
Emilia begitu jengkel sekaligus malu karena baru kali pertama dirinya hanya mengenakan braa saja dan di lihat oleh seorang pria. Walaupun Emilia tau jika pria itu nanti
akan menjadi suaminya namun tetap saja Emil tidak suka jika dilihati seperti itu
bahkan Lee menatapnya dengan pandangan yang menurutnya begitu menjijikkan.
Lee menatap Emil seperti sedang menggoda atau kah pria itu baru pertama kali melihat gunung kembar seorang wanita sehingga menunjukkan ekspresi seperti itu sampai membuat Emil bergidik geli jika mengingat wajahnya yang begitu mesum menurut Emilia.
“Kau bilang tidak sengaja, kau bercanda bahkan kau seolah menikmati saat melihatku tidak pakai baju! Dasar pria mesum,” gerutu Emil dengan memakai kembali bajunya itu.
“Kau bukan wanita seleraku jangan berlebihan seperti itu,” balas Lee dengan menolek balik ke arah Emil yang kini sudah
mengenakan lagi bajunya.
“Hei, mesum ingat ya setelah menikah nanti aku tidak mau jika kita tinggal dalam satu kamar! Kau masih ingat kan dengan perjanjian kita di tepi sungai Thames waktu itu?” tanya Emil dengan berada di hadapan pria itu dan menaruh kedua tangannya di pinggang.
Saat jalan-jalan di tepi sungai Thames Emil dan juga Lee berjanji untuk tidak tinggal dalam satu kamar saat mereka sudah resmi menjadi suami-istri nanti, bahkan Lee tidak akan pernah membatasi apa saja yang di lakukan oleh Emilia setelah menikah
contohnya seperti berteman dengan banyak pria asal wanita itu masih memiliki
batasan wajar sebagai teman. Dan begitu juga dengan Emil tidak akan
memperdulikan apa saja yang di lakukan oleh Lee setelah mereka menikah nanti.
“Ya, aku masih ingat lagi pula bocah kecil sepertimu tidak akan bisa meluluhkan hatiku!” ucap Lee dengan berbalik arah hendak pergi namun saat pria itu melangkahkan kakinya pintu kamar Emil mulai terbuka.
Lee dan juga Emil melihat ke siapa orang yang telah membuka pintu pintu kamarnya itu tanpa mengetuk pintu tersebut lebih dulu. ternyata yang berdiri di depan pintu itu adalah Park.
Tadinya Park mau memberikan surprise ke pada Lee dan juga calon kakak iparnya namun setelah pelayan mengantarkan Park sampai depan pintu kamar Emil, malah tersenyum pertengkaran dari dalam kamar calon kakak iparnya itu. Hingga Park langsung membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya.
“Kak Lee aku sangat merindukanmu,” ucap Park dengan memeluk dada bidang kakaknya itu dengan begitu erat seolah dirinya telah lama tidak bertemu dengan Lee.
“Dek kau datang ke sini? Aku kira ular kecil itu cuman bercanda,” sindir Lee dengan melirik tajam ke arah Emil yang kini sedang mengigit bibir bawahnya karena marah.
“Kau panggil aku apa tadi? Aku cantik dan juga manis seperti ini kau samakan dengan ular!” pekik Emil dengan mengigir lengan Lee karena merasa marah.
Park melepaskan pelukannya pada tubuh Lee dan sedikit menjauh dari kedua orang yang kini saling bersiteru, dengan usil Park mulai mengeluarkan ponselnya dari tas jinjing yang sedang dia bawah. Dan tanpa kedua orang itu sadari jika Park sedang merekam
semua pertengkaran mereka dan mengirimkannya pada Una, agar mereka mengetahui bagaimana sikap Lee terhadap Emil.
“Kau manis seperti buah pare!” sindir Lee lagi dengan beranjak keluar dari kamar Emilia.
Gadis itu masih marah dan terus mengerutu sampai Lee menghilang dari kamarnya. Bagaimana
mungkin dirinya tidak marah karena Lee menyamakan dirinya seperti sayuran Pare
yang memiliki rasa pahitnya mintak tolong.
__ADS_1
Satu Jam Kemudian.
Emilia terlihat sangat cantik dengan
mengenakan celana jeans panjang sampai mata kaki dengan baju yang kelihatan
lebih besar dari tubuhnya. Park juga terlihat sangat cantik dengan make up natural
begitu juga dengan Park mereka berdua bahkan mamakai warna dan juga model baju
yang sama karena Park membelikan baju untuk Emil saat dia mengetahui jika
dirinya akan mengunjungi Emil.
