Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Helena Di Tolak Mentah


__ADS_3

"Sith! Bocah ingusan itu pasti sengaja melakukan semua ini." Lee menggengam erat setir mobilnya sampai kuku-kuku tangannya berubah menjadi pucat, rahangnya mulai berdenyut tanda jika dia sudah mulai terbakar api cemburu sekarang.


Tok ... tok ... tok!


Lee langsung mengalihkan pandangannya kearah kaca jendela setelah mendengar suara ketukan dari sana. Ia menarik salah satu alisnya ketika melihat gadis yang kemarin sempat memeluknya, siapa lagi jika bukan Helena orangnya. Lee membuka kaca spionnya lalu menatap Helena dengan datar tanpa berniat membuka mulutnya.


Dia tampan sekali, aku ingin memilikinya, "Kak Lee, pasti baru mengantarkan Emilia, ya?" tanya Helena berbasa-basi.


"Hem," menjawab malas.


"Kak Lee, ambilah makanan buatan Helena sendiri." Tentu saja Helena berbohong gadis yang suka berdandan dengan kutek yang selalu menempel rapi di setiap kukunya mana mau masuk kedalam dapur untuk mengotori tangannya hanya demi seorang pria.


Mengambil kotak yang berbentuk love dengan warna merah menyalah dan ada pita berwarna putih, "Ini untuk aku?" tanya Lee masih dengan wajah datarnya.


Tidak aku sangka, mudah sekali meluluhkan hatinya kelak aku harus sering datang lebih awak agar bisa bertemu dengannya, "Tentu saja itu khusus, Helena buat untuk, Kak Lee saja," sahutnya dengan tersenyum manis.


Memanggil Banu yang sedang berdiri dibelakang Helena dengan isyarat tangan, "Kak Lee, memanggil saya?" tanya Banu memperjelas. Lee mengganggukkan kepalanya satu kali.


Helena dan juga Lotie menatap satu sama lain sembari mengangkat kedua bahunya tidak mengerti. Setelah melihat isyarat mata Helena, Banu baru berani melangkah mendekati pria berwajah dingin namun memiliki kharisma yang bisa membuat semua orang meleleh seketika.


"Ini, kamu makan saja." Lee memberikan kotak berwarna merah menyala tersebut pada Banu.


Rahang Helena dan juga Lotie langsung jatuh karena terkejut melihatnya.


"Makanan ini diberikan, Helena untuk, Kak Lee, mana mungin Banu ambil," ucapnya dengan melirik Helena tidak enak hati.


"Aku tidak terbiasa makan-makanan yang tidak higienis seperti ini." Usai bicara Lee langsung menutup kembali kaca mobilnya dan dengan sekejap mobil itu langsung melesat meninggalkan ketiga gadis yang masih berdiri membeku shock dibuatnya.


"Dasar pria sombong, sok tampan, sok kaya," gerutu Helena sembari menghentak-hentakkan kakinya kasar seperti anak kecil yang baru saja di curi permennya.


Menepuk bahu Helena dua kali sebelum berbicara, "Tapi dia memang sangat tampan dan dia juga keluarga terpandang di negara ini," ucap Lotie membenarkan ucapan Helena.

__ADS_1


"Tutup mulut kamu itu." Bentak Helena. Ia merasa kesal sekali dan langsung meninggalkan kedua sahabatnya itu begitu saja.


_ _ _


Menarik tangannya kasar, "Alan, apa yang kamu lakukan? Kenapa kau menarik tanganku seperti ini?" tanya Emil dengan wajah memberengut. Entah mengapa ia merasa sikap Alan sedikit aneh hari ini.


"Jangan marah," ucap Alan. Ketika ia hendak membuka mulutnya untuk berbicara, tapi Park sudah melangkah mendekati mereka berdua.


"Ada apa ini? Kenapa dengan wajah kamu Emil?" tanya Park.


"Tidak ada apa-apa," sahut Emil dengan langsung masuk kedalam ruangan tersebut.


"Alan, ada apa?" tanya Park yang masih penasaran dengan wajah masam Emil di pagi hari, sebab tidak biasanya temannya itu memasang wajah jutek seperti itu.


"Aku tidak suka melihat, Emil memperhatikan kakak kamu seperti itu," jawab Alan dengan jujur.


