
Keringat Emil sudah bercucuran, mungkin bagi semua orang
mengerakkan kakinya untuk melangkah adalah hal yang mudah, tapi bagi Emil hal itu membutuhkan perjuangan yang sangat tidak mudah sekali. Keringat yang bercucuran di kening Emil menunjukkan betapa berat perjuangan yang harus ia
lakukan untuk bisa kembali berjalan lagi di atas kedua kakinya. Park tidak
hentinya memberikan semangat pada Emil sedangkan Una dan juga Narra terus mengandeng tangan Emil agar ia bisa percaya diri dalam melangkah.
Mereka semua percaya jika alat bantu yang Emil gunakan tidak akan berfungsi sebaik tangan keluarganya
yang memeganginya. Ya Una memegang tangan kanan Emil sedangkan Narra memegang
tangan kiri Emil. Lee berada di depan tersenyum pada sang istri seolah dari
senyuman itu ia meletakkan kepercayaan besar pada kekuatan kedua kaki istirnya agar bisa melangkah. Jhong dan juga Jim berdiri di belakang Emil untuk mencegah hal yang tidak di inginkan.
Semua dokter merasa heran melihat kekompakan kedua keluarga besar itu dan ini juga untuk pertama kalinya para dokter melihat keluarga besar
tidak saling menjatuhkan untuk merebut kekuasaan namun sebaliknya mereka malah terlihat bersatu membuat keluarga yang harmonis. Bahkan Park sengaja
memvideokan hal ini kemudian mengupdate nya ke media sosial. Tidak butuh waktu lama berita itu langsung menghebohkan jagat raya mereka semua mencari siapa sosok Emilia yang sedang mendapatkan perhatian dari semua orang.
“Aku bisa melakukannya, aku bisa,” teriak Emil dengan tersenyum girang ketika ia akhirnya bisa melangkah walaupun tertatih. Langkahnya masih mirip seperti bayi yang baru saja berlatih berjalan, ya kira-kira seperti itu gambarannya.
“Ini kemajuan yang sangat besar sekali, tekat Nona muda mengalahkan semuanya. Dan dukungan dari keluarga juga berdampak positif untuk
pembuluh kesehatannya, jika Nona muda sudah bisa berjalan kembali ia akan bisa pulang ke rumah namun harus sering melakukan control beberapa Minggu sekali,” ucap
dokter yang selama ini bertugas untuk menjaga Emilia.
“Terima kasih, Dokter,” sahut Jim dan juga Narra dengan senyuman terbit Lee dan juga yang lain sudah kembali ke ruangan mereka.
“Dokter, bagaimana dengan kondisi, Jhong?” tanya Jim pada sang dokter dengan harapan yang sama, ia ingin Jhong sembuh dan bisa pulang
dengan mereka semua.
“Kita semua masih menunggu hasil laporannya,” sahut sang
__ADS_1
dokter.
_ _ _
“Sayang, apakah kamu tidak ingin melihat wajah cantik kamu
itu di cermin?” tanya Una.
Menatap Park dengan mengerutkan keningnya, “Park, kelihatan sudah tua, tapi aku yakin wajahku masih cantik seperti sebelumnya namun aku
tidak ingin melihat cermin sebelum keluar dari rumah sakit ini,” sambung Emil asal bicara saja tentunya.
Hahaha kalian pasti sudah bisa menebak bagaimana wajah Park
saat ini setelah ia mendengarkan Emil mengatakan jika ia seperti orangtua.
Hidungnya kembang-kempis seperti banteng yang sudah masuk kedalam area latihan, kedua tanduk iblis seakan sudah muncul di kepala Park saat ini. Semua orang yang melihat akan hal itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Emil, kau benar-benar menyebalkan sekali,” gerutu Park dengan wajahnya yang penuh emosi.
tanya Emil.
“Tentu saja, tapi kau tetap menyebalkan,” sahut Park dengan
jujur dan hal itu spontan membuat tawa semua orang semakin pecah saja.
Park sedang marah tapi ia masih sempat menjawab pertanyaan
yang Emil berikan tadi.
