
"Phuff." Tak bisa menahan tawanya setelah ia mengetahui kebenaran dibalik pucatnya wajah Emilia. Jelas saja wajah Emil pucat seperti ini jika di tatap tajam oleh seorang pria yang berdiri tepat di belakang Alan.
"Park jangan tertawa, bantu aku," bisik emil pelan sembari mencubit tangan sahabatnya itu agar segera membantunya untuk cepat lolos dari masalah ini.
"Alan, kamu tidak perlu merasa khawatir karena, Kakakku berada di belakang kamu, dia akan membantu Emil," ucapnya sembari menunjuk dengan sorot matanya.
Alan langsung memutar tubuhnya dan kini ia sudah berhadapan dengan Lee, "Emil, apakah kamu tidak keberatan di bantu oleh pria ini?" tanya Alan.
Dia suamiku, "Tidak masalah, aku sudah banyak merepotkan kamu." Emil berbicara cepat.
"Sana pulang," usir Lee dengan wajah datarnya. Lee selalu bersikap jujur pada orang lain contohnya seperti sekarang ini, ia tidak terlalu menyukai akan dan pun dia menunjukkan ketidak sukaanya itu
"Aku akan pergi setelah kamu masuk," sahut Alan patuh.
"Alan, terima kasih karena sudah mengantarkan kami ke rumah sakit, kamu harus hati-hati di jalan," ucap Park dengan tersenyum manis.
"Jika kalian berdua membutuhkan apapun, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan dariku," sahut Alan sembari melirik sinis kearah Lee yang masih mengamatinya.
"Tentu saja," balas Park cepat.
"Hati-hati, Emil," ucap Alan lagi.
"Baiklah," jawab Emil dan mereka bertiga melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Emil tidak percaya jika Alan begitu saja setuju dengan ucapannya, ataukah mungkin pria itu merencanakan sesuatu untuknya? Tapi apapun hal itu, Emil percaya jika Alan tidak akan pernah berniat untuk menyakitinya.
"Kenapa ia masih belum pergi juga," batin Emil sebelum ia masuk kedalam pintu rumah sakit ini.
"Ahem." Lee sengaja berdahem untuk mengingatkan sang istri jika kini ia berada disampingnya. Gadis ini benar-benar membuatnya kesal, berani sekali ia melihat Alan ketika dia berada disampingnya.
"Kak, kalau batuk minum obat jangan lihat Emil terus," sindir Park yang dari tadi mengamati kakak kesayangannya itu
"Diam lah! Dan perhatikan langkah kaki kamu itu." Sembur Lee dengan wajah datar.
"Siap, komandan," sahut Park dengan masih cengegesan. Ia tahu dengan bentul jika Lee tidak pernah serius dalam memarahinya.
_ _ _
__ADS_1
Cklek!
"Surprise." Semua orang yang berada di dalam ruangan ini berteriak dengan lantang ketika Lee membuka pintu itu.
"Mama," teriak Emil sembari berhamburan kedalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
Park dan juga Lee hanya tersenyum tipis, mereka tidak terkejut karena keduanya sudah mengetahui kalau Narra dan juga jim akan datang ke negara ini.
Emil menitihkan air mata dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya ini, mereka sudah lama sekali tidak bertemu dan Emil sangat-sangat merindukan mereka, bahkan dengan jahat kedua orangtuanya tidak mau mengangkat panggilan vidio call darinya sudah hampir satu Minggu ini. Ternyata ini alasan dibalik itu semua.
"Kamu sudah besar jangan menangis lihat itu, suami kamu melihatnya," ucap Narra dengan melepaskan pelukan putrinya tercinta. Ia mengusap cairan bening yang sudah membasahi wajah Emil.
"Mama, Emil sangat rindu sekali." Emil memeluk lagi tubuh Mamanya, ia masih belum puas untuk melepaskan rindu yang sudah lama menyelimuti hatinya.
"Hei ... hei ..., jangan manja seperti ini, malu sama suami kamu," ucap Narra lagi.
"Tidak perduli," sahut Emil dengan masih enggan melepaskan pelukannya hingga suara seorang pria yang juga begitu ia rindukan mulai menyelinap masuk kedalam gendang telinganya.
"Apakah kamu hanya merindukan, Mama saja? Tidak merindukan, Papa juga?" tanya Jim yang merasa tersingkirkan sekarang.
