Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Dia Kembali


__ADS_3

Lee yang tahu jika istrinya itu hanya sedang mengerjainya saja ia langsung membuang guling yang tadi sempat ia dekap ke sembarangan arah dan langsung menarik tubuh Emil kedalam pelukannya, dengan sekejap Emil langsung berada di bawah tubuhnya. Ia menyibakkan rambut sang istri yang menutupi


wajahnya lembut.


“Sayang, tidak bisakah kamu menunggu sampai malam pertama


kita?” tanya Emil. Entah mengapa ia ingin melakukan hal intim tersebut ketika malam pertama agar terlihat berbeda saja, jika mereka sudah sering melakukannya maka saat malam pertama tidak ada yang berbeda begitu pikir Emil. Ya walaupun selama ini suaminya itu selalu membuatnya kalang kabut untuk menuruti permintaannya.


“Kenapa harus seperti itu, Sayang?” tanya Lee dengan tatapan menyelidik. Ia tidak pernah bisa absen dalam satu hari saja melakukan hal tersebut. Tapi kini istrinya memintanya untuk berpuasa sampai malam pertama. Dan itu masih sekitar satu Minggu dari sekarang.


“Karena aku menginginkannya,” ucap Emil dengan tatapan memohon.


“Baiklah kalau itu yang kamu inginkan.” Lee langsung menjatuhkan tubuhnya kesamping dengan perasaan gelisah yang teramat sangat. Bagaimana ia tidak gelisah jika juniornya ini sudah siap bertempur.


 Lee memang menginginkan hal tersebut. Tapi ketika ia melihat tatapan memohon dari istrinya, itu


membuatnya tidak bisa menolak. Lee ingin memberikan hal yang terbaik untuk istrinya. Tiga tahun lamanya ia bisa bertahan berpuasa saat sang istri masih koma, jika bertahan beberapa hari lagi pasti tidak akan jadi masalah.


Emil menutup tubuhnya setelah suaminya melihat benjolan dari


baju tidur yang sedang ia kenakan, Emil tahu dengan sangat jelas jika kini otak pria tersebut sedang travelling kemana-mana. Pun ia segera menutup tubuhnya dengan selimut untuk menjaga hal yang tidak di inginkan.


“Ini sangat berat sekali apa lagi ketika melihat gunung kembar di balik baju tipis itu sungguh membuat aku tidak tahan ingin segera mendaratkan bibirku di sana. Juniorku kau harus sabar untuk beberapa hari ke


depan, selama puasa ini masih berlangsung aku akan menutup mataku dari segala keindahan,” batin Lee menjerit sedih melihat kenyataan ini, kenyataan ia harus menjaga jarak dari istrinya untuk beberapa hari.


“Sayang, aku lebih baik tidur di sofa saja dari pada harus tersiksa, karena aku takut akan menerjang kamu waktu malam hari.”


“Maafkan aku, Sayang. Tapi itu lebih baik,” ucap Emil kemudian. Ia ingin jika malam pertama mereka memiliki kesan tersendiri.


Pagi hari.


Emil membuka mata ia melihat suaminya sedang tertidur pulas


di atas sofa, Emil melangkah mendekati suaminya kemudian membenarkan posisi selimut yang tadi jatuh ke lantai, ia mengecup kening suaminya sembari berkata.


“Maafkan aku, Sayang.” Setelah berbicara Emil langsung melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Di dapur.


Una sedang sibuk mencuci sayuran, Narra sibuk mengupas buah sedangkan Park hanya bermain ponsel saja. Park bermain ponsel karena, Una dan juga Narra yang menyuruhnya sebab mereka ingin memasak berdua saja di pagi hari


ini, mungkin saja karena kedua orang itu merasa bahagia sebentar lagi

__ADS_1


akan terselenggara acara besar-besaran di negara ini. Semua media yang nantinya akan meliput pernikahan kedua keluarga besar itu telah mempersiapkan segalanya dari jauh hari.


Emil melangkah masuk kedalam dapur, ia langsung mengerutkan


keningnya saat melihat Park bermain ponsel di meja makan dengan camilan di hadapannya, sungguh perempuan ini seperti putri saja sedangkan kedua Mama masih


sibuk berkutat dengan pekerjaan dapur.


“Park, kau enak sekali hanya duduk di meja makan,” melihat kearah kripik kentang yang kini sudah tandas dari wadahnya. “kau menghabiskannya dengan kejam, padahal kemarin aku belum sempat memakannya,” imbuh Emilia sembari menyenggol lengan Park pelan.


Mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel sembari berkata, “Maaf,


aku tidak sengaja menghabiskannya,” ucap Park santai.


“Kalian berdua jangan berdebat, masih banyak persediaan camilan untuk kalian habiskan,” celetuk Narra sembari membuka kulkas yang di


penuhi dengan banyak makanan dan juga camilan untuk kedua perempuan kesayangannya itu habiskan.


Emil memutar bola matanya malas, sebenarnya ia sudah tahu jika dari tadi ada makanan di sana. Tapi ia ingin menggoda Park saja yang lagi


asyik melihat media sosial dengan begitu santainya.


