Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Menekan Emosinya Demi Istri Kecil


__ADS_3

“Aku hanya ingin tahu saja,” sahut Emil cepat.


“Masa lalu tidak perlu dikenang lagi, yang terpenting bagiku sekarang kamu adalah masa depanku.”


Detak jam terus saja berjalan, namun Emil masih juga belum bisa memejamkan matanya itu, ia terus saja kepikiran dengan apa yang suaminya tadi katakan. Lee seakan menyembunyikan sesuatu dari nya, tapi entah apa. Pria itu tidak mau menjawab pertanyaan yang dia lontarkan saat di pantai tadi, apakah


Lee sudah pernah mencintai wanita lain ataukan belum. Emil mendudukkan tubuhnya perlahan ia melihat suaminya sedang tertidur pulas. Emil melangkah pelan, ia


kini sudah berdiri dibalkon kamarnya sembari menatap indahnya bintang yang masih setia menemani sang bulan bertahta di waktu malam.


“Tuhan, aku merasa gelisah sekali malam hari ini, aku mohon padamu jaga selalu hati suamiku hanya untukku, jangan pernah biarkan ada wanita lain ataupun pria lain yang menyelinap masuk kedalam hubungan kami ini,” batin Emil sembari memejamkan matanya. Suasana sunyi malam hari ini semakin membuat gelisah hati dan juga perasaanya hingga suara berat seorang lelaki membuyarkan kesunyian di malam hari ini.


“Kenapa kamu masih belum tidur juga?” tanya Lee dengan


membalikan tubuh istrinya.


“Aku, hanya ingin melihat indahnya bintang,” sahut Emil asal.


“Kau kira aku ini anak kecil yang begitu mudah untuk kamu


bohongi,” ucap Lee to the poin.


“Apa maksud dari perkataan, kamu barusan?” tanya Emil balik.


Memeluk tubuh istrinya sembari berkata, “Kamu jangan pernah


berpikir macam-macam. Hanya kamu saja yang ada di hatiku hari ini, esok ataupun nanti. Hanya kau gadis kecil yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak,” ucap Lee tulus. Ia mendaratkan kecupan di kening istrinya sedikit lebih lama sembari mendekap erat tubuh mungil sang istri.


“Aku senang sekali mendengarkannya,” sahut Emil.


“Sekarang ayo kita pergi beristirahat.” Lee mengendong tubuh istrinya lalu menaruhnya di atas ranjang dengan perlahan seperti sedang menjaga


barang yang sangat berharga sekali baginya.


“Sayang, katanya tidur tapi kok kamu malah nggak bisa diam kayak gini?” tanya Emil.


“Kamu sudah membangunkan adik kecilku ini, jadi sebaiknya kau tidurkan dia dulu,” bisik Lee disamping telinga istrinya.

__ADS_1


“Kau sudah minta jatah berkali-kali setiap hari,” gerutu Emil dengan memanyunkan bibirnya.


“Satu Kali lagi untuk malam ini,” pinta Lee.


Lee menelusuri leher jenjang istrinya dengan gerakan lambat, Emil mengigit bibir bagian bawahnya karena merasakan ada sensasi yang


menggelenyar di seluruh tubuhnya kemudian berhenti pada pusatnya. Kedua tangan Lee memainkan gunung kembarnya, hal itu membuat Emil tidak tahan lagi untuk


membungkam mulutnya, pun ia langsung mengeluarkan ******* ehem yang semakin membuat Lee bersemangat untuk melakukan lebih. Jarum jam terus saja berdetak


namun tidak membuat sepasang suami istri itu menghentikan aktifitas malam mereka.


Selang beberapa waktu terdengar suara decitan ranjang yang


berbunyi di dalam kegelapan kamar. Semua benda mati yang sedang berada di dalam ruangan kamar ini menjadi saksi bisu adegan hot keduanya saat ini.


Beberapa hari kemudian.


