Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Bicara.


__ADS_3

Jhong menatap mata Una yang masih basa dan bengkak, pria itu langsung menyatuhkan alisnya dan berhenti persisi di ruang depan rumahnya. Hati Jhong sangat sakit saat melihat air mata yang masih tertinggal si sudut mata istrinya itu. tangannya mulai terlihat mengepal dengan sangat kuat.


"Siapa orang yang sudah berani membuatmu menangis seperti ini?'' Bicara dengan wajah merah padam.


''Sudahlah jangan berlebihan,'' Sahut Una sembari membuang pandangannya.


''Apakah Jim orangnya?'' Bicara sembari tangannya memegangi dagu istrinya itu. saat mendengar nama Jim di sebut wanita itu tak bisa lagi menahan air matannya.


''Huhuhu hiks hiks hiks,'' Tangis Una tiba-tiba pecah karna dia tak bisa lagi menahan rasa bersalah yang semakin terasa sesak di dadanya bahkan tangisan wanita itu semakin lama, semakin menjadi-jadi. Jhong segera memeluk lembut tubuh istrinya yang sedang merasa gelisah.


Suasana haru tiba-tiba menyelimuti keduanya di saat mereka bahagia. Di luar sana ada satu orang yang sedang menderita karna mereka tak bisa bahagia dengan adanya satu orang yang sedang menderita di luar sana. Jhong melepaskan pelan pelukannya dia menatap bola mata istrinya yang basah dan air mata masih terus mengalir tanpa hentinya membuat hati pria itu seakan tersayat pisau tajam.


''Aku mohon sayang, jangan menangis lagi.'' Ucap Jhong sembari menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi istrinya itu bergantian. Namun air mata itu masih jatuh lagi-dan lagi sampai membuat mata Una bengkak karna sejak pagi dia sudah menitihkan air mata.

__ADS_1


Jhong duduk sembari memeluk Una di dalam ruang tamu rumahnya dan beberapa pelayan segera membawa nampan yang berisi banyak camilan untuk di suguhkan pada kedua orang itu. Sebenarnya para pelayan itu sangatlah kepho namun mereka tidak berani mengangkat pandangannya karna asisten Luwis sedang mengamati mereka dari kejauhan. Selesai menjalankan tugasnya para pelayan yang masih sangat muda dan cantik itu segera pergi dan masuk kembali ke dalam dapur.


30. Menit kemudian.


Una sekarang terlihat lebih tenang dari sebelumnya namun dia masih sesengukkan. wanita itu menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah Jim. Kini Jhong sudah mengerti akan kedatangan Istrinya itu ke rumahnya.


 


''Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, aku sudah menyakiti pria yang sangat baik sepertinya,'' Air mata kembali menetes di pipi Una.


''Ya, aku percya padamu.'' Mereka saling berpelukan.


''Sayang, apakah aku boleh mengetahui akan suatu hal?'' Ucap Una sembari masih bersandar di dada kekar suaminya itu.

__ADS_1


''Tentu saja, bicaralah sayang!'' Bicara sembari membelai lembut rambut Una.


''Setahuku kau sudah punya taman bermain yang sangatlah besar dan megah lalu untuk apa kau membangun taman bermain mini di luar taman rumah mu?'' Wanita itu bicara dengan menggangkat kepalanya ke arah suaminya.


Mengecup bibir Una dengan lembut sebelum bicara, ''Tentu saja itu untuk anak kita, kau akan pindah ke sini tidak lama lagi!'' Ucap Jhong sembari hendak mengecup bibir ranum istrinya untuk yang kedua kalinnya.


Menutup bibir suaminya dengan ketiga jarinnya, ''Apakah kau sudah tau jika Lee Nan adalah anak kandung mu?''


Melepaskan pelukannya pada Una karna sangat kaget akan apa yang baru saja dia dengar baruasan, ''Apa yang aku dengar barusan? Anak kecil yang semalam adalah putra kandung ku?''


Awalnya Jhong belum mengetahui akan kebenaran tersebut namun karna Una yang salah mengartikan akan ucapan Jhong tadi hingga tanpa wanita itu sadari sendiri dia malah mengunggkap akan kebenaran tersebut secara tidak sengaja. Karna Jhong memang sengaja tidak menyuruh asisten Luwis untuk menyelidiki akan siapa ayah kandung dari anak istrinya itu. Karna menurut Jhong siapa pun ayah anak tersebut tidak jadi masalah baginya karna yang terpenting ialah dia bisa hidup kembali bersama Hyouna untuk selamanya.


Berdiri dari posisi duduknya dan kini Una sedang berhadapan dengan suaminya itu, ''Ya, tujuh tahun yang lalu sebenarnya aku tidak mengalami keguguran. Dan Lee adalah anak kita, anak yang sempat kau khawatirkan saat aku dalam kondisi yang kritis.'' Jelas Una sembari menatap ke arah Jhong dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Terlihat senyuman bahagia yang terpancar dari bibir pria tersebut, dia sangat tidak menyangka jika Lee adalah anak kandungnya sendiri, ''Ayo!'' Ucap Jhong sembari memeluk Una perlahan dan melangkah mendekati pintu rumahnya.


Asisten Luwis yang mengetahui kemana majikannya itu akan pergi segera melangkah mendahuli Jhong dan masuk ke dalam mobil mewah yang berwarna black itu.


__ADS_2