
Mall.
Emil dan juga Park sudah turun dari dalam mobil setelah membayarnya terlebih dahulu, Mereka berdua langsung masuk kedalam mall ini dan menuju ke tempat yang sudah di rencanakan sebelumnya. Kini mereka sudah bertemu dengan Narra dan juga Hyouna yang baru saja selesai makan. Emil dan juga Park mengajak keduanya langsung berjalan-jalan karena mereka tadi sudah makan terlebih dahulu
"Kamu akan membeli apa, Sayang?" tanya Narra pada putrinya sembari mengandeng erat tangan Emil.
"Emil, ingin membeli baju santai saja, sudah lama Emil tidak berbelanja," jelasnya sembari bergelayutan manja pada lengan Narra. Rasanya sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan wanita yang melahirkannya.
"Ma, Park ingin masuk ke toko yang itu," ucap Park sembari menunjuk kearah toko yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri sekarang.
"Baiklah, ayo kita kesana saja," sahutnya menuruti keinginan sang putri.
"Park, kenapa kamu malah menuju ke toko bikini?" tanya Emil polos.
"Tentu saja, aku mau membeli topi." Sembur Park dengan menaruh kedua tangannya di dada.
"Maksudku bukan seperti itu," sahutnya dengan memutar bola matanya malas. "Kau jangan membelikan aku apapun dari toko itu, aku tidak mau menerimanya." Tegas Emil dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh.
Emil masih mengingat dengan sangat jelas, apa yang sahabatnya itu hadiahkan padanya saat malam pertama. Park membelikan lingerie (baju transparan) padanya sebagai hadian, Emil mengedikkan bahunya jika mengingat semua itu.
_ _ _
Park dan juga Una kembali ke rumah sakit sedangkan Emil dan juga Mama Narra pulang ke rumah. Papa Jim dan juga Lee sedang duduk bersantai di teras rumah menunggu keduanya. Setelah mobil berhenti, kedua pria itu langsung bangkit dari posisi duduknya membantu wanita yang mereka sayangi untuk membawa barang belanjaan yang tentunya tidak sedikit. Wanita memang seperti itu, mereka akan terlihat kapan kalau sudah melihat barang brended yang berjejer di setiap toko.
"Emil, kamu langsung masuk kedalam kamar saja. Istirahatlah kau pasti lelah," pinta Mama Narra.
"Baik, Ma," sahut Emil yang memang lelah.
"Eh tunggu sebentar," ucap Narra saat Emil baru saja melangkah.
"Ada apa, Ma?" tanya Emil setelah menghadap Mamanya itu.
__ADS_1
Mengulurkan paper bag di hadapan putrinya, "Ini ambilah, dan jangan banyak bertanya bawa saja masuk," ucap Narra lalu Emil menganggukkan kepalanya. Emil tidak menaruh curiga sedikitpun, tanpa ia ketahui jika paper bag yang Mama Narra berikan padanya tadi adalah milik Park yang ia titipkan padanya. Kedua orang ini sedang sekongkol rupanya.
Kamar.
"Emil, kamu membeli apa saja?" teriak Lee dengan nada suara yang sedikit lebih keras sebab kini Emil sudah berada di dalam kamar mandi.
"Lihat saja sendiri," sahut Emil dengan suara sedikit lebih keras.
Selang beberapa waktu Emil sudah keluar dari kamar mandi, ia masih mengenakan handuk yang membalut sebagian tubuhnya, ia lupa membawa baju gantinya kedalam kamar mandi.
"Kak Lee, dapatkan dari mana baju seperti itu?" tanya Emil sembari membulatkan matannya. Ia melihat baju lingeria berwarna hitam dengan hiasan kupu-kupu manja dibagian belakang baju tersebut. Emil bergidik merinding beberapa kali.
Mengangkat baju tersebut dan mengarahkannya pada badan Emil yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi, "Aku menemukan baju ini di dalam tas belanja kamu," sahutnya. Lee meneguk salivahnya saat otaknya mulai Travelling tanpa ia minta.
"Pasti ini semua kerjaan Park, dan Mama juga sekongkol dengannya," gerutu Emil dalam hati sembari mencebikkan bibirnya menyesal, kenapa tadi tidak mengecek terlebih dahulu isian dalam paper bag itu. Begitu pikirnya.
