Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Rencana Park Part 1


__ADS_3

Mencebikkan bibirnya, "Aku akan buat kamu mengaku nanti, lihat saja." Park mengangguk-anggukkan pelan kepalanya, sepertinya ia sedang merencanakan suatu hal untuk Emilia tapi entah apa.


Selama didalam mobil tidak ada perbincangan lagi diantara mereka berdua, Emil sibuk menatap kearah jalanan, Park sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan supir pribadi Park saat ini sibuk memusatkan perhatiannya kearah jalanan, ia fokus menuju ke gedung pencakar langit yang dimiliki oleh keluarga Back.


Kini mereka sudah berada di depan perusahaan Lee, Semua pegawai membungkukkan badannya setelah melihat Park, mereka semua menatap Emil sekilas saja karena semua pegawai masih belum mengetahui siapa itu Emilia! Andai saja semua pegawai di kantor ini mengetahui jika Emilia adalah istri kecil dari CEO perusahaan ini pastilah mereka semua akan memperlakukan Emil dengan formal sama seperti Park.


"Apakah kita tidak perlu bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan Kak Lee?" Emil berucap dengan menatap Park yang berjalan di sampingnya.


"Aku adalah adiknya, siapa yang berani menghentikan ku." Park bicara dengan penuh percaya diri. Tapi apa yang di ucapkan olehnya memang benar adanya.


"Aku istrinya tapi tidak ada yang menggangap diriku." Emil mencebikkan bibirnya.


Menarik salah satu senyuman evil nya, "Bagaimana jika di dalam ruangan itu tiba-tiba Kak Lee sedang bermesraan dengan asistennya yang memiliki tubuh molek nan mempesona," ucap Park dengan menengelengkan kepalanya menatap Emil.


Menatap Park dengan mata tajam, "Apa maksud dari ucapan kamu? Mana mungkin Kak Lee seperti itu," balas Emil tidak terima. Park semakin puas saat ia melihat kobaran api yang menyala dari manik mata kakak iparnya ini.


"Kau masih ingat dengan Asisten Kak Lee yang bernama Rosa? Dia selalu mengunakan baju seksi yang menonjolkan semua aset miliknya," menabur garam di hati Emil yang cemburu. "kakakku adalah seorang pria sejati, tentu saja dia akan betah berlama-lama dengan asisten cantiknya itu." Park sekuat tenaga menahan tawa yang hendak keluar dari bibirnya, ia tidak mau jika sampai tawa itu menghancurkan rencana yang masih baru dimulai ini.


Emil mengepalkan kedua tangannya, bahkan wanita itu berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya di lantai marmer gedung ini sembari berkata, "Tutup mulut kamu itu, Kak Lee tidak seperti itu, dia selalu memiliki sikap dingin terhadap setiap wanita," gerutu Emil, walaupun didalam hatinya sudah tidak dapat di pungkiri lagi jika apa yang dikatakan oleh Park memang benar, semua pria akan menyukai wanita dengan tubuh molek dan juga seksi, sedangkan tubuh Emil jauh dari kata itu, bahkan dadanya saja datar, membuatnya menghembuskan nafas frustasi.


"Kita lihat sampai kapan kamu akan betah menyembunyikan kecemburuan kamu itu," batin Park sembari menarik salah satu senyuman devil dari bibirnya.


"Park, sebaiknya kita ketuk pintu terlebih dahulu," pinta Emil ketika ia melihat tangan park yang sudah siap memutar hendle pintu.


"Apa kamu tidak penasaran, apa yang suami kamu lakukan jika sedang di kantor?" tanya Park pada Emil yang langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga ingin tahu," sahutnya pelan. Tapi Emil juga takut jika nanti ia melihat adegan yang tidak ia inginkan di dalam sana bagaimana. Begitu pikirnya.


"Diam saja kalau begitu," ucap Park dengan mantap dan Emil menganggukkan kepalanya setuju.


Cklek!


"Hallo Kak Lee," sapa Park dengan senyuman secerah mentari pagi.


