut Emil sembari mengangkat kedua bahunya acuh.
"Emil," teriak Park yang baru saja turun dari mobil.
"Tumben, aku yang datang lebih dahulu?" tanya Emil sembari mengamati wajah Park yang terlihat lemas, mungkin dia kurang tidur tadi malam jika dilihat dari lingkaran hitam yang ada di bawah matanya.
"Pasti dia bangun kesiangan, karena nonton drakor," sela Lee yang sudah hafal betul dengan sikap adik kandungnya itu.
"Kakak, tahu saja," ucapnya santai.
Secara kebetulan juga mobil yang dikemudikan oleh Helena memasuki halaman parkir kampus ini. Ketiganya mengamati wajah tampan Lee dari dalam mobil.
"Helena, bukankah itu, Lee Back, kakaknya, Park yang terkenal dingin dan juga pewaris utama keluarga Back," ucap Banu yang sekarang sedang duduk di kursi belakang.
"Kau benar sekali, diam begitu tampan aslinya dari pada di media yang sering kali memasang artikel baik tentangnya," sahut Lotie dengan mata berbinar-binar.
"Tampan sekali, dan dia begitu cocok denganku." Penuh percaya diri, itulah hal yang menjadi ciri khas Helena.
Ketiganya turun dari dalam mobil ini, Helen berada ditengah-tengah sahabatnya. Sebelum melangkah Helen mengeluarkan kaca dari tasnnya untuk memeriksa apakah riasan wajahnya sudah benar, ia mengambil listrik untuk mempertebal dandanan.
"Girls, apakah sudah terlihat sempurna?" tanya Helena pada kedua sahabatnya.
"Sudah begitu sempurna, kau memang selalu menjadi yang tercantik," ucap Banu.
"Ayo kita segera melangkah, dan aku sangat yakin kalau pria tampan itu akan langsung jatuh hati padamu sejak pandangan pertama," imbuh Lotie.
__ADS_1
Menyibakkan anak rambutnya kebelakang telinga dengan gaya anggun, "Aku sudah tahu itu, tidak ada satupun pria yang bisa menolak pesonaku.
_ _ _
"Lihatlah itu musuh bebuyutan kamu kenapa melangkah kemari?" tanya Park. Lee dan juga Emil melihat kearah ketiganya dengan tatapan datar.
"Park, ayo kita masuk kedalam bersama," ucap Helena berbasa basi.
Apakah dia salah makan hari ini? Kenapa sikapnya berubah menjadi baik, "Kamu duluan saja," sahut Park. Enggan sekali berjalan bersama gadis bermuka dua kayak mereka.
Tidak mengubris jawaban Park, "Wah ... aku sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan, Kakak kamu yang tampan ini," ucapnya dengan gamblang dan tidak tahu malu.
"Sith! Ternyata dia mengincar suamiku, sebaiknya tadi aku melarang, kak Lee untuk keluar dari dalam mobil saja jika tahu akan seperti ini jadinya.
Mengeluarkan tangannya sembari berkata, "Perkenalkan nama aku, Helen, teman baik Park," ucap Helena dengan nada suara terdengar sedang merayu. Emil dan juga Park langsung mengusap telingannya yang tiba-tiba terasa gatal.
Lee hanya diam tanpa memiliki niat untuk menjabat tangan gadis itu, Lee menatap Emil kemudian berkata.
"Kamu masuklah bersama dengan Park," ucapnya sembari membelai rambut Emilia.
Mendekat kearah Emil lalu berbisik padanya, "Kamu pasti sekarang sedang cemburu." tebaknya benar sekali.
Menarik tangan Lee dengan berani kemudian memeluknya, tindakan spontan yang Helena lakukan membuat Lee tidak siap dan masuk kedalam pelukan wanita agresif itu.
"Kak Lee hati-hati di jal ...." ucapan Helena terhenti saat Lee mendorongnya kebelakang. Hampir saja wanita itu akan terjatuh jika tidak ada Banu dan juga Lotie yang memeganginya dengan erat.
"Berani sekali wanita seperti kamu menyentuhku," ucapnya dengan mengerutkan keningnya. Mengusap jasnya seakan merasa jijik seolah Helena adalah ulat bulu yang membuatnya harus menjauh.
Deg!
Jantung Emil mulai bergemuruh, kecemburuan mulai membuat nafasnya tidak teratur, emosi sudah berdenyut di puncak ubun-ubunnya. Ia tidak suka jika melihat suaminya di dekati oleh wanita lain apalagi dia dan juga Helena tidak pernah berhubungan baik sebelumnya.
Memeluk suaminya, ia berharap hal ini bisa menurunkan emosi lelaki itu, "Kak Lee, sudah abaikan saja, sebaiknya kamu segera berlangkat ke kantor," pintanya. Emil memang emosi, namun ia masih bisa mengendalikannya sebelum bencana besar terjadi di kampus ini.
"Semoga saja, Emilia bisa membuat kak Lee tenang," ucapnya dalam hati dengan manik mata menyapu sekitarnya. Dan benar saja semua orang sedang mengamat mereka sekarang. Ada yang berbisik-bisik dan ada juga yang menatap dengan wajah terlihat penasaran menantikan adegan selanjutnya.
__ADS_1
"Baiklah," sahutnya dingin. Ia tidak bisa marah kalau sudah melihat wajah istrinya yang imut dan juga mengemaskan ini. Tidak pernah menyangka sebelumnya, pria dingin seperti dirinya malah tunduk di bawah gadis ingusan seperti ini.
"Hati-hati di jalan, Kak Lee." Park memeluk sekilas tubuh kekar kakaknya itu. Lee menyambut hangat pelukan adik kandungnya. Sebelum masuk ke dalamm mobil, Lee sempat menatap Helena tajam. Seolah ia mencoba memberikan peringatan pada gadis itu melalui sorot matanya.
"Emil, ayo kita masuk saja," ajak Park dengan mengandeng tangan Emil tanpa perduli dengan Helena yang kini sedang melihat mereka.
"Helena, apakah kau baik-baik saja?" tanya Banu.
"Aku sangat baik, aku ingin sekali mendapatkan pria itu," ucapnya secara sadar dengan manik mata yang melihat mobil Lee menghilangkan di balik gerbang utama kampus ini.
"Dia sudah mempermalukan kamu," jelas Benu.
"Aku malah Jatuh cinta karena sikapnya."
_ _ _
"Emil, sebenarnya apa hubungan antara kamu dan juga kakaknya Park, kenapa aku melihat kalian selalu bersama sedangkan, Park malah diantarkan oleh supirnya setiap hari?" tanya Alan yang pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Eh, itu, anu," Emil gelagapan bingung mau menjawab apa karena pertanyaan ini terlalu mendadak baginya.
"Aku berada di rumah sakit, sedangkan Emilia tinggal di rumahku," sela Park.
"Apakah tidak masalah jika kalian tinggal berdua saja?" tanya Alan lagi sembari melangkah keluar dari studio.
"Kami tidak tinggal satu kamar, jadi tidak masalah," sahut Emil cepat.
"Benar juga." Alan mengganggukkan kepalanya.
"Kalian mau aku antar kemana hari ini?" tanya Alan pada Emil.
"Kami mau pergi ke mall," sahut Emilia.
"Biar aku antara saja kalian berdua," pinta Alan.
"Tidak perlu, aku sudah memesan supir," sahut Emilia cepat.
__ADS_1