“Sayang, ayo kita lari pagi,” ajak Jhong pada Park.


berolahraga saja,” imbuh Jim kemudian.


“Mana, suami kamu?” tanya Jhong setelah ia tidak melihat putranya di setiap sudut ruangan ini.


“Dia masih tidur, Pa,” sahut Emil kemudian.


“Kalau begitu biar Emil bangunkan dulu.” Setelah bicara Emil hendak melangkah keluar dari dapur, tapi segera di hentikan oleh Jhong.


“Tidak perlu di bangunkan, biarkan saja.” Pria itu takut putranya lelah karena begitu banyak urusan di kantor yang beberapa waktu lalu


Lee selesaikan jadi ia membiarkan putranya itu untuk beristirahat saja.


“Baiklah jika begitu,” sahut Emil kemudian.


“Ma, kami semua lari pagi dulu,” ucap Jhong sembari melihat kearah


Una yang juga menatapnya.


“Ma, masak yang enak dan juga banyak,” imbuh Jim ikut menimpali

__ADS_1


apa yang di katakan oleh Jhong barusan. Selesai bicara mereka berempat langsung keluar dari ruangan dapur ini.


“Lihatlah suami-suami kita itu. Mereka masih saja sangat


kompak sekali seperti waktu masih kuliah dulu,” ucap Una sembari melihat punggung suaminya yang kini sudah menghilang di balik pintu dapur.


“Iya, kamu benar dan karena hal itu juga kita menjadi keluarga sekarang,” imbuh Narra yang setuju dengan pendapat Una barusan.


Ruangan Kamar Lee.


Lee mengerjapkan matanya, ia menguap beberapa kali sebelum


akhirnya bangun dari posisi tidurnya. Manik matanya melihat kearah ranjang yang sekarang sudah terlihat bersih dan juga rapi hal itu menandakan jika istrinya sudah bangun terlebih dahulu. Lee beranjak bangun dari posisi tidurnya, ia melangkah ke kamar mandi dan tidak menemukan istrinya di sana. Lee sekali memberikan tubuhnya lalu turun ke dapur.


"Ma, di mana Emil dan juga Park?" tanya Lee. Ia tahu dengan sangat jelas jika kedua perempuan yang dia sebutkan namanya tadi pasti selalu bangun di pagi hari dan membantu memasarkan di dapur.


Menoleh kearah Lee yang kini sedang duduk di meja makan sembari meneguk satu gelas air putih, "Mereka berdua pergi lari pagi bersama dengan, papa Jhong dan juga papa Jim," jelas Una. Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Mereka pasti lari pagi di dekat sini, kalau kamu mau lekaslah ganti baju dan susul mereka," imbuh Narra.


"Baiklah Ma. Lee akan segera ganti baju kemudian menyusul mereka," sambungnya. Pria itu keluar dari dapur dengan langkah cepat.


Lee sudah berganti baju yang menurutnya nyaman jika di gunakan berolah raga pagi, tidak lupa ada handuk kecil yang melingkar di lehernya. Lee melangkah keluar dari gerbang utama rumah ini, sebelum keluar dari gerbang ia lebih dahulu bertanya pada penjaga rumah kembang arah majikan mereka tadi melakukan lari pagi, setelah mengetahui kemana semua orang pergi, Lee langsung mengikuti arah tersebut.


"Segar sekali udara di sini, kamu benar-benar kejam sayang kenapa tidak mengajak aku lari pagi bersama?" tanya Lee pada dirinya sendiri.


Buk!


Lee yang berlari kecil sembari melamun tidak sadar menabrak seseorang. Langkahnya langsung terhenti saat ia sadar seorang perempuan sedang terduduk di lantai setelah membentur tubuhnya terlebih dahulu. Perempuan itu menundukkan kepalanya sembari meringis kesakitan dengan manik mata menatap lututnya yang berdarah akhirnya bersentuhan dengan aspal dengan lumayan keras.


"Nona, maafkan atas kecerobohan saya tadi mari saya bantu anda berdiri," ucap Lee yang sekarang sudah berjongkok di hadapan perempuan yang sempat ia tabrak tadi.


"Ini bukan salah, Anda karena saya juga tadi tidak memperhatikan jalan," ucap perempuan itu sembari menatap kearah Lee.


Deg.


Kedua mata Lee langsung terbuka lebar, jantungnya berdentam dengan sangat kencang apakah mungkin dia sedang salah lihat sekarang? Punia langsung mengucek kedua matanya pelan. Tapi bayangan perempuan itu masih berada di sana menatapnya dengan sendu. Kenapa semua jadi seperti ini, ketika Lee sudah menemukan kebahagiaannya-dia kembali lagi dengan tatapan sendu yang membuat Lee ingat pada masa lalu di mana mereka masih bersama dahulu.


"Natalie," ucap Lee dengan suara tang gemetar.


Masih ingatkah kalian dengan Natalie?


akan segera tamat dan kalian bisa mampir ke novel Hallo musuh karena bulan dengan akan terbit versi cetak

__ADS_1


__ADS_2