"Kak Lee, taruh kembali baju menjijikan itu," pinta Emil.
"Dasar mesum!" sembur Emil hendak meraih baju tidak senonoh tersebut tapi Lee malah membuka baju itu lalu memasangnya ke tubuh Emilia dengan gerakan cepat sampai Emil tidak sadar akan hal itu.
"Andai saja handuknya di lepas," ucap Lee dengan menatap Permandangan indah dihadapannya sekarang.
"Ihhh ... sejak kapan aku mengunakan baju ini," teriak Emil heboh sendiri.
"Jangan lepaskan," pinta Lee dengan menatap tubuh istrinya.
"Aku sedang berhalangan untuk apa memakai baju seperti ini," gerutu Emilia. Dia terus saja mengoceh sembari melangkah menuju ke lemari yang berada di sudut ruangan ini.
Lee menepuk pelan jidatnya bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau istrinya kedatangan tamu tak di undang sekarang, "Kalau sudah selesai kau akan memakainya kan?" tanya Lee.
"Iya, terserah kau saja," sahut Emil tanpa berpikir.
__ADS_1
Lee sangat yakin jika istri kecilnya itu tidak mendengarkan ucapannya barusan dan hanya asal menjawab saja. Sepertinya semesta sedang merasa kasihan padanya, sebab ia sudah lama berpuasa semenjak menikah dengan Emil. Lee adalah pria normal ia juga butuh seseorang untuk menjinakkan ular kobra miliknya ini. Hahaha apakah kalian setuju?
_ _ _
Halaman kampus.
Lee hendak turun dari dalam mobil, tapi Emilia segera mencegahnya, ia tidak mau kalau sampai Helena mencuri kesempatan untuk memeluk suaminya lagi seperti kemarin.
"Tidak usah turun dari mobil, Kak Lee tetap disini saja," pintanya.
Menutup kembali pintu mobil yang sempat ia buka lalu menatap kearah istrinya, "Memangnya kenapa?" tanya Lee.
"Aku tidak ingin dijadikan pusat perhatian," sahut Emil.
"Baiklah terserah kamu saja," sahut Lee. Ia tidak mau membuat istrinya kesal karena wanita yang sedang PMS mudah sekali terpancing emosinya.
"Hati-hati di jalan," ucap Emil sembari melambaikan tangannya.
Lee masih menatap istrinya tajam, tapi tatapan Lee menerobos kearah belakang Emilia. Siapa lagi yang bisa memancing emosi rubah jantan itu jika bukan Alan orangnya.
"Kak Lee, hati-hati di jalan," ucap Alan yang sudah berada di samping Emilia sekarang.
"Akan sejak kapan berada di sini?" tanya Emil kaget. Kini ia tahu kenapa Lee terlihat terganggu sekarang.
Mencubit gemas pipi Emilia, "Baru saja, kau terlalu fokus pada pria itu hinggap tidak menyadari kehadiranku," gerutunya dengan tersenyum kuda. Alan dengan sengaja melakukan hal ini, ia ingin membuat Lee merasa cemburu padanya, entah apa maksudnya semua ini hanya Alan saja yang tahu.
"Kak Lee, hati-hati di jalan," ucap Emil untuk kali kedua.
"Ayo kita masuk ke dalam saja, tadi aku sudah melihat Park menunggu kamu di luar ruangan." Alan langsung menarik tangan Emilia menjauh.
Emil berontak berusahalah melepaskan genggaman tangan Alan, tapi pemuda itu masih menggenggam erat tangannya sesekali Emil melirik arah mobil suaminya, pria itu masih belum menghidupkan kembali mesin mobilnya, pasti kak Lee masih memperhatikan dirinya walaupun ia tak bisa melihat wajah suaminya dari luar karena kaca mobil itu tidak transparan.
__ADS_1
"Sith! Bocah ingusan itu pasti sengaja melakukan semua ini." Lee menggengam erat setir mobilnya sampai kuku-kuku tangannya berubah menjadi pucat, rahangnya mulai berkerut tanda jika dia sudah mulai terbakar api cemburu sekarang.