Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Hukuman untuk Helena


__ADS_3

Helena merasakan sakit di bagian kepalanya yang membentur lantai marmer club malam ini dengan keras. Satu orangpun tidak ada yang berniat untuk menolongnya, semua orang tetap diam membeku di posisi mereka. Apa yang Helena rasakan masih belum seberapa di bandingkan dengan sakit yang di derita oleh Emilia sekarang.


Park berdiri dari posisi duduknya


dengan satu kali hentakan sampai membuat kursi yang ia duduki jatuh begitu saja. Ia melangkah mendekati Helena yang kini sudah menutup matanya. Aneh, hanya dengan begitu saja dia sudah pingsan. Begitu pikir Park.


“Bawa dia,” titah Park pada para


pengawal. “Kak Lee, aku tidak mau mengotori tanganku untuk menyentuhnya,” imbuh Park dengan tatapan tajam.


Mengusap puncak kepala rambut


Park lembut sembari berkata, “Aku tahu, kau tidak pantas menyentuh tubuhnya yang kotor itu."


Lee mengajak adiknya keluar dari


ruangan ini, tapi yang tidak di sangka Helena bangun hendak menghujamkan pisau ke pada Park. Tapi niatnya itu segera di urungkan oleh pengawal yang melihat.


Dorr!


Lee dan juga Park langsung


memutar tubuhnya melihat kearah belakang. Di sana Helena sedang terkapar dengan lengan tangan yang berdarah, ya benar dugaan kalian pengawal itu menembak lengan Helena guna untuk menjatuhkan pisau yang gadis tidak tahu diri itu


genggam. Ternyata tadi Helena hanya sedang berpura-pura pingsan saja padahal yang terjadi, dia mengambil pisau buah yang sudah ia simpan di bagian dalam bajunya.


“Kau licik sekali,” teriak Park


emosi. Ia langsung melangkah mendekati Helena kemudian menendang bekas luka tempak di lengan tangan Helena dengan kencang sampai gadis itu meringis


kesakitan.


“Auch, sakit,” teriak Helena hendak memegangi tangan Park, namun yang tidak disangka-sangka Park menyambar pisau yang ada di lantai lalu melemparnya ke lengan tangan Helena yang lain. Park sangat ahli dalam hal itu itu semua terlihat jelas dari lemparan yang mengenai sasaran.


Seorang pengawal langsung mencabut pisau itu dengan kejam, Helena menjerit-jerit kesakitan. Park tertawa sinis melihat kedua lengan Helena bercucuran cairan pekat berwarna merah.


“Kau pantas mendapatkan lebih,


kedua orangtua kamu sudah di deportasi ke negara C. Tidak ada yang akan menolong kamu lagi,” ucap Park sembari membalikkan tubuhnya pergi.


"Aku akan membalas kalian semua," teriak Helena yang tidak terima akan hal itu.

__ADS_1


“Bawa dia ke penjara, dan tempatkan di ruangan para wanita sadis yang tidak memiliki hati, pastikan dia


di siksa setiap menitnya.” Lee membalikkan tubuhnya usai bicara. Ia mengandeng tangan Park keluar dari tempat ini.


“Jangan lakukan ini padaku, Park


tolong aku.” Dengan tidak tahu diri Helena berteriak, ia masih dalam pengaruh alkohol namun ia masih bisa mengingat semua yang terjadi dengan sangat jelas.


Rumah sakit.


Jhong sudah kembali ke ruangannya. Semua orang sudah memutuskan agar Emilia di pindahkan satu ruangan dengan Jhong supaya mereka bisa menjaga keduanya sekaligus. Narra, Una, Park sedang tertidur lelap di dalam kamar yang ada di ruangan VVIP ini, para wanita


itu pasti lelah menangis semalaman. Jhong, Jim dan juga Lee berada di dalam ruangan yang sama dengan Emil.


“Pa, Maafkan Lee karena tidak


bisa menjaga gadis kecil kesayangan, Papa itu,” tutur Lee dengan tatapan sendu.


Menepuk bahu Lee pelan, “Kamu


tidak salah, ini semua takdir.” Jim berkata bijak. Ia tahu dengan sangat jelas jika Lee juga merasakan sakit yang sama dengan dirinya.


agar dia lekas sembuh dan kembali bersama kita,” imbuh Jhong sembari menatap kearah Emilia yang tidak jauh dari ranjangnya.


