
Melangkah mundur dua langkah kebelakang hingga membuat email kaget, pria itu terlihat angkuh jika sedang melipat kedua tangannya di dada seperti sekarang ini, "Karena kamu sudah mengutarakan isi hati kamu, aku tidak tega jika menolaknya." godanya pada Emil.
Dia benar-benar suami yang menyebalkan, aku bisa kena mental jika terus begini, "Terserah apa yang kau ucapkan. Aku mau pulang," gerutu Emil.
Lee menarik tangan istrinya kemudian ia memeluk istrinya itu dari belakang, Emil gemetar jantungnya mulai berdetak dengan begitu hebat ia tidak bisa bernafas, sikap spontan yang dilakukan oleh suaminya membuat lingkup paru-parunya mulai kehabisan oksigen.
"Aku mencintai kamu," ucap Lee sembari mengecup tengkuk Emil.
Jantung Emil seakan jungkir balik ketika ia merasakan bibir suaminya mendarat di tengkuknya, mengirim arus listrik bervolume tinggi kedalam tubuhnya. Emil yang tidak terbiasa dengan hal ini hanya bisa diam membeku di posisinya berdiri sekarang.
"Aku juga menyukai, Kak Lee," sahut Emil dengan pipi merah merona.
Lee membalikkan posisinya, kini mereka saling berhadap-hadapan kilatan mata penuh cinta dan juga gelora hasrat menggebu terlihat dengan jelas dari manik mata Lee, ia benar-benar tidak menyangka jika cintanya tidak bertemu sebelah tangan dan ia akan menjaga makhluk tuhan yang paling cantik yang ada dihadapannya saat ini. Hembusan nafas hangat suaminya membuat semua bulu tipis yang ada di tubuhnya meremang seketika.
"Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Lee dengan kedua tangan menangkup wajah mungil istrinya.
Menatap manik mata biru milik suaminya, "Kita sudah menikah," jawab Emil polos. Tapi itu memang kenyataan.
Tersenyum tipis sembari menyatuhkan jidatnya di sang istri sembari berkata, "Awal kita menikah, tidak ada cinta, tapi sekarang aku ingin kamu menjadi istriku yang seutuhnya," jelas Lee panjang lebar. Ia harus tahu jika istrinya ini polos dan sedikit bodoh, jadi ia harus menjelaskan semuanya secara detail agar sang istri kecil ini bisa mencerna apa yang ia ucapan dengan baik.
"Aku mau, tapi aku juga takut," sahut Emil dengan menundukkan kepalanya.
Lee mengajak istrinya untuk duduk di sofa sedangkan Park sudah pulang ke rumah lebih dahulu.
"Kamu takut kenapa?" tanya Lee pada sang istri, pria itu masih enggan melepaskan genggamannya pada tangan Emil sepertinya ia takut jika sampai istrinya akan kabur menjauh darinya.
Emil membuang pandangannya ke arah lain, ia mengigit kuku tangannya tegang sekali berada di situasi ini, ia tidak pernah melihat Kak Lee serius seperti ini, entah mengapa ada getaran aneh yang timbul di dadanya.
"Ak-aku takut jika harus melakukan itu," ucap Emil ambigu.
Tersenyum tipis, "Itu apa?" tanya Lee pura-pura tidak mengerti, padahal dengan sangat jelas ia sudah mengetahui apa yang di maksud oleh istrinya ini.
__ADS_1
"Itu loh, yang biasanya di lakukan oleh sepasang suami istri," ucapnya lagi dengan mengigit kuku jari kelingkingnya.
Lee menggenggam kedua tangan istrinya agar wanita itu tidak menghabiskan semua kuku pada jarinya. karena sudah ada 9 kuku jari yang di gigit oleh istrinya, Lee sampai bisa menghitung gerakan sang istri, Lee menikmati wajah gugup dan juga imut Emil yang sedang panik.
Dia imut sekali jika sudah seperti ini, "Bisakah kamu jelaskan secara gamblang agar aku mengerti," pinta Lee dengan menahan tawa pada bibirnya.
Lee kamu jangan seperti itu dong, lihatlah itu jidat Emil sampai dibasahi oleh keringat dingin. Emil pasti gugup sekali sekarang bahkan tenggorokannya seakan kering, ia mengalami dehidrasi mendadak sekarang.
"Ak-aku butuh air minum," ucap Lee langsung menepuk pelan jidatnya gemas sekali batinnya.
"Ini minumlah," menyodorkan satu gelas air mineral yang ada di jangkauannya. Emil langsung meneguk isian dalam gelas itu sampai tandas "Sekarang katakan," pintanya.
