
Emilia yang mengetahui Lee berada di hadapannya langsung melihat kenangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan
Alan, setelah sadar dengan apa yang ia lakukan Emil langsung melepaskan kasar tangan Alan yang sedang ia pegang tadi. Alan menatap Emil dan juga Lee secara bergantian seakan dia bingung melihat sikap Lee dan juga Emil yang terlihat aneh. Alan mengetahui dengan jelas jika Emil tidak memiliki kakak laki-laki karena Emil adalah anak tunggal.
“Kamu nakal sekali Nak, lihatlah itu singa jantan sudah siap mengoyak
tubuhmu,” batin Emil mencoba mengutuk kebodohannya sendiri. Lee masih menatap Alan dengan bengis seperti hewan buas yang baru saja mendapatkan buruannya.
“Emil siapa dia?” tanya Alan dengan menatap Emil sekilas namun satu detik kemudian ia mulai menatap kearah Lee. Kedua pria itu saling melihat dengan tatapan membunuh tidak ada satupun dari
mereka yang mau mengalah seolah mereka berdua sudah siap mengibarkan bendera perang.
“Dia sepupuku,” jawab Emil dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Mendengar ucapan Emil barusan Lee langsung melihat
Emil dengan tatapan tajam sampai membuat gadis itu langsung meneguk salivahnya yang terasa getir.
“Benarkah, kalau begitu aku akan meminta ijin padanya untuk membawa kamu jalan-jalan, karena aku tahu ia pasti datang ke kampus ini untuk menjemput kamu,” ucap Alan dengan polos. Alan tidak mengetahui jika Lee adalah suami dari gadis yang sangat dia cintai dan juga dia kagumi ini.
“Eh, aku berubah pikiran, kita jalan
kapan-kapan saja,” ucap Emil dengan mengusap keningnya yang sudah dibasahi oleh keringat dingin. “aku lupa jika aku sudah ada janji dengan kakak sepupuku ini,” bohong Emil.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu,” jawab Alan. “perkenalkan namaku Alan, aku adalah teman Emil dan sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya,” imbuh Alan dengan mencoba mengingat-ingat.
Lee masih menatap Alan tajam, tanpa perduli dengan uluran tangan Alan yang dibiarkan saja menggantung di udara, Emil yang melihat hal tersebut hendak
menjabat tangan Alan namun segera di hentikan oleh Lee. Lee menggenggam erat tangan Emil agar gadisnya itu tidak sampai bersentuhan dengan pria lain.
“Jangan sembarangan sentuh pria lain,” ucap Lee dengan nada suara penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
“Ba. . .baiklah, ayo kita pergi,” ucap
Emil. “Alan kami berdua ada urusan, kami balik duluan ya.” Lee mengajak Emil menjauh dari Alan yang masih menatap mereka berdua dengan mengerutkan keningnya.
Lee menggenggam tangan Emil dengan sangat kencang, Emil hendak menarik balik tangannya namun Lee tidak melepaskannya hingga mereka sudah tiba di mobil berwarna hitam mewah yang ada di parkiran. Lee membuka pintu untuk Emil dan dia langsung mendorong tubuh Emil
Dia menakutkan sekali jika seperti ini, apakah dia akan melakukan sesuatu padaku? Entahlah aku juga tidak tahu namun aku ingin menghilang saja dari mobil ini tapi aku mana bisa melakukannya.
Emil hanya bisa diam dengan memainkan ponselnya untuk mengusir rasa takut yang saat ini sedang menyelimuti tubuhnya. Lee
masuk kedalam mobil setelah membanting pintu mobil tersebut dengan keras. Lee tidak tahu apa yang sedang dia rasakan namun melihat Emil dengan pria lain itu membuat hatinya terbakar. Dia tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh istrinya bahkan Lee juga mulai marah tanpa alasan saat melihat Emil
tersenyum pada pria lain selain dirinya. Ini sungguh tidak masuk akal tapi memang itu yang saat ini sedang dirasakan oleh Lee.
__ADS_1
_ _ _
Mobil yang di kemudikan oleh Lee sudah sampai di halaman rumahnya, tanpa di suruh Emil langsung keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah, Lee melihat Emil dari dalam mobil kemudian dia ikut turun dari dalam mobil untuk mengejar Emilia. Entah mengapa dia masih tidak bisa menurunkan emosinya jika
mengingat Emil memegang tangan pria lain dengan begitu intim bahkan diantara keduanya seperti tidak ada jarak. Hal itu sangat wajar mengingat Emil dan juga Alan adalah teman baik dan mereka juga seumuran.
“Aku harus cepat masuk kedalam kamar, jika aku sampai tertangkap olehnya entah aku mau diapakan,” gumam Emil sembari mempercepat langkah kakinya masuk kedalam rumah.
“Mau kemana kamu?” tanya Lee sembari memegangi lengan tangan Emil dengan erat.
“Auch sakit,” rintih Emil ketika Lee
memegangi lengannya dengan kasar. Lee yang mengetahui akan hal itu langsung melonggarkan cengkeramannya. Lee sungguh tidak bermaksud untuk melukai istri kecilnya ini hanya saja bayangan Alan dan juga Emil masih saja mengganggu pikirannya.
“Kamu kasar sekali, Selama ini aku tidak pernah diperlakukan kasar oleh kedua orangtuaku.” Emil tidak bisa membendung air matanya, hingga carian bening itu langsung meleleh di wajahnya. Emil adalah
anak kesayangan jadi dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orangtuanya pantas saja Emil langsung bersedih ketika Lee berbicara dengan nada suara tinggi dan juga menatapnya dengan penuh intimidasi.
Lee kamu harus sadar gadis yang kamu nikahi ini masih remaja dan dia juga masih belum siap menjalani hubungan pernikahan dan sikapmu yang seperti ini bisa membuat Emil takut dan juga kurang nyaman. Emil bisa bersikap bar-bar namun di lain waktu dia juga bisa merasakan takut yang berlebihan ketika melihat sikap Lee yang seperti ini. Itu sangat wajar sekali karena Emil selama ini selalu di manja dan juga di sayangi orangtuanya hingga dia tidak siap dengan sikap Lee yang dingin seperti sekarang.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” ucap Lee dengan hendak mengusap air mata di kedua pipi istri kecilnya tersebut namun segera di tepis oleh Emil pelan.
__ADS_1
“Sejak awal kamu memang jahat, aku akan kembali saja tinggal bersama kedua orangtuaku,” ucap Emil sembari masuk kedalam
kamarnya.