Melepaskan pelukannya dari Mama Narra, lalu bergantian memeluk tubuh Jim dengan erat, "Tentu saja aku merindukan, Papa juga hanya saja tunggu giliran," ucapnya polos.
"Apa kabar, Ma?" sapa lee sembari membungkukkan tubuhnya hormat.
"Apakah Emil sudah menjadi istri yang baik untuk kamu?" tanya Narra sembari menepuk bahu lee dua kali.
"Sudah." Bohong Lee.
Di luar ruangan.
Alan mengintip dari jendela segi tiga yang terbuat dari kaca transparan. Alan mengarahkan tangannya untuk memegangi dadanya yang kini terasa sesak, Emil sudah menikah sedang pria yang tidak pernah ia sukai. Pria itu selalu menatapnya dengan tajam seolah ia sedang mencoba membakarnya tubuh Alan dengan sorot mata yang penuh api itu, tapi siapa sangka jika wanita yang sangat iya cintai malah menjadi istri pria itu-kakak kandung park.
"Emil, kenapa kamu merahasiakan hal sebesar ini dariku," Alan menyandarkan punggungnya di dinding rumah sakit.
Ia menarik kembali punggungnya kemudian melangkah pergi dengan kedua tangan yang terkepal dengan begitu kuat. Matanya mulai terasa pedih seperti ada ribuan bawang yang mengelayuti matanya.
_ _ _
__ADS_1
Kediaman Lee
"Ma, malam ini aku akan tidur dengan, Mama dan juga, Papa aku sangat merindukan kalian berdua," ucapnya sembari melangkah masuk kedalam rumah.
Mengusap lembut rambut panjang putrinya sembari berkata, "Sayang, kamu sekarang sudah menikah, jadi kamu harus tidur dengan suami kamu," jelasnya.
"Kan cuman satu kali saya, ma," sahutnya berniat untuk bernegosiasi.
"Tetap saja tidak boleh," imbuh Narra lagi.
Mengerucutkan bibirnya sembari berkata, "ya sudah kalau begitu, sahut lagi.
"Lee, apakah putriku selalu merepotkan kamu seperti ini?" tanya Jim dengan melirik kearah anak menantunya.
"Tentu saja tidak, Pa, Emil istri yang sangat pengertian sekali," puji Lee secara berlebihan. Emilia yang merasa tersindir hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"Ma, aku masuk ke kamar dulu untuk membersihkan tubuhku, setelah itu kita akan masak bersama," pamit Emil sembari memeluk tubuh Narra sekilas kemudian berlari menaiki anak tangga rumah ini.
"Anak itu masih sama saja, manja sekali," batinnya dengan menatap kearah punggung Emil yang semakin menjauh darinya.
"Lee, kamu mandilah terlebih dahulu, kau pasti lelah setelah pulang bekerja," pinta Jim dengan penuh pengertian.
"Baiklah, Pa, kalian anggap saja ini rumah sendiri," sahutnya kemudian membungkukkan badannya hormat dan mengikuti jejak istrinya untuk menaiki anak tangga rumah ini.
Cklek!
Lee membuka pintu kamarnya, matanya langsung membulat dengan begitu sempurna ketika melihat istrinya sedang menanggalkan pakaiannya satu persatu dengan posisi membelakanginya.
"Ini ujian atau cobaan," batinnya dengan meneguk saliva. Lee langsung merasa gerah sekarang, ia segera membalikkan badannya sebelum Emil menatapnya tajam.
"Apa yang tidak lihat jika ada aku di sini," ucap Lee dengan tangan yang memegangi dadanya.
"Huaaa, sejak kapan kamu berada di sana?" tanya Emil sembari menutupi tubuhnya dengan baju yang sempat ia buang ke lantai.
"Lumayan lama," sahutnya jujur, Tapi kejujuran itu memuat Emil kesal setengah pingsan.
"Kalau mau masuk itu ketuk pintu terlebih dahulu, tidak sopan masuk ke kamar orang lain asal menyerobot saja." Sembur Emilia tanpa menyaring kata-katanya.
__ADS_1
"Ini juga kamarku, apa kamu lupa?" tanya Lee sembari melirik kearah Emil.
"Jangan melihat." Sembur Emil.