
"Sudah jangan kecentilan, Park kemarilah." Melirik kearah Helena dengan menarik salah satu senyumannya. "Park, apakah kamu tidak gatal-gatal karena bersentuhan dengan ulat bulu."
"Ulat bulu." Helena mengulangi kata-katanya itu lagi dengan kedua bola mata yang sudah hampir lepas dari kodratnya.
Lee mengelengkan kepalanya dari dalam mobil melihat sikap bar-bar istrinya yang seperti ini. Lee melajukan mobilnya keluar dari halaman kampus ini dengan tersenyum-senyum sendiri. Gadis kecil itu sungguh membuatnya good mood setiap saat. Tapi tidak jarang Lee juga sering merasa kerepotan karenanya.
"Emil, sudah jangan di teruskan lagi sebaknya kita masuk saja," ajak Park.
Mengeluarkan alkohol dari dalam tasnya. ia langsung mengambil tangan Park kemudian membersihkannya dengan alkohol dan juga tissue yang selalu ia bawah. "Agar tangan kamu higienis kembali dan juga terhindar dari segala macam kuman," melirik ke arah Helena sembari menjulurkan lidahnya. "Kamu harus memakai ini," imbuhnya lagi.
Park hanya bisa menahan tawanya setelah mendengarkan ucapan spontan Emilia, kakak iparnya ini sungguh licih sekali, ia menyindir Helena habis-habisan pagi hari ini. Tapi yang Park heran sampai sekarang, kakak iparnya itu masih saja bisa mempertahankan wajahnya yang terlihat polos namun kata-katanya bisa menusuk telak ke harga diri Helena sekarang.
"Berani sekali kau mengatakan aku ulat bulu dan juga kuman." Helena hendak mengarahkan tangannya untuk menampar pipi Emilia. Tapi Emil lebih dahulu menggengam erat tangannya sembari berkata.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu itu, aku tidak mengatakan kamu seperti itu, tapi jika kamu menyadarinya itu lebih bagun." Setelah bicara Emil menghempaskan tangan Helena dengan kasar sampai wanita itu merintih kesakitan.
"Sith! Berani sekali dia melakukan hal ini padaku." Gerutu Helena sembari menatap pergelangan tangannya yang berwarna kemerahan.
"Kita harus segera balas dendam, sepertinya, Emilia itu gadis yang licik dan dia juga ancaman besar bagi kamu di lomba menyanyi nanti," ucap Lotie sembari menatap punggung Emil dan juga Park yang sudah menghilang di balik pintu utama kampus ini.
_ _ _
Di tengah-tengah mengerjakan tugas, Emil mulai berdiri dari posisi duduknya dan ia berpamitan pada dosen untuk pergi ke kamar mandi. Setelah mendapatkan ijin barulah ia keluar dari ruangan ini.
Emil melihat Helena dan juga kedua temannya sedang berada di luar toilet entah apa yang mereka lakukan di sana, mungkin menjadi penjaga toilet. Emil tidak menghiraukan ketiganya ia langsung melangkah masuk ke dalam toilet.
"Ayo kita tuangkan air sabun ini ke depan toilet, biar kalau gadis licik itu keluar dia akan terpeleset," ucap Helena dengan menaruh kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Banu, lakukan dengan benar, aku akan berdiri sedikit lebih jauh untuk merekam kejadian ini," pinta Lotie sembari membuka ponselnya dan ia langsung melakukan siaran langsung pada instagramnya.
Para penghuni kampus yang kebetulan sedang berjalan tidak jauh dari toilet memperhatikan apa yang sedang Helena dan juga kedua sahabatnya itu lakukan.
"Jangan ada yang pergi, tetaplah di sana dan kita akan melihat pertunjukan seru sebentar lagi," ucap Helena dengan penuh percaya diri. Ini adalah hukuman bagi orang yang sudah mencari masalah dengannya di kampus ini. Begitu pikirnya.
Di dalam toilet.
"Kak Lee, kenapa kamu berada di dalam toilet wanita," teriak Emil dengan lantang.