"Untung saja apa yang ada dibayangan aku tidak terjadi," batin Emil.


Lee yang sedang sibuk dengan berkas di hadapannya langsung melihat kearah Emil dan juga Park yang berjalan mendekatinya. Lee menyandarkan santai punggunya di kursi putar yang sedang ia duduki.


"Kenapa kalian datang ke sini, tidak memberikan kabar terlebih dahulu. Bagaimana tadi jika aku tidak berada di kantor." Semburnya dengan wajah datar pada kedua wanita yang kini sedang melangkah mendekatinya.


"Cih, aku istrinya saja tidak pernah bersikap seintim itu," umpat Emil sebal dalam hati.


Park melihat sahabatnya memutar kedua bola matanya malas berarti wanita itu mulai cemburu.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Lee pada Emil yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Belum," jawabnya singkat.


"Kak Lee, itu seperti tas wanita," ucapnya dengan menunjuka tas berwarna pick pengeluaran Gucci yang tergeletak begitu saja di atas meja.


"Itu tas, rekan kerjaku," sahut Lee dengan santai. Park mulai melepaskan lingkaran tangannya dari leher Lee, lalu wanita itu berdiri disamping Emil.

__ADS_1


"Itu adalah tas wanita, tapi kenapa ada tas wanita di dalam ruangan ini," belum selesai Park membatin sudah terdengar suara seorang wanita.


"Tolong ambilkan tasku, aku lupa membawanya," ucap seorang wanita dari arah kamar mandi yang berada di dalam ruangan ini.


"Apakah, Kak Lee berselingkuh," tuduh Park dengan sengaja. Ia melirik kearah Emil yang langsung membulatkan kedua matanya lebar.


Lee hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, tapi ketika melihat wajah Emilia yang kelihatan merah padam bagaikan kepiting yang baru saja di masukkan kedalam air yang mendidih. Timbul niatan pada lelaki itu untuk membiarkan kesalah pahaman ini pada sang istri.


"Sith! Berani sekali dia selingkuh di belakangku," geram Emil dengan mengigit bibir bagian bawahnya. Jantungnya berdetak kencang sekali seakan mau keluar dari kodratnya. Kedua tangannya sudah mengepal dengan sorot mata tajam.


"Park, tolong berikan tas itu padanya," pinta Lee.


Menaruh kedua tangannya di dada dengan melirik Emilia, "Aku tidak mau kamu menikah dengan wanita lain, aku hanya akan menemani Emil saja menjadi kakak iparku." Lee mengerdipkan satu matanya, ia mengerti maksud dari adiknya ini, Park memang pintar sekali sepertinya Lee akan memberikan uang jajan lebih untuk bulan ini.


Berdiri dari posisi duduknya dengan satu kali hentakan sampai kursi itu jatuh ke lantai, "Dia tidak akan melakukannya, aku tidak mengijinkannya." Sembur Emil dengan tegas dan juga gamblang.


Lee berdiri dari posisi duduknya, dia mengabaikan ucapan istrinya tadi, tapi percayalah didalam hati sebenarnya ia juga tidak tega melihat air muka Emil yang kelihatan cemas sekarang. Lee berjalan melewati Emilia tanpa menatapnya sediki pun, kini tangannya sudah memegang tas milik rekan bisnisnya. Tapi saat Lee hendak melangkah Emil langsung menarik tas tersebut dengan kasar sembari berkata.


"Biar aku saja." ucap Emil dengan bibir yang cemberut. Lee begitu gemas sekali melihat wajah istrinya jika sedang merajuk seperti ini.


Hayo ... hayo ... apa ya yang akan terjadi setelah ini? Simak terus ceritanya dan jangan lupa komentar juga ya, supaya Author semakin semangat untuk update rutin.


Jika ingin mengenal, Author kalian bisa japri Khairin Nisa di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.


Love you Nisty Lovers jangan lupa berikan komentar, like dan juga vote yang banyak ya ... agar Author semakin semangat untuk update rutin.

__ADS_1


__ADS_2