
Emil masuk kedalam kamarnya tanpa menutup pintu kamarnya tersebut, Lee masuk kedalam kamar itu dan dia melihat Emil sedang duduk di sudut ranjangnya sembari menatap lurus kedepan. Lee duduk di ruang kosong samping Emilia, satu detik kemudian Emil memalingkan wajahnya kearah lain, tanpa sadar Lee tersenyum tipis melihat sikap istrinya yang sedang merajuk ini.
Entah mengapa melihat sikap Emil itu membuat Lee merasa terhibur, hatinya yang dulu beku kini mulai menghangat karena kehadiran Emilia, sikap gadisnya ini yang terkadang manja dan juga jutek membuat Lee bahagia itu membuat hari-hati Lee semakin berwarna.
"Aku tidak suka melihat istriku menyentuh pria lain," ucap Lee dengan nada suara lembut. Emil menoleh kearah Lee sekilas kemudian kembali membuang pandangannya.
"Aku juga tidak suka jika disentuh oleh pria yang tidak mencintai aku!" sahut Emil tegas di sela-sela Isak tangisannya.
"Aku berjanji tidak akan menyentuh kamu tapi, kau jangan dekat dengan pria lain." Lee mengajak tubuh Emil menatapnya sekarang, dan mereka saling beradu pandang.
Emil merasa sedih karena secara tidak langsung pria itu menyatakan jika dia tidak menyukai Emil sedikitpun namun disisi lain emosi
yang tadi sempat menyelimuti tubuh Emil saat ini mulai menjauh dari tubuhnya, dia merasa tenang saat Lee berbicara dengannya lembut seperti sekarang bahkan Emil juga menyukai sorot mata sendu pria itu.
"Alan adalah sahabatku, tapi aku tidak menyukainya," ucap Emil to the poin.
Tersenyum kecil, "Aku percaya padamu," jawab Lee dengan membelai sayang puncak kepala istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan?" tanya Lee dengan mengusap sisa air mata di kedua pipi istrinya. Emil diam saja membiarkan hal itu terjadi entah mengapa melihat sikap suaminya yang lembut seperti ini membuat hati Emil merasa tenang dan juga damai.
"Aku tidak lapar sekarang kamu bisa keluar," ucap Emil berlagak masih marah padahal sebenarnya dia sudah tidak marah lagi.
"Kalau kamu lapar, panggil aku saja," ucap Lee Sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Aku masih kenyang setelah mendengarkan ceramah kamu tadi," ucap Emil dengan menatap Lee.
Kruk. . .kruk. . .kruk! Nyanyian dari perut Emil mulai membuat Lee membulatkan matanya sekaan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Perut istrinya berbunyi dan sang empunya perut tersebut berlagak jika dia masih kenyang dan tidak butuh asupan makanan.
"Kamu tidak pandai berbohong sayang," ucap Lee dengan meraih tangan Emil kemudian mengajaknya keluar dari ruangan kamar ini.
Emil hendak menolak namun Lee tidak mau melepaskan tangan istrinya dan akhirnya Emil mengalah dan pasrah saja tangannya di genggam oleh suaminya ini. Mereka berdua masuk kedalam dapur, Lee segera menarik satu kursi kosong kemudian menyuruh Emil duduk di sana sedangkan dia sendiri langsung berjalan menuju dapur dan mengunakan apron berwarna hitam yang sudah tergantung di sudut dapur tersebut. Kini Lee sudah persis seperti koki handal yang ada di film.
Lee terlihat sangat tampan sekali dengan apron hitam tersebut, kini pria itu berjalan menuju ke kulkas dan mengambil kentang, daging dan aneka macam sayuran lainnya. Kalian semua pasti sudah bisa menebak jika Lee akan membuat steak daging. Lee tidak hanya pintar di dunia bisnis bahkan dia juga pandai memasak hanya satu kelemahannya yaitu mengenai cinta saja.
Emil duduk di meja makan dengan menatap kearah suaminya yang sibuk memasak sembari bergumam, "Dia ganteng juga jika seperti ini, pandai memasak dan juga kaya tentunya tapi sayang sikapnya yang sedingin kulkas itu kenapa tidak bisa berubah," batin Emil dengan mengeleng-ngelengkan kepalanya melamun.
__ADS_1
Cletak! Lee yang sudah berdiri di hadapan Emil sejak dari tadi menyentil pelan kening istrinya dengan tatapan intimidasi.
"Kenapa ngagetin aku?" keluh Emil dengan membuang pandangannya malu, karena orang yang sedang ada didalam pikirannya ternyata ada dihadapannya saat ini.
"Sejak dari tadi aku sudah berada disini tapi kami sendiri saja yang melamun hingga tidak melihat kehadiranku," jawab Lee sembari menaruh dia piring yang dia bawah di atas meja.
Emil menghirup dalam aroma steak daging yang sangat menggugah seleranya tersebut. Lee tersenyum kecil melihat wajah Emil yang begitu lucu sekali menurutnya.
"Buruan di makan, dan aku jamin rasanya pasti enak sekali," ucap Lee sembari mengusap lembur rambut Emil.
"Sudah aku bilang kamu jangan sentuh aku," gerutu Emil.
"Kamu sama dengan Park, manja," ucap Lee jujur.
"Kalau begitu jadikan aku adik kamu jika kita bercerai nanti," jawab Emil dengan begitu entengnya.
Kira-kira Lee akan menjawab apa ya.
__ADS_1