Lee sudah duduk di meja makan, ia sedang menunggu Emil turun untuk sarapan bersama. Sejak pulang dari liburan hubungan keduanya semakin


harmonis saja, bahkan Lee tidak segan-segan untuk memanjakan istri kecilnya itu. Sikap Lee semakin posesif saja ia tidak ingin jika sampai lekuk tubuh istrinya di lihat oleh orang lain. Emil masih remaja, gadis seumurannya sangat senang


“Kenapa kamu menggunakan baju yang seperti itu?” tanya Lee. Kali ini ia tidak bisa bersabar lagi setelah melihat rok mini dengan baju yang


membentuk tubuh, apa lagi kedua gunung kembar istrinya terpampang nyata dan bisa di lihat oleh siapa saja, Lee tidak akan bisa mentoleransi akan hal ini. Bahkan Ia tidak pernah memperbolehkan adiknya-Park untuk mengunakan baju yang berlebihan, ini malah istrinya sendiri yang menggunakan baju seperti ini.


“Apakah aku terlihat cantik?” tanya Emil sembari memutar tubuhnya. Rok mini yang ia kenakan semakin memperlihatkan paha mulusnya dengan sangat jelas hal itu membuat Lee mengigit bibir bagian bawahnya kesal.


Sabar Lee, kamu menikahi gadis remaja kau harus bisa bersabar jangan sampai kemarahan kamu itu malah membuatmu repot sendiri nanti, “Kamu sangat cantik sekali, tapi aku tidak suka jika melihat lekuk tubuh istriku di lihat oleh pria lain.” Lee berbicara dengan nada suara tertahan, percayalah hal ini sangat sulit sekali ia lakukan, ia harus menahan emosinya demi menjaga


hati sang istri.


“Apakah aku harus ganti baju?” tanya Emil kemudian. Ia bisa mencerna dengan mudah apa yang baru saja suaminya itu katakan.


“Tentu saja, aku akan menunggu kamu,” sahut Lee dari posisinya duduk.


“Baiklah kalau begitu, aku akan mengganti baju baru yang lebih

__ADS_1


sopan, aku tidak mau membuat kamu cemburu,” ucapnya lagi dengan tersenyum kuda. Emil berlari kecil keluar dari dapur ini.


“Fyuh! Untung saja tadi aku tidak kelepasan berbicara,” batin Lee.


_ _ _


Kampus.


“Emil, apakah kamu sudah mengatakan pada, Kak Lee kalau lomba menyanyi itu akan di adakan besok?” tanya Park sembari mengikuti langkah Emil masuk kedalam kampus ini.


“Aku belum berbicara dengannya, aku takut ia akan merasa cemburu melihat aku bernyanyi dengan Alan lebih lagi lagu yang kami berdua


nyanyikan adalah lagu romantis,” ucap Emil dengan wajah kelihatan gelisah.


“Kamu benar juga,” sahut Park setuju. “namun setidaknya kau bercerita saja padanya, tapi kau tidak perlu mengundangnya,” saran Park.


“Iya, nanti aku akan melakukannya,” sahut Emil setuju.


Langkah mereka berdua terhenti ketika Helena dan juga dua


temannya menghadang langkah mereka. Semua orang melihat kelima orang tersebut dengan raut wajah kelihatan antusias sekali, sepertinya semua orang itu sudah tidak sabar melihat pertengkaran secara live yang ada di hadapan mereka.


“Park, jangan berdiri terlalu lama di depannya, sorot matanya itu bisa membuat semua orang terkena penyakit kulit,” ledek Emil sembari


mengedipkan satu matanya kearah Helena.


“Phuff.” Park terkekeh mendengarkan ucapan spontan kakak iparnya ini. Pantas saja, kak lee tergila-gila pada Emilia karena wajahnya yang


polos namun sebenarnya kakak iparnya itu sedang menyembunyikan kelicikannya berkedok gadis lugu nan mengemaskan.


“Berani sekali kau mengatakan hal itu padaku.” Helena hendak menyentuh tangan Emilia. Tapi dengan sigap Emil langsung menepisnya kasar sampai membuat Helena meringis kesakitan.


“Hei jangan kasar seperti itu.” Sembur Lotie pada Emil dengan tatapan nyalangnya. Tapi sayang sekali, Emil tidak takut sedikitpun.


Mendekat kearah Lotie sembari berbisik, “Katakan pada ulat


bulu itu, agar menjauhi aku.” Setelah berbicara Emil langsung menarik tangan Park menjauh dari mereka semua.

__ADS_1


hody sudah jadi ya dan fotonya ada di bawah ini. yang mau pesan bisa japri Nisa di nomor wa. 08993487562



__ADS_2