Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Menganggu Saja.


__ADS_3

  Semua orang yang sedang ada di dalam ruangan Meeting sontak langsung menarik punggungnya kasar dari kursi, dan melihat apa yang terjadi di dalam layar lebar itu,    Sedangkan di dalam kamar Presdir Lee dia langsung melihat ke layar Laptopnya, Lee melihat jika semua orang yang sedang di dalam sana melihat kearahnya sembari memasang wajah penasaran dengan apa yang terjadi.  Asisten presdir Lee melotot kaget dan segera menutup laptopnya! Seketika layar lebar yang tadinya sedang memuat gambar presdir dari perusahaan itu langsung menghilang, kelihatan sekali semua orang yang ada di dalam ruangan meeting itu merasa kecewa.



Ya. . . kenapa di matikan padahal kami masih ingin menonton


adegan itu,  dan apa yang akan terjadi


selanjutnya! siapa gadis remaja itu yang sedang marah pada Presdir Lee?


Bukankan dia wanita yang datang dan sempat bertengkar dengan Sean tadi pagi.


Mungkin ini yang sedang di pikirkan oleh orang-orang di ruangan meeting itu.


Asisten Nam, nama dari asisten Presdir Lee. Pria itu    segera memutar kursinya dan menghadap semua


orang yang sedang ada di ruangan meeting dengan menyipitkan pandanganya. Semua


orang yang tadi sedang menunjukkan wajah kelihatan kecewa langsung memperbaiki


posisi duduknya dan menundukkan pandangan mereka takut.


“Rapat hari ini sampai di sini dulu.” Pria itu bicara dengan sorot mata tajam.



“Baik asisten Nam,” ucap salah seorang pria paruh baya sembari menarik tubuhnya dari kursi dan membungkukkan sedikit badanya hormat.



Semua orang ikut membungkukkan badanya dan berlalu keluar dari ruangan meeting dengan perasaan masih penasaran.



“Apa yang sedang terjadi tadi, kenapa bisa ceroboh sekali


wanita itu bicara dengan tidak sopan seperti itu di saat Tuan muda sedang melakukan


meeting,” ucap asisten Nam lirih sembari memijat-mijat pelan pelipisnya.


Ruangan Lee berada.


“Kau itu sudah menggangguku, lihatah ini aku sedang berkerja,” Lee bicara dengan langsung membungkam mulut Emilia yang sejak tadi mengucapkan mantra kutukan tanpa henti.



“Kau sedang berbohong padaku,” Emil melirik kearah laptop yang tadi masih memuat banyak orang dengan wajah antusias melihat apa yang terjadi berikutnya.  “kau  yang salah,” dengan enteng Emilia mengucapkan kata-kata itu dan melangkahkan kakinya hendak berlalu pergi begitu saja dengan memasang wajah tanpa rasa berdosa sedikitpun.



Tanpa banyak bicara Lee langsung menarik tubuh Emilia dan


melemparnya kasar ke atas ranjang, Lee mulai naik ke atas ranjang juga, Lee


melihat bibir Emilia yang merah seperti buah ceri dan hendak menciumnya namun yang


tidak di sangka-sangka malah seseorang membuka pintu ruangan itu. Emilia dan

__ADS_1


juga Lee menoleh kearah pintu yang terbuka setengahnya.


Park selamatkan aku dari pria buas ini yang mau melecehkan aku, aku mohon bawa aku pergi Bersamamu. Gumam Emilia dalam hati dengan memancarkan aura bahagia.



Gadis kecilku ini datang di saat yang tidak tepat, sana


pergi kau menganggu saja! Aku mau berikan pelajaran pada wanita ini agar kelak


lebih sopan jika berbicara. Gerutu Lee dalam hati sembari menatap kearah Park


dengan alis hampir menyatuh.


“Ma. . maaf aku sudah menganggu kalian ternyata, sudah sana


lakukan lagi kalian bebas di sini apapun itu aku tidak akan pernah membiarkan


semua orang menganggu kalian,” ucap Park dengan mengatupkan kedua tangannya di


depan wajah kemudian mengerdipkan matanya dan berlalu pergi, gadis itu juga


tidak lupa menutup pintunya kembali dengan rapat.