“Park apakah aku cantik mengunakan baju pemberian darimu?” tanya Emil dengan memutar tubuhnya bahkan wanita itu juga berlagak seperti pragawati yang berjalan di
atas karpet merah namun dirinya saat ini sedang menuruni tangga rumahnya.
“Kelihatan Jelek!” sahut Lee dengan menuruni anak tangga rumah dengan mendahului langkah kedua wanita itu.
Entah mengapa menganggu Emilia membuat Lee sangat bahagia apa lagi saat calon istrinya itu mulai mengerucutkan bibirnya Lee semakin gemas di buatnya, padahal selama ini Lee tidak pernah perduli dengan wanita lain setelah kepergian Natalie beberapa tahun yang lalu namun siapa sangka jika kemarahan Emil sedikit demi sedikit memebuat rasa sepi yang bertahun-tahun dia rasakan mulai berkurang bahkan membuat hatinya yang dulu mati kini mulai hidup kembali.
Park dan juga Emil langsung melihat ke asal suara tersebut, Lee terus menuruni anak tangga dengan wajah tanpa bersalah dan
Emil langsung mengikuti langkah kaki pria itu menuruni tangga dengan mengerutu
biasanya. Karena biasanya Lee akan memasang wajah dingin seperti mayat hidup
namun kali ini senyuman tipis mulai tersungging dari bibir manis pria itu saat
dia mengoda Emilia.
“Kak Lee maukah
kau ikut bersama kami jalan-jalan ke Stratford Mall?” tanya Park dengan wajah
kelihatan begitu antusias.
Stratford Mall. Di kenal sebagai
surganya para wanita dan juga tempat ini merupakan Mall terbesar di kota itu,
serta banyak sekali orang kaya, dari pejabat sampai para artis yang suka
berbelanja di sana. Emil sudah sering berbelanja ke Mall tersebut dengan Narra
namun Park tidak pernah pergi ke mall tersebut dan karena sebab itu Park tidak
mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk pergi berbelanja lebih lagi harga baju
__ADS_1
yang di jual di mall tersebut sangat mahal uang jajan yang Park miliki akan
kurang dan karena itu dirinya mengajak Lee untuk membayar semua barang yang dia
beli nanti.
“Park, kau tidak perlu mengajak penganggu sepertinya, kau saja yang menyetir mobil karena
supirku sedang mengambil cuti hari ini entah apa alasanya,” sahut Emil dengan
berjalan medahului Park yang masih berdiri di bawah anak tangga rumahnya.
“Emil, aku tidak
pernah menyetir! Karena biasanya Kak Lee yang selalu mengantarku ke manapun aku
pergi,” sahut Park dengan mengigit bibir bawahnya.
“Sudahlah dia tidak akan mau, aku akan menyuruh teman ku untuk menjemput kita saja,” sahut Emil dengan merogoh ponsel dalam saku celana jeansnya.
Emil hendak menghubungi Alan, Alan ialah teman baik Emil di kampus dia memiliki wajah yang tampan dan juga pria itu memiliki perasaan suka pada Emilia. Namun Alan tidak
pernah berani untuk mengunggkapkan isi hatinya karena takut jika nanti Emil
menjauh darinya setelah dirinya menyatakan isi hatinya pada gadis itu. Dan saat
Emil butuh bantuan Alan akan menjadi orang pertama yang menawarkan jasa suka
rela untuk mmembantu gadis ini.
[Hallo, Alan.]
sapa Emil saat telepon itu sudah di angkat.
Langkah Lee mulai terhenti saat Emil menyebut nama laki-laki di telepon. Lee mengetahui jika wanita itu pasti akan menyuruh pria di telepon untuk mengantarnya. Lee berbalik arah dan menyambar ponsel yang di pegang oleh Emil kemudian mematikan panggilan telepon tersebut tanpa meminta ijin. Sedangkan Park masih memperhatikan mereka dengan bergumam dalam hati.
“Biar aku antar saja, ular kecil mau ajar pria lain untuk di perkenalkan dengan adikku,”
“Dia pacarku!” ucap Emil berbohong.
Lee langsung mengerutkan keningnya saat mendengar jika calon istrinya malah menelepon pacaranya untuk di ajak jalan dengan adik kandungnya, lihatatlah itu sorot mata membunuh mulai terlihat dari pancaran mata Lee kala itu, “Bicara punya pacar
sekali lagi akan aku potong lidah mu itu!” ancam Lee menatap Emil dengan mata
memancarkan kobaran api yang siap melahap tubuh kecil di depannya saat ini.
Dengan polos Emil langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
SETELAH BACA JANGAN LUPA LIKE YA. DAN FOLLOW JUGA IG KHAIRIN NISA SUPAYA KALIAN TAU DI MANA SAJA KHAIRIN NISA MENULIS TERIMAKASIH.
__ADS_1