
"Terima kasih," ucapnya cepat. "Park, aku pulang dulu ya, kau jangan takut Alan pria yang sangat baik." Selesai bicara Emil langsung berlari menjauh.
Kenapa aku hanya bisa diam saja? Seharusnya tadi aku segera menghentikannya. Aku tidak rela melihatnya bersama dengan pria lain, kau hanya milikku dan selamanya tetap seperti itu.
Park menatap kearah Alan yang masih tidak berkerdip memperhatikan punggung Emil yang semakin menjauh dari mereka.
"Alan lupakan dia, aku akan mencintaimu dan juga membahagiakan kamu, hargai keberadaanku saja itu sudah membuat aku merasa bahagia," batin Park dengan wajah sedihnya.
menyengol lengan Alan pelan, "Aku pulang dulu, ya," ucap Park. Hal itu membuat Alan baru menyadari jika disampingnya masih ada Park.
Menarik tangan Park yang sudah berjalan dua langkah kedepan, "Ayo, aku antarkan saja," pintanya lagi dengan tersenyum manis.
"Aku sudah di jemput oleh supirku," sahut Park dengan memaksakan senyuman di hatinya yang kecewa. Ia tahu jika Akan hanya ingin mengantarkan Emilia dan bukan dirinya.
Menaruh tangannya di bahu Park sembari berkata, "Aku tidak menerima penolakan, biar aku saja yang antarkan kamu, sebaiknya kamu suruh saja supir kamu itu untuk kembali pulang," pinta Alan tanpa berpikir panjang.
Park melirik kearah tangan Alan yang sudah melingkar di bahunya, senyuman tipis lolos dari bibirnya. Entah mengapa pria ini selalu saja bisa membolak-balikkan hatinya kapan saja.
"Baiklah jika kamu tidak keberatan," sahut Park. Semoga saja kebersamaan seperti ini sering terjadi dan jangan salahkan park jika ia tidak bisa meluapkan Alan sekarang.
"Bagaimana jika kita nongkrong di cafe dahulu sebelum ke rumah sakit?" tanya Alan dengan menatap Park, pemuda itu bahkan sempat mengerdipkan satu matanya sampai membuat Park mulai salah tingkah.
"Terserah kamu saja," sahutnya sembari mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tidak mau kalau sampai Alan melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat nanti.
Alan membukakan pintu mobil untuk Park kemudian ia mengitari mobilnya dan masuk kedalam kursi kemudi. Kini mobil berwarna hitam tersebut sudah keluar dari gerbang utama kampus ini.
Helena dan juga kedua sahabat menatap Park sejak dari tadi, semoga saja mereka bertiga tidak merencanakan suatu hal yang buruk.
__ADS_1
_ _ _
Di dalam mobil ini suasana terlihat canggung sekali, Emil mulai merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya di tambah lagi dengan wajah datar suaminya yang masih fokus menatap kearah jalanan.
"Kak Lee, pasti marah sekarang. Lihat saja itu wajahnya datar banget kayak jalanan tanpa lubang, aku mau buka mulut dan bertanya hal tidak penting, tapi takut kena sembur," batin Emil serba salah. Emil tersenyum tipis lalu ia membuka tas jinjingnya kemudian mengeluarkan satu batang coklat dari tas berwarna hitam tersebut. "Kak Lee apakah kamu mau coklat?" tanya Emil dengan tersenyum manis.
Melirik dengan ekorr matanya, "Tidak," sahutnya singkat, cepat dan juga padat.
Semangat Emil kamu tidak boleh menyerah, "Aku dengar-dengar jika coklat ini bagus sekali untuk memperbaiki mood,"ucap Emil polos. "Kak Lee, sudah tua pasti sering merasakan emosi," ucap Emil dengan polosnya. Ia bahkan tidak sadar kalau kata-katanya tersebut malah mengatai suaminya itu sudah tua. Lihat saja itu jidat Lee langsung berkerut sekarang.
"Kau mengatakan aku sudah tua?" tanya Lee yang tidak terima. Begitu banyak wanita yang mengatakan dia tampan dan juga awet muda, tapi istri kecilnya ini malah mengatakan dia sudah tua.
