
Perusahaan Back.
Lee keluar dari ruangan meeting dengan terburu-buru karena ia lupa tidak membawa ponselnya, setelah berada didalam kantornya, ia langsung melangkah menuju meja kerja kemudian menyambar ponselnya, ia melihat panggilan dan juga pesan singkat dari Emil
yang memenuhi notifikasi di ponselnya tersebut.
Menepuk pelan jidatnya sembari berkata, “Ya, Tuhan aku lupa untuk menjemputnya.”
Pria itu menghubungi istrinya dengan melangkah cepat keluar dari ruangan kantornya, baru saja Lee melangkah keluar pintu namun asisten Luwis
sudah menghentikan langkahnya.
“Tuan muda, ada kabar penting,” ucap asisten Luwis setelah membungkukkan tubuhnya.
“Kamu kabari aku lewat telepon, aku mau menjemput istriku lebih dahulu,” ucap Lee. Asistennya ini jelas tahu jika majikannya sudah menikah karena perjodohan.
“Ini mengenai, Nona muda.” Langkah Lee langsung terhenti ketika ia mendengarkan ucapan tersebut. Pria itu langsung membalikkan badannya
dengan ponsel yang masih berada di telinga.
“Ada kabar apa?” tanya Lee dengan air muka terlihat serius, Telinganya masih mendengarkan nada panggilan telepon yang masih belum tersambung juga.
“Nona muda mengalami kecelakaan …,” belum selesai Asisten
Luwis berbicara Lee sudah menjatuhkan ponselnya begitu saja ke lantai.
Pria itu langsung memutar tubuhnya berlari keluar dari perusahaan ini. Semua karyawan melihatnya dengan tatapan bingung, tidak biasanya pria yang terlihat datar dan juga arogan itu terlihat panik seperti ini.
_ _ _
Rumah sakit.
Lee berlari di lorong rumah sakit, ia melihat Park yang berada di pelukan Una sedangkan Alan berdiri di dinding rumah sakit dengan tatapan kosong. Lee melewati Alan begitu saja tanpa menatapnya.
“Apa yang terjadi di mana, dia?” tanya Lee sembari menatap kearah Una dan juga Park secara bergantian.
Mendengarkan suara Lee, Park langsung berhamburan masuk
kedalam dekapan kakaknya, “Ini semua karena, Park andai saja aku tidak meninggalkan Emil sendirian di kampus hal ini tidak akan pernah terjadi.” Setelah mengetahui berita yang menimpa Emil, Park tidak hentinya menyalahkan dirinya sendiri bahkan ia masih tidak berhenti menangis walaupun Alan dan juga
__ADS_1
Una sudah membujuknya sejak dari tadi.
Mengusap lembut kepala adiknya itu, “Kamu tidak salah, justru yang salah adalah, Kak Lee karena lupa untuk menjemputnya.” Kakak beradik
itu saling menyalahkan satu sama lain.
Alan hanya menatap keduanya, ia berdoa dalam hati agar Emilia baik-baik saja, sebab wanita itu yang telah membuatnya memiliki semangat untuk menjalani setiap harinya. Dan diam-diam, Alan juga menyalahkan dirinya sendiri karena hal ini.
“Kalian, jangan menyalahkan diri sendiri musibah seperti ini tidak akan terjadi jika, Tuhan tidak mengijinkannya. Lebih baik kita semua berdoa saja untuk kesembuhan Emilia.” Una mengusap kedua punggung anak-anaknya.
Ia juga merasa sedih, namun ia mencoba untuk tegar hatinya sangat hancur ketika ia melihat kondisi Lee kacau seperti ini.
"Siapa dalang di balik semua ini?" tanya Lee dengan wajah iblis nya.
"Seorang pengawal melihat mobil berwarna Pink melaju dengan kecepatan penuh menabrak tubuh Emilia, saksi mata dalam kejadian tersebut juga meyakini bahwa mobil itu sengaja menabraknya." Alan ikut angkat bicara.
Lee melepaskan pelukannya pada Park, ia segera mengeluarkan ponselnya yang lain untuk menghubungi asisten Luwis, ia meminta orang kepercayaannya itu untuk menyelidik kasus ini dan menangkap siapa orang yang sudah berani melakukan hal keji ini pada istrinya.
