
Selang beberapa waktu akhirnya Narra dan juga Jim sampai di
rumah sakit ini. Keduanya langsung berlari melewati lorong-lorong rumah sakit untuk sampai ke ruangan putri semata wayang mereka. Narra tidak hentinya menitihkan air mata dengan tangan yang masih di genggam erat oleh suaminya. Tiga tahun lamanya Narra menangis sedih dan ini untuk kali pertama ia menangis bahagia setelah mengetahui kalau Emilia kembali membuka mata dan melihat dunia. Narra hampir saja terjatuh karena ia tidak sabar untuk segera sampai di ruangan sang putri berada, tapi beruntungnya Jim segera menangkap tubuh istrinya.
“Jangan berlari terlalu cepat,” pinta Jim dengan mengusap peluh sang istri yang sudah bercampur dengan air matanya.
“Pa, aku sangat merindukannya,” ucap Narra sembari melangkah pelan untuk mengatur nafasnya.
“Jangan sampai putri kita melihat kamu seperti ini, ia akan sedih. Kamu tahu sendiri, Sayang jika dia baru saja terbangun setelah tiga tahun lamanya,” jelas Jim mencoba mengingatkan sang istri.
“Ya, Pa.” Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah sampai di ruangan yang ia tujuh, Narra dan juga jim tidak langsung menuju ke ruangan sang putri, namun mereka lebih dahulu berganti baju dan juga membersihkan dirinya. Setelah selesai menyapa Jhong dan juga Una. Narra dan juga Jim masuk ke dalam ruangan Emil. Lee sedang berbaring di samping
sang putri sembari membacakan novel seperti saat Emil masih koma dahulu.
“Ma,” ucap Emil lemah dari posisi tidurnya.
Air mata Narra langsung berjatuhan tanpa ia bisa hentikan, padahal dirinya sudah berjanji pada sang suami tidak akan menangis di hadapan Emil, namun itu tidak berhasil karena naluri seorang ibu pasti lah seperti itu.
“Sayang, Mama sangat merindukan kamu.” Narra memeluk tubuh Emil kemudian mengecup seluruh wajah putrinya. Tangisnya terdengar memilukan, Jim sampai mengusap sudut matanya yang berair karena terharu dengan sikap anak dan juga istrinya itu.
“Lihatlah betapa bahagianya mereka,” ucap Jhong yang sedang berdiri di samping Jim dengan tersenyum bahagia.
Menatap kaget kearah Jhong yang sudah bisa berdiri di hadapannya, pria itu jauh lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu, “Kamu, sudah sembuh?” tanya Jim dengan memeluk tubuh Jhong bahagia.
“Kondisiku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, penyakit yang aku derita
sudah hilang bersama dengan keajaiban yang datang,” jelas Jhong dengan menepuk pelan punggung Jim.
Ruangan yang tadinya terlihat sunyi, kini mulai di penuhi oleh isak tangis para wanita, mereka semua merasa bahagia karena Jhong dan juga
Emil lolos dari masa menakutkan itu, di mana nyawa mereka sedang di ambang hidup dan juga mati rencana, Tuhan memang sangat indah sekali tanpa bisa di tebak oleh manusia. Awalnya mereka hanya menginginkan Emilia bangun saja darintidur panjangnya namun, Tuhan malah memberikan bonus dengan mengambil penyakit yang sudah lama di derita oleh Jhong.
_ _ _
1 minggu kemudian
“Ma, Pa. Aku ingin keluar dari rumah sakit ini, aku merasa bosan sekali,” ucap Emil yang sekarang sudah bisa mendudukkan tubuhnya. Sudah
seminggu Emil terbangun namun ia masih tidak mau melihat kaca karena takut dengan perubahan wajahnya, mungkin saja dia terlihat jelek setelah tertidur selama tiga tahun. Begitu pikir Emil.
__ADS_1
Alan sudah kembali ke negaranya, ia hanya menemani Park selama beberapa hari saja sebelum akhirnya kembali pada rutinitas awalnya yaitu mengurus perusahaan Papanya.
“Nanti dulu, kamu harus melakukan latihan berjalan kembali, Sayang,” ucap Jim sembari mengusap puncak kepala Emilia.
“Aku bisa berjalan,” ucap Emil yang dengan gegabah langsung menurunkan kakinya dan beranjak berdiri. Kedua bola matanya langsung membulat dengan begitu sempurna saat ia merasakan kakinya kaku sekali jika di gerakkan dan hal itu membuatnya hampir terjatuh.
“Sayang,” teriak Una yang langsung membuat semua orang yang
ada di luar ruangan ini menghampiri mereka dengan wajah panik.
“Apa yang terjadi?” teriak Lee sembari menghampiri Emilia yang kini sudah berada di dalam dekapan papa Jim.
“Kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan? Apakan ini alasan kalian semua tidak mengizinkanku turun dari atas ranjang selama seminggu ini?” tanya Emil pada semua orang dengan air mata yang berderai.
“Biar aku saja yang menjelaskan,” pinta Lee yang langsung di jawab anggukan kepala setuju oleh semua orang.
Park merasa sedih sekali melihat kondisi Emil seperti ini, beberapa waktu yang lalu dokter mengatakan jika kaki Emil belum bisa di gerakkan seperti sebelumnya akhibat dari kecelakaan tiga tahun yang lalu
namun jika Emil terus berlatih berjalan, maka dia akan sembuh seperti sedia kala namun butuh proses tentunya.
“Apakah kakiku tidak akan pernah bisa di gerakkan untuk selamanya, Sayang?” tanya Emil pada Lee sembari memeluk tubuh kekar suaminya itu.
“Kamu pasti kecewa menikahi wanita lumpuh seperti aku.” Emil takut jika sampai Lee meninggalkannya karena masalah ini, ia tidak bisa menerima hal itu baginya Lee adalah segalanya, nyawa dalam hidupnya. Dialah
pria kedua yang sangat Emil cintai setelah papanya.
Mengecup puncak kepala Emil lalu memeluknya lagi dengan mengusap pelan punggungnya agar wanita itu lebih tenang, “Jika aku berniat meninggalkan kamu maka itu, sudah sejak kamu koma, aku bahkan tidak pernah melirik wanita di luar sana karena di dalam hatiku hanya ada kamu dan kamu saja selamanya.” Lee
menekankan kata-kata ‘di hatiku hanya ada kamu dan kamu selamnya’
“Kau harus janji, jika setiap kali aku melakukan latihan berjalan, kamu harus ada untuk mendampingiku, Sayang,” ucap Emil yang sudah
merasa lebih tenang sekarang. Lee begitu pandai meluluhkan emosi yang sedang di rasakan oleh istrinya itu.
“Aku akan menemani kamu, dan aku akan menjadi kaki kamu bukankah dengan begitu kau jadi selalu berada di dalam dekapanku,” bujuk Lee
lagi untuk membuat Emil mengerti. Jika dia akan selalu ada di samping istrinya itu.
“Iya kamu benar juga.” Emil tersenyum dengan manik mata yang
masih di basahi oleh cairan bening.
__ADS_1
Lee mengendong Emil keluar dari ruangan ini sedangkan semua
orang yang sudah menunggunya langsung berdiri untuk menyapa keduanya. Lee berpamitan menuju ke ruangan dokter yang sudah menunggu Emilia untuk melakukan
latihan berjalan. Semua orang tersenyum lega melihat Emil bisa tersenyum lagi bahkan kesedihan sebelumnya seakan tidak ada lagi.
“Bagaimana jika kita semua ikut menyemangati, Emil karena
ini pasti berat baginya,” ucap Park memberikan saran.
“Kamu harus mengantikan, Kak Lee di kantor biarkan kami semua saya yang melakukannya,” ucap Jhong yang mengingat jika Park harus mengantikan posisi Lee ketika kakaknya itu sedang sibuk seperti sekarang ini.
“Ada asisten Luwis yang bisa melakukannya,” sahut Park
dengan entengnya. Dia memang sangat pandai sekali melimpahkan pekerjaanya pada asisten Luwis yang malang.
_ _ _
Semua orang sudah berada di dalam ruangan Emil melakukan latihan, Emil melangkah perlahan dengan kedua tangan berpegangan pada benda
yang di sediakan, beberapa kali Emil gagal karena ia merasa lelah sekali, ini tidak semudah apa yang ia bayangkan.
“Sayang, aku percaya jika kamu pasti bisa,” ucap Lee di samping sang istri.
“Tentu saja dia bisa, Emil tidak boleh kalah dengan, Papa. Lihatlah sekarang, Papa bisa melangkah sendiri tanpa adanya alat bantu, apakah Emil ingin pulang bersama dengan Papa ke rumah kita?” tanya Jhong. Ia sengaja berkata seperti itu untuk memancing semangat Emilia.
Semua orang percaya jika Emil bisa melakukannya hanya saja wanita itu masih tidak percaya diri.
“Aku harus bisa pulang bersama dengan, Papa. Semua orang
sedang berdiri di ruangan ini untuk melihatku bisa berjalan lagi, aku tidak
boleh mengecewakan apa yang sudah mereka yakini,” batin Emil dengan tekat yang kuat.
Jika Emil sudah bertekad seperti ini apakah dia bisa melakukannya,
ataukah ia akan kembali bersedih dengan kegagalannya di latihan pertama ini?
jangan lupa komentar ya reader ku tersayang agar Nisa berikan crazy up banyak episode setiap harinya.
__ADS_1