"Lancang sekali mulut kamu nak," batin Emil dengan menepuk mulutnya sendiri. "Aku mana mungkin Berani mengatakan hal itu, kak Lee dan percayalah bukan itu maksudku."
Emil membuka coklat di tangannya dan tanpa sadar ia melahap sendiri coklat tersebut dengan potongan yang besar, ia masih tidak bergeming menatap kearah suaminya yang kini sudah menatapnya dengan kedua alis yang hampir menyatu.
Seluruh darah Lee sudah mendidih sekarang, emosinya sudah berkumpul di puncak ubun-ubunya dan siap meledak.
"Sekali lagi kau bicara, akan aku lempar kamu keluar dari mobil ini." ancam Lee, tentunya ia tidak bersungguh-sungguh dalam berbicara.
"Tidak, aku tidak akan mengulanginya lagi," sahut Emil cepat dengan mengigit coklat batangan di tangannya.
"Kau bilang mau memberikan coklat itu padaku, tapi kenapa malah kau makan sendiri?" tanya Lee sembari melihat kearah Emil.
Menatap coklat di tangannya yang tinggal serpihan saja karena sudah habis. Tersenyum kuda sebelum berbicara, "Maaf, karena takut aku jadi memakannya sendiri," sahut Emil dengan entengnya.
Lee menepikan mobilnya dengan tiba-tiba membuat Emil terkejut, "Tidak masalah, aku masih bisa merasakan coklat itu langsung dari mulut kamu," ucapnya.
__ADS_1
Lee tidak pernah bisa marah jika melihat sikap istrinya yang kekanak-kanakan seperti ini. Sikap lugu istrinya membuat Lee terhibur.
Kedua bibir itu saling menyatu dan menyesap satu sama lain, Lee tidak terlalu menyukai coklat sejak kecil tapi entah mengapa kini ia mulai menyukainya, rasa coklat dari bibir istrinya begitu lezat hingga membuat Lee betah berlama-lama bermain di benda kenyal tersebut.
Beberapa waktu kemudian.
Lee dan juga Emil sudah sampai di rumah, Emil tidak melihat keberadaan kedua orangtuanya. Lee mengandeng tangannya masuk kedalam rumah, dan menjelaskan jika malam ini kedua orangtuanya akan menginap di rumah sakit saja. Emil menganggukkan kepalanya mengerti setidaknya bagi Emil kedua orangtuanya masih berada di negara ini.
"Kamu masuklah ke kamar dan bersihkan tubuh kamu, aku akan mandi di ruangan kerja saja, masih ada banyak berkas yang harus aku kerjakan," jelas Lee.
"Baiklah, aku juga sangat sibuk sekali karena ada banyak tugas yang diberikan oleh, Dosen," sahutnya.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan masing-masing. Emil membersihkan tubuhnya terlebih dahulu selesai membersihkan tubuhnya ia langsung duduk di meja belajar dan mengeluarkan tugas-tuganya.
2 jam telah berlalu.
Emil masih semedi di tumpukan tugas kampusnya yang masih belum selesai, Lee masuk kedalam ruangan kamar ini dengan tangan membawa nampan berisikan makan malam dan juga satu gelas susu hangat untuk istrinya. Lee memasak sendiri makan malam ini, ia tidak tega mengganggu Emil yang sedang sibuk belajar
"Makanlah dahulu," ucap Lee sembari menaruh nampan itu di atas meja.
Sangking fokusnya, Emil sampai tidak mendengarkan suaminya berbicara, entah karena suara Lee yang terlalu lirih atau karena ia yang memang tidak dengar.
Menaruh kedua tangannya di bahu Emilia lalu mengecup puncak kepala istrinya itu sembari berkata, "Istri kecilku, ayo kita makan terlebih dahulu," ajak Lee dengan nada suara lembut membuat Emil merinding.
Berdiri dari posisi duduknya, kini mereka berdua saling berhadap-hadapan, "Kak Lee tidak demam," ucap Emil lirih setelah ia menempelkan punggung tangannya ke jidat suaminya.
Bisa kalian bayangkan wajah Lee sekarang?
__ADS_1