Sekarang kebahagiaan kedua keluarga besar itu lengkap sudah. Kesedihan yang sempat singgah dalam waktu lama di hati masing-masing mulai berlarian dari hati mereka. Tidak ada tangis kesedihan yang ada hanya tangisan bahagia.
Malam hari.
Lee dan juga Emil berdua saja di dalam ruangan ini. Emil menjadikan tangan suaminya sebagai bantal sedangkan Lee tidak hentinya membelai kepala istrinya, semenjak Emil bangun dari koma Lee tidak pernah meninggalkannya barang satu detik saja, dia mengerjakan semua tugas kantor didalam, ruangan ini ia tidak ingin jauh dari istrinya tercinta. Lebih lagi Lee ingin memantau sendiri kondisi sang istri bukan karena ia tidak percaya dengan keluarganya hanya saja Emil sudah menjadi tanggung jawabnya, sudah seharusnya ia yang turun tangan sendiri untuk menjaga sang istri tercinta.
“Sayang, selama aku tidur apakah kamu pernah, melakukan hal
__ADS_1
seperti ini sama wanita lain.” Emil menunjukkan kedua tangan yang seperti saling mengecup satu sama lain. Ekspresi wajahnya terlihat sangat imut sekali, Lee tidak tahan ingin mencubitnya.
“Hahahah, mana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu, Sayang?” tanya Lee dengan tawa yang masih belum bisa ia hentikan. Ia bahkan menyentil pelan jidat sang istri karena gemas sekali, selama tertidur tiga tahun lamanya ternyata wanita ini masih tidak berubah mengemaskan dan begitu membuatnya selalu merindu.
Mencubit keras dada bidang suaminya, “Sayang, aku berbicara
dengan serius,” ucap Emil sembari mengerutkan keningnya karena kesal ia hendak beranjak menjauh dari suaminya namun Lee tentu saja tidak mengijinkan hal itu.
“Aku tidak mungkin menghindari kamu,” ucap Lee sembari mengecup gemas pipi sang istri andai saja ia tidak takut wanita itu kesakitan
pasti sudah akan dia gigit pipi sang istri seperti sedang memakan cake yang sangat nikmat sekali.
“Melihat suaminya dengan tatapan yang menyelidik, “Aku masih ingat dengan sangat jelas, jika kamu tidak bisa tidur sebelum melakukan itu,”
ucapnya sembari mengalihkan pandangan kearah lain karena malu jika harus menjelaskannya lebih detail lagi.
“Itu apa?” tanya Lee yang semakin ingin menggoda istrinya itu.
“Itu loh, manjat gunung.” Tawa Lee pecah seketika saat ia mendengarkan istilah ‘naik gunung’ seperti apa yang di katakan istrinya tadi. Bahkan ekspresi wajah Emil ketika mengatakan hal itu membuat Lee semakin tertawa terpingkal-pingkal.
Tanpa mereka berdua sadar jika Una, Narra dan juga Park melihat keduanya dari pintu yang sengaja mereka buka sedikit. Ketiganya berpelukan sembari menangis sangking bagiannya. Semua orang tahu bagaimana Lee menjaga Emil saat masih koma, dan tidak hentinya mereka mengucap rasa syukur pada yang, Tuhan. Una menutup pintu ruangan itu agar tidak mengganggu keduanya.
“Kau dapatkan istilah itu dari mana?” tanya Lee yang malah semakin ingin membuat istrinya salah tingkah.
“Kau jangan pura-pura tidak tahu.” Sembur Emil yang sudah mulai sadar jika suaminya itu sedang menggodanya.
Memeluk istrinya semakin erat, “Jangan marah lagi,” ucapnya
pada sang istri. “tentu saja aku melakukannya pada kamu,” bohongnya lagi entah mengapa Lee ingin sekali melihat jawaban sang istri jika ia menggodanya seperti
ini.
“Kamu melakukannya saat aku koma?” tanya Emil dengan kedua
hidung yang sudah mengembang emosi.
“Aku harus menjinakkan ular kobra aku ini, jadi aku melakukannya pada istriku sendiri apakah itu salah?” tanya Lee balik.
__ADS_1