
Jhong menatap kearah Lee dari ujung kaki dan perlahan naik sampai ke ujung rambutnya, Jhong mengerutkan dahinya melihat kearah anak kecil yang tadi tak sengaja menabraknya. "Kenapa aku merasa seperti tak asing dengan anak kecil ini. Dia sangat mirip seperti aku waktu kecil." gumam Jhong dalam hati sembari masih menatap Lee dengan wajah heran.
Entah apa yang akan Jhong lakukan jika mengetahui anak yang dulu dia kira sudah meninggal dunia kini anak itu masih hidup. Dan tumbuh dengan sehat dihadapannya. Mungkin Jhong akan merampas Lee dari tangan Una atau justru sebaliknya Jhong akan merawat Lee dan hidup kembali dengan Una.
Menyilangkan tangannya di perut, "Paman, apakah tidak ada yang mengajarimu jika tidak sopan menatap orang lain dengan cara seperti itu!" celetuk Lee berbicara dengan gaya arogan. Lee sangatlah tidak nyaman jika dipandang seperti itu.
Pak Luwis yang berada dibelakang Martin segera maju satu langkah dan kini dia sudah berdiri disamping Martin, "Tuan muda jika dilihat dari wajah dan caranya bicara dia sangat mirip seperti anda." ujar Pak Luwis sembari menatap kearah Lee. Jhong hanya diam tanpa menjawab ucapan asistennya barusan.
Menajamkan alisnya menatap kearah Lee, "Siapa nama Ayahmu?" Tanya Jhong dengan nada suara terdengar sinis.
Menatap kearah Jhong dengan pandangan kosong, "Sejak kecil aku tidak punya ayah! Aku hanya punya Mami saja." Sahut Lee dengan jujur namun sangatlah jelas terlihat dari sorot matanya jika dia mencoba menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
Siapa sebenarnya anak ini kenapa aku seperti memiliki ikatan batin dengannya, sampai aku tak tega untuk menghukumnya.
"Siapa nama Mami mu?" Tanya Jhong yang mulai penasaran dengan asal-usul anak kecil yang kini masih berdiri dihadapan itu.
Ketika Lee hendak membuka mulutnya untuk bicara namun suara Narra mulai terdengar dari depan toilet pria itu.
"Lee, sayang kenapa lama sekali?" Teriak Narra dari luar pintu toilet itu karna Narra sadar jika tidak mungkin dia bisa masuk kedalam sana.
Mata Jhong seketika terbuka lebar setelah mendengar suara yang tak asing ditelinga ya itu. Ya itu adalah suara sahabat baik Una, walaupun Jhong sudah lama tidak mendengarkan suaranya namun Jhong masih mengingat dengan jelas suara sahabat istrinya itu.
Lee membuka pintu toilet dan Narra yang melihat Lee sudah berdiri dihadapannya itu segera memeluk Lee dengan lembut, "Sayang kenapa lama sekali, apakah ada yang terjadi?" Tanya Narra sembari beranjak berdiri dan mengandeng tangan Lee agar anak itu tak tertinggal dibelakang.
__ADS_1
Lee menceritakan apa yang terjadi didalam kamar mandi tadi. Namun Lee tak menyebutkan nama pria yang dia tabrak tadi karna menang Lee tak mengetahui namanya. Narra tak curiga sedikitpun jika pria yabg ditabrak oleh Lee adalah ayah kandungnya sendiri.
"Ayo kita pulang karna Mami mu pasti sudah menunggu kita "
Para pengawal itu segera mengekor dibelakang Narra dan Lee, para pengawal itu masih tetap menjaga jaraknya agar tidak terlalu dekat dengan Lee dan Narra.
Lee sudah terbiasa pergi dikawal oleh mereka namun tetap saja Jim menyuruh para pengawalnya untuk tetap menjaga jarak agar Lee tak merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Bahkan walaupun saat Lee tengah bermain dengan teman sebayanya Jim selalu menyuruh beberapa pengawalnya untuk tetap mengawasi Lee dari jarak jauh.
Narra dan Lee mulai masuk kedalam mobil mereka tak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya dengan pandangan sinis.
"Tuan muda jika dilihat dari penjagaan anak kecil tadi, dia bukanlah anak sembarang bahkan kedua orangtuanya menaruh banyak pengawal untuk menjaganya." Ujar Pak Luwis sembari menatap kearah Lee dan Narra yang mulai meninggalkan taman hiburan tersebut.
__ADS_1
"Setahuku Narra tidak mempunyai keponakan," ucap Jhong sembari mengusap pelan dagunya dengan dua jari. "cari tau siapa anak kecil yang bersama Narra barusan!" Perintah Jhong pada Luwis dengan tak menoleh.
Menundukkan kepalanya, "Baik tuan muda."