Menghembuskan nafas pelan, "Kamu tidak boleh seperti itu, biarkan saja Emil melakukan apa yang ia inginkan," sahut Park dengan bijak.


"Aku begitu mencintai, Emil dan aku tidak suka jika ia melihat pria lain selain diriku." Setelah bicara Alan langsung pergi begitu saja meninggalkan Park yang masih shock dengan ucapannya barusan.


Ia bersandar di dinding dengan lemas, baru saja diajak terbang ke angkasa, tapi satu detik kemudian ia di jatuhkan lagi ke bumi, kristal bening sudah bertumpuk di manik matanya. Entah mengapa sulit sekali untuk mengendalikan perasaannya akhir-akhir ini.


_ _ _


Rumah sakit.


Narra dan juga Jim sudah berada di dalam ruangan Jhong. Terdengar suara gelak tawa renyah dari dalam ruangan itu. Mama Narra sedang menceritakan perihal Lee yang meminta pembalut padanya sampai anak menantunya itu juga pergi sendiri ke mini market untuk membelikan pembalut itu untuk putrinya. Tawa mereka semua pecah, Jhong bahkan bisa tertawa lepas sekarang, Una tersenyum bahagia melihat tawa suaminya, lelaki itu adalah lelaki paling tampan yang pernah ia temui.


"Aku sudah tidak sabar, menantikan pewaris utama kita hadir kedua ini," ucap Narra dengan sangat antusias sekali.


"Emil, masih kuliah dan masih sangat kecil untuk mengandung," sahut Una.

__ADS_1


Mereka semua terdiam seketika saat mengingat usia Emil yang terbilang sangat muda.


"Tidak masalah, apapun yang terjadi aku tetap berdoa, itu yang terbaik untuk kedua anak kita," sahut Jhong.


"Pa, kau pernah bilang jika kamu ingin sekali punya cucu," ucap Una. Suaminya sangat menginginkan cucu karena ia takut jika kelak tidak bisa melihat cucu pertamanya lahir dengan mata kepalanya sendiri.


Memegang tangan istrinya, "Aku memang sangat menginginkan, seorang cucu, tapi aku juga tidak ingin membahayakan anak menantu kita usia, Emil masih sangat muda sekali semua anak seusianya masih mencari jati diri mereka. Tapi Emil sudah menikah dan harus mengurus suaminya, ini sangat berat baginya dan aku juga takut kalau ia akan frustasi jika mengandung di usia muda seperti ini," jelas Jhong panjang lebar. Ia sudah menganggap Emil seperti anak kandungnya sendiri, lebih lagi usia Park dan juga Emil sama.


"Kau benar juga," sahut Jim sembari mengusap pelan dagunya dengan jari.


"Sudah jangan pikirkan masalah ini lagi, serahkan saja pada, Tuhan. dia akan mengatur semuanya untuk kita." Narra ikut menimpali.


_ _ _


Kampus.


"Emil, maafkan aku karena telah membuat kamu marah," ucap Alan sembari melangkah bersisian dengan Emil. Park hanya bisa diam mencoba biasa saja walaupun hatinya terasa sakit sekali jika melihat pria yang ia sukai malah mengejar kakak iparnya sendiri.


"Aku mau langsung pulang saja hari ini, aku sangat lelah sekali," sahut Emil yang masih marah dengan sikap Alan tadi pagi.


"Aku janji, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi" Alan merentangkan tangannya di hadapan Emil hingga mau tidak mau, gadis itu langsung menghentikan langkahnya mendadak.


"Kau janji tidak akan mengulanginya lagi?" tanya Emil.


"Aku janji," sahut Alan.


"Aku sudah di jemput, bisakah kau antarkan, Park ke rumah sakit biasanya?" pinta Emil.


Alan menoleh kearah belakangnya, ia melihat mobil pria yang tidak ia sukai sudah memenuhi manik matanya, "Aku ..." belum selesai Alan berbicara. Emil langsung memotong ucapannya dengan sengaja sebab ia tahu Alan pasti akan menolak.


"Terima kasih," ucapnya cepat. "Park, aku pulang dulu ya, kau jangan takut Alan pria yang sangat baik." Selesai bicara Emil langsung berlari menjauh.

__ADS_1


__ADS_2