Kedua orangtua Emil sedang dalam perjalanan menuju negara ini. Jhong berdoa di dalam ruangannya, ia juga gelisah ingin sekali keluar dari
ruangan yang sudah ia tempati bertahun-tahun lamanya namun kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.
Sedangkan di sisi lain, Narra mencoba untuk menenangkan hati istrinya yang sedang cemas. Wanita yang telah melahirkan, Emilia itu tidak hentinya menangis sembari menatap kearah foto anaknya yang berada di layar ponsel. Tangisan seorang Mama yang takut kehilangan anaknya membuat siapa saja merasa sedih seakan merasakan hal yang sama. Jim memeluk tubuh sang istri mencoba memberikan kekuatan moral pada sahabatnya jika semua akan baik-baik saja.
_ _ _
2 jam kemudian.
“Kenapa mereka masih juga belum keluar. Apa yang mereka lakukan di dalam sana,” teriak Lee frustasi, Kristal bening sudah bertumpuk di
pelupuk matanya.
“Tenanglah dan tetap berdoa.” Una memeluk tubuh Lee. Lee yang selalu tenang dalam menghadapi berbagai macam hal, kini terlihat begitu panik
dan frustasi.
Cklek.
Akhirnya pintu itu terbuka, dan terlihat seorang dokter pria yang keluar dari sana, semua orang langsung melangkah menghampirinya dengan
__ADS_1
terburu-buru.
“Dokter, bagaimana dengan kondisi, istri saya?” tanya Lee. Ia tidak sadar mengatakan hal itu-menyebut Emil sebagian istrinya.
Alan hanya bisa menarik salah satu senyumannya, ia masih ingin bersama dengan, Emil mungkin merebutnya jika hal itu memungkinkan. Namun melihat cinta Lee yang begitu besar pada gadis yang ia cintai juga itu membuatnya kalah telah sebelum berjuang. “Tuhan, jika kau selamatkan nyawanya, aku berjanji tidak akan menjadi penghalang bagi kebahagiaan Emilia asalkan gadis yang aku cintai itu bahagia,” batin Alan.
“Nona muda, koma dan kondisinya kritis sekarang,” sahut Dokter tersebut sembari menggenggam kedua tangannya takut mengatakan kabar buruk ini.
“Lalu apa yang kamu lakukan di dalam sana?” teriak Lee yang
tidak terima akan kenyataan memilukan itu.
Alan langsung menangkap tubuh Park yang lemas, kakinya seakan kehilangan penopang setelah mendengarkan penjelasan dokter tersebut.
"Kita berdoa saja agar, Emil baik-baik saja."
“Kami sudah berusaha semampunya.” Dokter itu gemetar ketakutan, keningnya di basahi oleh keringat dingin wajahnya pucat pasih seakan terserap oleh tatapan tajam yang Lee hunuskan padanya sejak dari tadi.
“Lee, kamu tenang lebih dulu biarkan dokter menjelaskan semuanya,” ucap Una bijak.
“Sekarang apa yang harus kami lakukan?” tanya Una.
“Jika dalam 24 jam, Nona muda masih belum bangun juga akan
butuh waktu berapa lama untuknya bisa kembali membuka mata hanya, Tuhan saja yang tahu.” Dokter itu memberanikan mulutnya untuk berbicara.
“Berani sekali kamu mengatakan hal itu?” bentak Lee sembari mencengkram kera baju dokter malang tersebut.
“Lee, Mama bilang lepaskan dokter itu.” Una berbicara penuh perintah, Lee mau tidak mau harus mengikuti perintah darinya.
“Bolehkan kami menjenguknya?” tanya Una. Pada dokter tersebut.
“Boleh, asalkan satu persatu dan usahakan memberikan pasien
motifasi agar dia bisa melewati masa kritis ini.”
“Ma, masuklah lebih dahulu,” pinta Lee pada mamanya.
“Tidak, kau masuklah,” pinta Una yang sadar dengan kegelisahan putranya tersebut.
__ADS_1