
Berdiri dari posisi duduknya, kini mereka berdua saling berhadap-hadapan, "Kak Lee tidak demam," ucap Emil lirih setelah ia menempelkan punggung tangannya ke jidat suaminya.
Menepis tangan Emil pelan sembari berkata, "Kau kira aku ini sedang sakit," gerutu Lee dengan membulatkan matanya. Gadis ini benar-benar sedang menguji kesabaranku, andai saja tidak mengingat jika dia adalah istriku pasti sudah aku pastikan akan melemparkannya keluar dari ruangan ini.
"Kak Lee, jangan marah," ucap Emil.
"Aku tidak marah, sekarang makanlah terlebih dahulu, aku sudah mengambilkan makan malam untuk kamu," ucap Lee dengan mengusap kasar wajahnya.
"Boleh, Emil tanya satu hal lagi?" tanyanya dengan wajah memohon.
"Bicaralah," sahut Lee dengan melangkah di samping istrinya.
"Kak Lee, tidak sedang kerasukan roh jahat atau semacamnya kan?" tanya Emil lagi masih dengan posisi yang sama menjaga jarak aman.
Menatap Emil nyalang dengan rahang yang sudah berkerut, "Emilia, kau jangan memancing emosiku." Lee berteriak dengan sangat kencang. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak istrinya apakah karena wanita itu sering menonton film Drakor yang aneh jadi seperti ini.
Tersenyum bahagia dengan wajah yang kelihatan sumringah, mungkin hanya Emil saja yang tidak takut dengan kemarahan pria dihadapannya ini. Lihat saja itu Lee sampai Mengacak-acak rambutnya frustasi setelah melihat istrinya tidak takut padanya malah ia tertawa dengan sangat lantang seakan apa yang Lee lakukan barusan adalah suatu hal yang lucu sekali menurutnya.
"Kalau melihat, Kak Lee yang marah seperti ini aku baru percaya jika ini memang lelaki yang aku nikahi." Ucapan polos Emil membuat Lee mengigit bibir bagian bawahnya kesal.
Lee hendak menjawab pertanyaan Emil tapi gadis itu sudah pergi meninggalkan begitu saja dengan emosi yang sudah berkecamuk di dadanya. Emil sudah mendudukkan tubuhnya di sofa lalu ia melahap spaghetti yang suaminya buat dengan sangat kidmat.
Menatap kearah Lee yang masih tidak bergeming dari posisinya sembari berkata, "Terima kasih, ini sangat lezat sekali bolehkah aku meminta tambah satu piring lagi," pintanya dengan ekspresi wajah yang kelihatan begitu mengemaskan sekali.
Dia begitu manis sekali sampai aku tidak bisa menolak ataupun marah kepadanya, "Baiklah akan aku ambilkan," ucap Lee kemudian berlalu keluar dari kamar.
_ _ _
__ADS_1
Lee dan juga Emil sedang bergandengan tangan masuk ke dalam dapur, ia langsung menuju ke kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang sedang ia perlukan. Sedangkan Emil sendiri sibuk memanggang roti gandum. Keduanya terlihat serasi sekali cekatan dalam segala hal. Lee dan juga Emil adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain.
Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing sampai tidak menyadari jika ada Narra dan juga Jim yang kini sedang memperhatikan mereka berdua dengan senyuman mengembang sempurna di bibir mereka.
"Lihatlah itu, mereka sangat cocok sekali, perbedaan usia yang cukup jauh membuat Lee ekstra dalam menjaga putri kita yang masih belia," ucap Narra sembari menatap suaminya yang kini sedang bersandar di pintu dapur.
"Ya, kau benar sekali. Dan aku juga sangat yakin, jika sikap manja Emilia akan membuat Lee kerepotan juga," balas Jim menyetujui ucapan istrinya barusan.
"Kak Lee, rotinya sudah matang, apakah telur dan juga daging panggangannya sudah?" tanya Emil sembari membalikkan tubuhnya dengan membawa piring berisikan roti gandum yang sudah di bakar terlebih dahulu.
"Ini juga sudah matang," sahut Lee sembari melangkah ke meja makan dengan tangan membawa piring.
