Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Mama Una Menggangu


__ADS_3

“Kamu jangan kemana-mana,” ucap Lee sembari melirik Emil yang masih berada disampingnya.


“Aku akan mengajak, Park untuk membeli camilan di dekat kantor ini,” ucap Emil kemudian. Ia harus meminta ijin pada suaminya, karena


tidak ingin suaminya itu cemas mencari keberadaanya. Sejak Emil keluar dari rumah sakit ia tidak pernah keluar rumah sebab suaminya itu tidak ingin terjadi apa-apa padanya.


“Kalau begitu, kamu akan di jaga oleh pengawal yang telah aku siapkan,” ucap Lee. Ia begitu posesif karena sangat menyayangi istrinya ini.


“Baiklah, terserah kamu saja,” sahut Emil yang tahu dengan sangat jelas kekhawatiran suaminya itu.


Asisten Luwis membukakan pintu ruangan kantor Park dengan sedikit membungkukkan badan, Lee menyuruh istrinya itu masuk lebih dulu dan hal tersebut membuat semua wanita yang melihatnya merasa iri sekali, Bagaimana bisa


pria yang di kenal angkuh dan juga cuek sekali dengan wanita bisa melakukan hal romantis seperti itu. Semua wanita juga harus mengubur impiannya dalam-dalam karena mereka berharap bisa mengantikan posisi Emil di hati CEO mereka yang


sangat tampan dan penuh pesona itu.


Park duduk bersandar di meja kerjanya sembari memainkan


ponselnya, ia pasti sedang berkirim pesan dengan Alan-kekasihnya semua itu bisa di tebak oleh Lee dan juga Emil dengan sangat mudah jika melihat Ekspresi wajahnya yang tersenyum-senyum sendiri dengan masih memusatkan pandangannya ke layar ponsel seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.


“Begini kerjaan kamu ketika di kantor.” Sembur Lee yang tentu saja bercanda karena ia tahu jika adiknya itu tidak pernah melalaikan pekerjaanya.


“Jangan asal tuduh, lihat ini semua pekerjaanku sudah selesai,” ucap Park yang menunjuk berkas di atas mejanya.


“Park, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Emil sembari mengandeng tangan Park agar segera berdiri dari posisi duduknya.


“Ayo,” sahut Park kemudian dengan memegang lengan kakak iparnya itu.


“Park, aku siapkan dua pengawal untuk menjaga kalian berdua,” ucapan Lee yang terdengar seperti sebuah perintah untuk adiknya.


“Iya,” sahut Emil yang tidak ingin berdebat dengan sang kakak.


Setelah berbicara Lee keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan meeting. Sedangkan Emil dan juga Park melangkah berlawanan arah.


Beberapa hari kemudian.


Semua orang sedang sibuk menyiapkan barang-barang yang akan


mereka bawa ke negara B. Kalian masih ingat bukan jika Lee dan juga Emil akan melangsungkan resepsi pernikahan di negara tersebut.

__ADS_1


Emil sibuk menyiapkan baju yang akan di bawah oleh suaminya, sedangkan Lee sendiri sibuk memusatkan perhatiannya pada layar monitor di hadapannya. Ia harus menyelesaikan pekerjaanya sebelum berangkat ke negara B. Ya walupun di dalam perusahaan itu ada asisten Luwis yang akan membantunya


menyelesaikan pekerjaan itu namun Lee tidak mau terlalu bergantung pada asistennya tersebut.


“Sayang, kamu tidak usah sibuk membawa baju yang nantinya


akan aku kenakan,” ucap Lee sembari memeluk pinggang istrinya itu. Ia mengecup pipi istrinya sekilas.


“Apakah kamu akan membeli baju di sana?” pertanyaan yang Emil lontarkan lebih mirip seperti semburan telak karena hal itu adalah


pemborosan sedangkan beberapa hari yang lalu suaminya baru saja membeli baju baru dan harganya pastilah tidak murah jika mengingat siapa mereka di dalam negara A ini.


“Jangan menatapku seperti itu,” mengecup bibir Emil sekilas.