“Benar apa yang di katakan oleh,


Papa Jhong uang dan juga tahta tidak bisa mengembalikannya ke dunia ini, kita harus berdoa setiap waktu untuk membantunya kembali kepada kita,” ucap Jim.


“Papa, benar.” Lee mengganggukkan


kepalanya setuju.


1 minggu setelah kejadian.


Mobil yang di kemudikan oleh Lee


memasuki gerbang utama kampus ini, sekarang dia sendiri yang akan mengantar jemput Park, sebab ia tidak ingin kejadian serupa di alami juga oleh adiknya ini. Seminggu belakangan ini Lee selalu menginap di rumah sakit untuk menjaga istrinya, ia bahkan belum pulang ke rumah sama sekali semenjak peristiwa naas


tersebut.


“Kak Lee, hati-hati di jalan,” ucap Park setelah ia turun dari dalam mobil.

__ADS_1


“Kamu juga hati-hati,” sahut Lee


dengan wajahnya yang datar.


"Aku akan menjaganya," ucap Alan yang tiba-tiba berdiri di samping Park.


"Jangan macam-macam dengan adikku, atau kau akan kehilangan nyawamu," ancam Lee dengan tatapan menghunus tajam kearah Alan.


"Aku tidak akan melakukan hal bodo itu," sahut Alan cepat.


"Hati-hati di jalan, Kak Lee," sahut Park.


Hati Lee benar-benar sakit sekali ketika senyuman manis sang istri terlintas di benaknya. Emil selalu saja tersenyum manis dengan wajah yang mengemaskan ketika istri kecilnya itu berpamitan untuk kuliah, bahkan kecupan Emil seakan masih terasa di pipinya. Dada Lee terasa sesak sekarang seakan bayangan Emil menyerap semua oksigennya tanpa sisa.


Kampus.


"Bagiamana dengan keadaan, Emil?" tanya Alan.


"Dia masih sama, seperti putri tidur," sahut Park. Semenjak kejadian di rumah sakit ini kali pertama ia bertemu dengan Alan lagi.


"Alan, maafkan aku karena telah membohongi kamu mengenai status Emil yang sebagai kakak ipar ku," jelas Park dengan wajah kelihatan bersedih dan merasa bersalah.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku sejak awal sudah tahu." Alan pun menceritakan semuanya tentang apa yang ia dengar saat di rumah sakit.


"Aku senang jika kau memutuskan untuk berhenti mengejar kakak ipar ku itu, karena aku tidak akan me biarkan." Park berkata dengan sungguh-sungguh.


Mencubit kedua pipi Park sembari berkata, "Kalau begitu, biarkan aku saja yang mengejar kamu," ucapnya.


"Pergilah, jangan terus menggangu aku." Usai bicara Park langsung berlari menjauhi Alan atau pria itu akan tahu jika ia begitu mencintainya.


Sedangkan di tempat lain Helena sedang merasakan pedihnya hidup dari pada mati. Ia tidak pernah mendapatkan perilaku kasar dari orang lain sejak masih kecil tapi kini kenyataan hidupnya berbanding terbalik. Di dalam ruangan penjara ini semua wanita menatapnya dengan sinis, mereka semua tidak segan menampar, menjabat atau bahkan membenturkan kepala Helena ke dinding jika berani membuka mulutnya sedikit saja.


Seorang penjaga datang membawakan mereka makan malam.


"Tolong, keluarga aku dari tempat terkutuk ini," ucap Helena sembari memeluk kaki penjaga yang membawa makanan tadi.


Menjambak rambut Helena kasar sembari berkata, "Wanita menjijikkan seperti kamu pantas mendapatkannya." Pria itu lalu mengisyaratkan para wanita untuk menjauhkan Helena darinya.


"Kau tahu kesalahan terbesar kamu adalah menyakiti gadis baik seperti, Nona Emilia," seorang wanita setengah baya dengan tubuh gemuk melangkah mendekati Helena dengan tatapan tajamnya.


Kira-kira mau di apain Itu Helena? wanita paruh baya itu seperti begitu mengenal Emilia.

__ADS_1


__ADS_2