
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Emil berjalan keluar dari kamar tanpa menoleh pada Lee yang sedang duduk disudut ranjang sembari menatapnya yang melenggang santai berjalan menuju pintu ruangan kamar ini.
“Jangan lihat aku terus! Nanti kamu bisa jatuh cinta,” ucap Emil secara spontan sembari menatap kearah Lee yang juga melihatnya.
“Mana mungkin aku suka dengan gadis bar-bar seperti kamu,” balas Lee cepat sembari menarik tubuhnya dari posisi duduk.
“Kita lihat saja nanti,” tukas Emil
dengan menutup pintu kamar tersebut.
“Aish, dasar gadis ini,” ucap Lee dengan tersenyum tipis dia merasakan perutnya seperti ada kupu-kupu yang begitu banyak
menari-nari didalam sana ketika mendengarkan kata-kata yang di ucapkan oleh istri kecilnya itu.
Selang beberapa waktu Emil sudah selesai membuatkan Lee sarapan dan juga kopi sesuai dengan pesanan suaminya tadi. Emil
menyeka keringat di jidatnya kemudian berjalan keluar dari dapur ketika dia hendak keluar dari dapur disaat yang bersamaan Lee berjalan hendak masuk kedalam dapur hingga membuat Emil menabrak tubuh kekar suaminya itu tanpa disengaja.
“Duch, kalau jalan lihat-lihat dong,” ucap Emil dengan mundur dua langkah kebelakang. Dia menatap Lee dengan bengis seperti sudah siap jika diajak ribut.
“Malah nyalahin orang, kamu sendiri juga jalan nggak pakai mata!” balas Lee tidak mau kalah sengit.
“Sudah, aku tidak mau berdebat, minggir sana,” ucap Emil sembari menjauhkan Lee dari pintu dapur ini hingga minggir ke tembok.
Lee tersenyum evil sepertinya dia memiliki cara lagi untuk membuat istrinya itu semakin marah kepadanya, sedangkan Emilia
sudah siap berjalan dengan bibir yang masih komat-kamit baca mantra.
“Apa kamu tidak mencium bau gosong?” tanya Lee kepada Emil yang sudah berjalan tiga langkah kedepan.
“Gosong,” batin Emil sembari menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Tanpa bicara dengan Lee ia langsung memutar tubuhnya dan berlari masuk kedalam dapur untuk melihat apa yang diucapkan oleh
suaminya tadi walaupun ia sudah merasa ada yang aneh sebab tadi ia ingat betul jika sudah mematikan kompor setelah selesai memasak. Tapi Emil tidak mau banyak
berpikir dia terus mempercepat langkahnya. Selang beberapa waktu Emil keluar dari dapur dengan wajah cemberut dan penuh amarah, bagaimana mungkin dia tidak
marah setelah melihat jika tidak ada kompor menyala bahkan Emil juga tidak mencium bau gosong dari dalam dapur ini.
“Apa kamu sudah menemukannya, aku tidak mau jika sampai rumah ini terbakar karena aroma itu,” ucap Lee sembari menyilang kan tangannya di dada dengan bahu bersandar di pintu dapur tersebut.
“Apa maksud dari ucapan kamu itu kak Lee? Aku sudah mematikan kompor dan aku juga tidak mencium bau yang kamu maksud itu,”
ucap Emil sembari memutar bola matanya malas.
Lee mendekati Emil dengan hidung yang terus mengendus persis seperti seekor anak anjing yang baru saja menemukan makanannya,
“Bau gosong itu ternyata dari tubuh kamu. Hahahaha pantas saja kamu tidak menciumnya,” ucap Lee dengan tertawa terbahak-bahak.
Mata Emil langsung membulat dengan begitu sempurna lalu memukul menginjak kaki Lee dengan begitu kencang, “Mampus kamu ya,
“Auch sakit, apa yang kamu lakukan sih?” ucap Lee dengan sedikit pincang karena merasakan kakinya yang nyeri setelah di injak dua kali oleh Emil.
“Rasain itu, siapa suruh kamu mengatai aku, mulai besok aku tidak mau masak lagi.” Setelah berbicara Emil langsung berjalan menjauh dari suaminya tanpa perduli ucapan pria itu yang terus saja memanggil-manggil namanya.
“Dia lucu sekali, manis seperti gula
kapas,” ucap Lee dengan masih menatap punggung Emilia yang menaiki anak tangga dengan setengah berlari.
Mobil.
Kini Emilia dan juga Lee sedang berada didalam mobil. Seperti biasanya tidak ada perbincangan diantara mereka berdua hingga suara Lee mulai terdengar membuyarkan suasana sunyi didalam mobil mewah
__ADS_1
ini.
“Kita pergi kerumah sakit dulu gimana?” tanya Lee dengan masih memusatkan pandangannya kearah jalanan.
Menatap jam tangannya sebelum bicara, “Boleh asalkan jangan lama-lama,” sahut Emil tanpa menoleh.
“Hem,” balas Lee.
Suasana didalam mobil mulai hening kembali, Emil sibuk menatap jalanan yang sedang dihuni oleh banyak debu karena angin
yang bertiup[ lebih kencang dari biasanya, tidak lama setelah itu ponsel Emil mulai berbunyi dan dengan lihai wanita itu langsung membuka resleting tasnya
dan memasukkan tangannya menjelajahi dalam tas tersebut setelah ponsel yang dia cari ada didalam gengaman tangannya ia segera mengeser tombol hijau saat tahu Alan yang sedang menghubunginya.
“Hallo Al,” ucapan Emil terhenti setelah dia melirik kearah Lee yang sedang menatapnya dengan mengerutkan keningnya.
Emil tahu jika pria itu pasti sedang merasa penasaran dengan siapa orang yang sedang menghubunginya ini.
“Hallo Emil, Apakah kamu sudah berangkat ke kampus?” tanya Alan dari sebrang sana.
“Aku sudah berangkat kenapa?” tanya Emil balik tanpa menyebutkan nama Alan.
“Aku mau menjemputmu dan mengajakmu berangkat bersama, kamu berangkat dengan siapa? Aku ingat jelas jika kamu tidak bisa mengendarai mobil,” tanya Alan. Terdengar helaan nafas kecewa ketika ia mengetahui gadis pujaan hatinya ini sudah berangkat ke kampus.
Menarik salah satu senyuman devilnya ketika melihat Lee yang sok-sokan sibuk mengemudi, “Aku diantar oleh tukang supir online, jadi kamu tidak usah khawatir,” jawab Emil.
Cletarrr! Seperti ada suara petir yang langsung memasuki gendang telinga Lee saat istri kecilnya itu menyebut dirinya dengan tukang supir online. Lee yang sedang memusatkan pandangannya kearah jalanan langsung menatap Emil dengan alis yang hampir menyatuh.
Jika dari sorot matanya jelas terlihat kalau Lee merasa terganggu disebut sebagai "supir taksi online."
kira-kira apa yang akan terjadi berikutnya ya. . .
__ADS_1
Nisa mau promosi ini harus di baca ya. judul novel "Married With My Enemy." di aplikasi Mangatoon ya nak-anak