Memejamkan erat matanya, "Aku takut melakukan hubungan badan."
"Huahahaha." Lee tidak bisa menahan lebih lama lagi tawa yang sudah membuat kaku perutnya. Melihat sikap istrinya membuat Lee semangat menjalani hari-harinya, Emil adalah terang dalam dunianya yang gelap. Selama ini Lee selalu fokus dengan pekerjaan jarang sekali dia tertawa tapi sekarang, ia bisa tertawa dengan sangat lepas bagaikan tanpa beban sama sekali dan itu semua karena, Emilia istrinya.
Emil membuka matanya, ia menggigit bibir bagian bawahnya geram, dengan cepat Emil mengangkat kakinya lalu ia menginjak kaki suaminya dengan kencang.
"Suruh siapa, Kak Lee menganggu aku terus," gerutu Emil dengan berdiri dari posisi duduknya.
Lee lihatlah itu istri kamu sedang merajuk sekarang, dan semua itu karena sikap kamu yang selalu saja menggodanya. Emil melangkah keluar dari kantor Lee dengan mengabsen nama hewan di dalam kebun binatang. Beberapa orang yang lewat di hadapannya mengamatinya dengan aneh sebab Emil terlihat berbicara sendirian dengan berjalan cepat.
"Jangan marah," ucap Lee sembari menggenggam tangannya hingga langkah Emil terhenti.
"Aku mau pulang," ucapnya tanpa mau melihat kearah suaminya.
"Biar aku antara," pinta Lee.
"Tidak mau," jawab Emil jutek.
Dia sejenak seperti sedang berpikir, "Akan aku belikan kamu gula kapas sebanyak yang kamu mau," bujuknya dan Emil mulai melihat kearahnya tanda jika rayuan itu berhasil.
__ADS_1
"Baiklah."
Siapa gadis kecil itu? Kenapa CEO Lee memperlakukannya dengan sangat baik, aku tidak pernah melihat CEO Lee bersikap baik pada seorang wanita kecuali pada Nona muda Park saja. Semua wanita yang sedang melihat kejadian itu merasa iri sekaligus penasaran dengan identitas Emilia yang sebenarnya.
_ _ _
Park merasa bosan di rumah akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit dengan di antara oleh supir pribadinya. Park tidak sabar menceritakan kejadian ini pada kedua orangtuanya, mereka pasti senang sekali jika mendengarkan cerita tentang kak Lee dan juga Emilia.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan Park sudah sampai di depan ruangan Papanya di rawat.
"Pa, Ma," sapanya setelah masuk kedalam ruangan.
"Sayang, kemari lah," pinta Hyouna dengan tersenyum tipis. Mama Hyouna selalu saja terlihat cantik walaupun usianya sudah tidak mudah lagi
"Mana Emilia?" tanya Jhong sembari mendudukkan tubuhnya di ranjang pasien.
"Emilia masih berada di kantor, kak Lee," sahut Park. Kedua orang dihadapannya langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia bisa berada di sana?" tanya Mama Hyouna dengan wajah terlihat penasaran.
Pak menceritakan tentang apa saja yang terjadi di dalam kantor itu dengan sangat detai, tawa Jhong dan juga Hyouna langsung pecah setelah mengetahui jika Lee bisa juga bersikap demikian. Ruangan VIP rumah sakit yang tadinya terlihat sunyi dan juga sepi kini mulai terlihat ramai akan canda tawa ketiganya.
Malam hari.
Emil berselonjor di ranjang sembari berbalas pesan dengan Alan keduanya sedang mendiskusikan masalah pentas di kampus. Emil membaca pesan di ponselnya dengan serius sampai ia tidak menyadari jika kini Lee sedang menatapnya dari bawah kaki ranjang, Emil sesekali tersenyum saat membaca candaan Alan dari pesan singkat tersebut.
"Siapa yang sedang berkirim pesan dengan kamu?" tanya Lee dengan tatapan penuh intimidasi. Ia sudah bisa menebak jika Alan yang sedang chat bersama dengan istrinya. Lee barusan membuka chat milik Park dan adiknya itu tidak sedang online.
"Ya, Tuhan aku kaget sekali" ucap Emil dengan memegangi dadanya. Jika terus seperti ini maka jantungnya akan pensiun dini, begitu pikir emil.
Jika ingin mengenal, Author kalian bisa japri Khairin Nisa di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.
__ADS_1
Love you Nisty Lovers jangan lupa berikan komentar, like dan juga vote yang banyak ya ... agar Author semakin semangat untuk update rutin.