Hei Park apa yang kau bicarakan, aku ingin ikut denganmu, kembalilah


bantu aku lolos dari kakakmu ini. Dia benar-benar lelaki yang sangat


mengerikan. Gumam Emilia dalam hati, sebenarnya dia ingin sekali bicara namun


Lee menutup mulutnya dengan telapak tangan saat dia melihat Park masuk kedalam


Hahaha! Adikku ini ternyata sangat pintar dia bahkan tidak


mau menganggu dan pergi begitu saja. Gumam Lee dalam hati sembari menatap


kearah Emilia yang berada di bawah tubuhnya.  Lee melepaskan tangannya yang ada di bibir Emila perlahan. Emil menelan


salivahnya dan langsung memejamkan matanya takut dengan pikiran yang sedang


liar di dalam sana.


Cup! Lee mengecup pipi Emilia dengan sayang, kemudian


menyentil keningnya pelan. Mengetahui pipinya sudah tidak suci lagi


karena telah di cium oleh Lee, Emilia langsung marah, setelah pria itu tidak


menindih tubuhnya lagi, Emilia bangkit dengan kasar dari posisi tidurnya lalu


menajampak kedua matanya melihat kearah Lee yang sedang berdiri di hadapannya


hendak melangkah pergi setelah selesai memberikan hukuman pada istri kecilnya


itu.


“Hei kau berhenti, berani sekali kau menodai aku seperti

__ADS_1


ini, hukuman macam apa ini kau yang salah kenapa kau yang harus kehilangan


kesucian pipiku,” gerutu Emilia dengan darahnya seakan mendidih saat ini.


Lee menghentikan langkahnya dan menatap kearah Emili dengan


wajah datar tanpa dosa, “Aku suamimu!” ucap Lee singkat dengan menunjukkan


wajah penuh kemenangan.


Mengigit bibir bawahnya dengan keras, “Bukankah kita menikah


di atas kertas saja kenapa harus bilang seperti itu?” tandas Emilia dengan


emosi meledak-ledak.


“Kau tadi memejamkan mata karena mau aku melakukannya kan,”


goda Lee sembari menarik salah satu senyumanya.


Di luar ruangan itu.


Jantung Park sedang berdetak dengan sangat cepat seperti


terkena alat pemicu jantung, dia baru saja melihat kedua kakak iparnya


bermesraan seperti itu membuatnya khayalannya  naik ke langit ketujuh, Hahaha pikiran gadis remaja itu ternyata nakal


juga sama seperti apa yang di pikirkan oleh Emilia tadi. Una dan juga Jhong


bertanya pada Park kenapa dia kelihatan pucat setelah keluar dari ruangan Lee dan juga Emilia berasa.


Park menceritakan apa yang terjadi barusan di dalam kamar


itu, Una dan juga Jhong sangat bahagia mereka pasti sedang memikirkan hal yang


sama dengan Park saat ini. Bahkan Jhong juga bilang jika dia memiliki cucu


maka dia bisa hidup lebih lama lagi dan memiliki semangat hidup baru, mendengar apa


yang di ucapkan oleh Jhong, Una dan juga Park merasa sangat bahagia.


Lee keluar dari ruangan itu, Una, Park dan juga Jhong


menatapnya dengan mengerutkan kening heran bagaiman mungkin pria itu


melakukannya dengan sanagt cepat hanya hitungan menit saja. begitu juga sebaliknya Lee juga merasa


heran dengan tatapan semau orang itu padanya seakan seperti sedang menyelidiki


sesuatu hal.


"Pasti adikku ini yang sudah menceritakan hal yang macam-macam pada Papa dan juga Mama sehingga sekarang mereka menatapku seperti itu," gumam Lee dalam hati.



Emil berjalan di belakang Lee dengan wajah kelihatan merah padam menahan amarah di dalam hatinya.

__ADS_1



Una tidak menegur kedua anaknya itu, dia menyuruh Lee dan juga Emilia pulang untuk istirahat di rumah, awalnya Emil menolak namun Jhong berhasil membujuk Emilia, sehingga gadis remaja itu mengikuti perintahnya.


__ADS_2