"Mama, Papa. Sejak kapan kalian berdiri di sana?" tanya Emil yang tidak sengaja melihat kedua orangtuanya sudah berada di pintu dapur.
"Mama dan juga Papa sudah berdiri di sini sejak dari tadi, kalian saja yang masih belum menyadarinya," ucap Mama Narra dengan melangkah masuk kedalam dapur.
"Kami sudah sarapan pagi sebelum pulang tadi," sahut Jim.
"Kak Lee, ini makanlah." Emil menaruh nampan berisikan roti bakar yang sudah lengkap dengan isi didalamnya.
"Iya," sahut Lee dengan seulas senyuman manis. Jim dan juga Narra ikut tersenyum melihat keduanya. Mereka bahagia sekali melihat Emil bisa bertanggung jawab seperti ini pada istrinya.
Setelah sarapan pagi Emil dan juga Lee berangkat ke kampus seperti biasanya. Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mereka sampai juga di kampus. Park terlihat sedang berdiri di tiang penyanggah kampus dengan raut wajah bosan, pasti Park sudah lama berdiri di sana menunggu Emil.
"Kasihan sekali adik kesayanganku itu, dia pasti merasa lelah menunggu kamu," ucap Lee sembari mengelengkan kepalanya.
"Akhirnya mereka datang juga," ucap Park dengan senyuman sumringah. Gadis itu langsung berlari menghampiri mobil kakak kesayangannya, namun langkahnya terhenti saat Helena memanggil namanya.
__ADS_1
"Park, kau mau kemana?" tanya Helena berbasa-basi padahal sebenarnya wanita itu sudah tau kalau Park berniat menghampiri kakaknya.
Rencana apa lagi yang akan nenek sihir ini lakukan, "Aku mau menghampiri, Kak Lee."
"Kebetulan aku juga sedang menunggunya, ayo kita kesana bersama." Helena dengan sok akrab mengandeng tangan Park tanpa minta ijin sedangkan, Banu dan juga Lotie berada di samping mereka berdua.
"Park, kita bertiga sangat cocok sekali, bagaimana kalau kamu ikut saja bergabung dengan kami," ucap Lotie sembari mengangkat kedua alisnya melihat kearah Helena.
"Benar sekali apa yang, Lotie katakan barusan." Helena mengerdipkan satu matanya. Mereka bertiga pasti tidak benar-benar tulus mengucapkan hal itu, pasti ada udang di balik bakwan, eh salah udah di balik batu maksudnya, ehehe.
"Kak Lee, langsung pergi saja. Lihat itu rubah licik mencoba merayu, Park," celoteh Emil dengan manik mata yang masih menatap keluar jendela. Ia begitu emosi sekali melihat melihat Helena mencoba mendekati Park, Emil tahu dengan sangat betul kalau ketiga gadis itu pasti ingin mendekati suaminya. Tebakan Emil tidak akan pernah salah.
Menggengam tangan istrinya mencoba meyakinkan istrinya, "Aku hanya akan mencintai kamu saja, dan aku tidak akan pernah suka dengan gadis gila seperti itu," ucap Lee tegas.
"Ya benar, sebutan gadis gila memang cocok sekali untuknya. Berani sekali dia memeluk suaminya," mengertakkan giginya emosi. "Kak Lee, pasti senang di peluk olehnya."
"Aku lebih suka kamu peluk," goda Lee dengan mengerdipkan satu matanya. Melihat sikap manis suaminya ja tung Emil langsung be diskon ria.
"Kalau berangkat kerja hati-hati ya, tidak perlu turun dan menyapa Park." Dengan prosesi Emil mengatakan hal itu. Lee hanya bisa terkekeh saja mendengarkannya.
_ _ _
"Hai Park," sapa Emil setelah turun dari dalam mobil.
"Minggir lah, Park ingin berbicara dengan kakaknya," ucap Helena asal.
"Sudah jangan kecentilan, Park kemarikan." Melirik kearah Helena dengan menarik salah satu senyumannya. "Park, apakah kamu tidak gatal-gatal karena bersentuhan dengan ulat bulu." Lee
__ADS_1