Mendengar suara tersebut Helena langsung refleks berlari masuk kedalam toilet, tapi gadis itu lupa jika ia sudah menaruh air sabun di depan toilet jadi, inilah yang dinamakan senjata makan tuan.
"Huaaa." Helena terpeleset dan ia jatuh ke lantai dengan kasar sampai dress berwarna pick yang sedang ia kenakan basah semua.
"Huaaaahhahahah, pertunjukan yang kamu bilang ini sangat menghibur sekali," cloteh para pria sembari bersiul-siul.
Lotie dan juga Banu sebisa mungkin menahan tawanya melihat kondisi sahabatnya sekarang. Hingga suara bentakan lolos dari bibir Helena yang sedang merasa kesal.
"Kenapa kalian masih diam di sana, bantu aku." Teriak Helena. Karena kaget Lotie malam memencet tombol posting pada layar ponselnya.
Emil keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang memerah, ia tertawa sejak dari tadi. Emil memasang wajah polos kemudian ia berdiri dihadapan Helena sembari berkata.
"Helena, kenapa dengan baju kamu itu?" taya Emil pura-pura tidak tahu.
"Semua gara-gara kamu." Sembur Helena tidak terima.
"Apakah kalian semua melihat saya mendorong, Helena?" tanya Emil kepada semua orang. Tentu saja mereka semua mengelangkan kepalanya. "Kau jatuh sendiri masih berani mengkambinghitamkan orang lain."
__ADS_1
"Helena, ayo kita pergi saja." Lotie membantu sahabatnya itu melangkah.
Helena melepaskan hills yang ia kenakan karena terasa licin. Image anggun dan juga gadis cantik yang selama ini di puja oleh banyak pria hancur dalam sekejap mata. Bahkan semua pria malah menatap Emilia dengan wajah memuja.
_ _ _
"Ini makanan pesanan kalian," ucap Alan sembari menaruh pesanan Park dan juga Emil di atas meja dengan tersenyum tipis.
Mereka bertiga sedang berada di kantin kampus, sebelum pulang ketiganya memutuskan untuk makan siang di kantin ini. Beberapa pria menatap kearah Emil dengan berbisik-bisik sepertinya karena kejadian tadi semua orang membicarakan Emil, bahkan dengan sekejap Emil sudah di kenal hampir seluruh penghuni kampus ini.
"Alan, Park. Kenapa mereka melihatku seperti itu?" tanya Emil polos. Ia merasa tidak nyaman sekali kalau mendapatan tatapan seperti itu.
"Apakah kamu tidak tahu, kalau aksi kamu tadi viral di kampus ini?" tanya Park dengan memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya pelan.
"Aksi apa?" tanya Emil bingung.
"Saat kamu keluar dari toilet tadi, Lotie merekam semuanya dan dengan bodoh dia malah memencet tombol posting pada ponselnya jadi semua orang mengetahuinya dan mereka semua mulai kagum pada kamu sebab bisa memberikan si sombong Helena pelajaran. Helena bahkan langsung pulang ke rumahnya setelah kejadian itu tadi pasti kini gadis jahat itu sedang menagis di atas ranjangnya mengutuki kebodohannya sendiri," jelas Park panjang lebar agar sahabatnya itu bisa mengerti.
"Emil memang seperti itu, dia tidak pernah mau mengalah jika tidak salah." Alan mengusap rambut Emilia dengan senyuman bangga terukir di bibirnya.
Park yang melihat akan hal itu langsung membuang pandangannya kearah lain. Dadanya terasa sesak setiap kali ia melihat Alan bersikap seperti ini pada Emilia.
"Gadis seperti, Helena tidak pantas di takuti tapi harus diberikan pelajaran biar kapok." Emil berbicara mantap. Park menatap dengan menganggukkan kepala setuju sekali.
"Kamu benar sekali aku bangga memiliki kakak ... " Emil langsung menutup mulut Park agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Apakah nanti kita akan jadi latihan?" tanya Alan kemudian membubarkan suasana canggung di antara mereka
__ADS_1