“kalau begitu aku akan membantu kamu menyiapkan baju ganti untuk malam pengantin kita,” ucap Lee yang tentu saja ingin menggoda istrinya.


“Kamu mesum sekali, Sayang yang ada di dalam otak kamu hanya


itu saja, dan hal itu membuat aku kesal sekali,” celetuk Emil sembari mengigit bibir bagian bawah suaminya itu dengan gemas.


“Auch,” rintih Lee yang merasakan bibirnya terasa nyeri akhibat sikap bar-bar istrinya.


Lee langsung mengendong istrinya kemudian membawanya ke atas


ranjang, ia tidak tidak perduli dengan bibir istrinya yang terus melontarkan


kata-kata makian agar ia segera melepaskan istrinya dan membiarkan wanita itu melanjutkan lagi mengemas bajunya. Tapi lee tidak perduli ia malah mengecup bibir istrinya untuk menutup mulut wanita itu agar tidak kembali meminta di


lepaskan hingga suara pintu yang terbuka mulai membuyarkan aktifitas mereka berdua itu.


“Apa yang kalian lakukan, tidak lekas berkemas malah sibuk bermain di atas ranjang,” ucap Una yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.


Emil yang malu langsung menjatuhkan suaminya ke samping


ranjang dan ia sendiri segera bangkit dari atas ranjang kemudian membenarkan rambutnya yang acak-acakan, untung saja tadi mereka tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi kalau sampai itu terjadi mau di taruh, di mana wajah Emil saat ini.


“Mama, tidak sopan sekali kenapa masuk kedalam kamar tidak


mengetuk pintu terlebih dahulu,” gerutu Lee yang tidak habis pikir dengan sikap perempuan yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


“Biar, Mama bantu kalian kurang satu jam lagi kita akan berangkat. Tapi masih belum beres juga,” gerutu Una dengan memberikan tatapan tajam kearah putranya itu.


“Ma, biarkan Emil saja yang melakukannya,” pinta Emil pada


Una dengan tersenyum canggung.


Menatap kearah Emil dengan tersenyum, “Biar, Mama saja, kamu


siapkan keperluan kamu sendiri saja,” pinta Una.


“Emil tidak membawa apapun, Ma karena di sana banyak sekali


baju Emil,” jelasnya kemudian. Ia ke rumah suaminya waktu awal menikah hanya membawa sedikit baju sana, dan Emil juga sangat yakin jika Narra akan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamarnya walaupun sudah tidak di tempati lagi.


“Kalau begitu kamu ganti baju dan bersiap-siap saja,” pinta Una kemudian. Kalau ia membiarkan anaknya itu berdua bisa-bisa


keberangkatan mereka tertunda.


Lee memutar kedua bola matanya malas melihat sang mama yang


tidak mau keluar dari ruangan kamar ini, tapi mau bagaimana lagi ia harus


mengalah dari pada terjadi perang dunia di dalam ruangan kamar ini. Lee selalu menghindari sikap Una yang memarahinya karena jika sampai wanita yang telah melahirkannya itu sudah marah akan sangat sulit untuk bisa ia hadapi.


1 Jam kemudian.


“Emil, apakah ponsel dan semua barang yang kamu butuhkan tidak ada yang tertinggal?” tanya Una mengingatkan mereka sebelum masuk kedalam mobil.


“Tidak, Ma.”


“Baiklah kita berangkat sekarang.” Jim ikut menimpali ucapan.istrinya itu.


Semua orang berangkat menuju ke bandara, mereka semua mengunakan pesawat pribadi. Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan semua


orang akhirnya sampai juga di bandara negara B. Di sana Narra


dan juga Jim sudah menunggu mereka, keduanya membawa banyak pengawal untuk mengamankan situasi karena takut jika ada musuh yang berusaha menyerang mereka


karena kedua keluarga besar itu pastilah memiliki banyak musuh yang iri pada kesuksesan dan kejaan mereka hingga menghalalkan segala macam cara.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel Hallo Musuh ya. Novel itu akan terbit dan bisa kalian baca di Watt...Pat


__ADS_2